Diposkan pada pameran buku, Tak Berkategori

Kunjungi, Ribuan Buku Bagus Yang Berdiskon Ada di Bazar UGM Press !

IMG-20180829-WA0036
Antusias pengunjung saat mengunjungi Bazar Buku UGM Press.                      Foto: UGM Press

 

Selamat datang mahasiswa baru di kota pendidikan,Yogyakarta !

Sembari menikmati suasana baru sebagai mahasiswa, tak ada salahnya mulai membiasakan diri dengan membaca buku-buku  yang pastinya berkualitas bagus. Salah satu tempat untuk mendapat buku tersebut yakni Bazar Buku oleh UGM Press.

Bazar ini berlokasi di Jalan Grafika no 1 Kampus UGM (Timur Fakultas Teknik), akan hadir terus dari tanggal 28 Agustus hingga  8 September 2018. Setiap harinya, kecuali hari Minggu, Bazar dibuka pada pukul 08.30-16.00 WIB.

Manajer UGM Press , Dr I wayan Mustika  menginfokan bahwa terdapat ribuan buku yang berdiskon mulai dari 30%. Untuk beberapa buku , telah dikemas dengan sistem paket minmal pembelian agar mendapat lebih diskon.

IMG-20180829-WA0034
Tenda Biru, Sediakan buku berharga terjangkau.                                   Foto : UGM Press

Selain itu, ada tempat menarik lainnya yakni Tenda Biru. Di tempat tersebut, buku-buku yang dijual mulai dengan harga Rp.5.000,-Rp. 15.000,-

Mau tahu lebih banyak tentang UGM Press, kunjungi @ugmpress atau ugmpress.ugm.ac.id (*)

 

Iklan
Diposkan pada novel, Woman and The Book

Maria Rostanti :” Yang Tak Terlupakan adalah..”

IMG-20180820-WA0008
@maria_rostanti                                                                                      photo by adhitya Christanto

Bertemu seseorang yang spesial dimasa lalu biasanya membawa rasa kaget. Rasa ini kemudian diikuti rasa berikutnya: senang, galau, sedih ataupun antipati. Masing-masing rasa menggambarkan sesuatu yang pernah terjadi sebelum perpisahan terjadi. Jejak rasa. Sebuah jejak yang terjadi di masa lalu.

Inilah bagian awal untuk menarik kisah yang ada di novel ini, Yang Tak Terlupakan (Forgiven But Not Forgotten) karya Abby Green yang dialihbahasakan oleh Ambhita Dhyaningrum.

” Siena Depiero dan Andreas Xinakis menjadi dua tokoh sentral di novel ini.Sebuah kisah buruk terjadi diantara Siena, orang tua Siena dan Andreas pada kali terakhir mereka bersama yang membuat Andreas pergi membawa dendam,” kata Maria Rostanti.

Menurut Maria, panggilan akrab perempuan berambut panjang ini, cerita ini kuat dari sisi eksplorasi histori sejak peristiwa buruk itu dan menjadi sumber terjadinya hubungan kembali antara Siena dan Andreas.

Andreas yang telah sukses menjadi pengusaha hotel  ternyata masih memendam sumpahnya untuk menyelesaikan dendam dimasa lalu. Itu yang ia lakukan setelah perjumpaannya kembali dengan Siena. Andreas menguasai Siena. Dalam sebuah rasa sesal atas kejadian buruk itu di masa lalu, Siena bersikap menerima perlakukan Andreas.

maria
“Masing-masing rasa menggambarkan sesuatu yang pernah terjadi sebelum perpisahan terjadi. Jejak rasa. Sebuah jejak yang terjadi di masa lalu.” (Maria,2018)                                                                                                                                                                                      photo by : Adhitya Christanto

 

“Pembalasan tidak selalu berwujud kekerasan fisik,” kata Maria. Pada novel ini, dialog yang didominasi Andreas dan Siena menggambarkan tentang pembalasan, namun bukan bukan kekerasan fisik.

Melalui dialog itulah terungkap kebenaran-kebenaran dari terjadinya dendam, Ini yang membuat dendam berangsur berganti menyisakan rasa jujur.

Lalu siapakah yang akan baper jika membaca novel ini, Maria?

” Orang yang sedang atau pernah bertemu dengan seseorang spesial, saya yakin, bisa memahami cerita ini, atau malah jadi  baper,” katanya sambil tersenyum.

 

Judul Buku : Forgiven But Not Forgotten
Penulis : Abby Green
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Halaman : 284

Diposkan pada manajemen, Woman and The Book

Astri Wulandari : “Si Bijak Bestari Sebenarnya Ada dimana-mana..”

astri 2

Pernahkah kita bertemu dengan orang yang degan semangat bercerita kepada kita tentang satu ataupun banyak hal? Tak semata bercerita bahkan mereka memberi informasi yang runtut dan memiliki dasar referensi yang bagus? Terakhir, orang tersebut tidak meminta balasan apapun dari kita atas semua informasi  yang  ia sampaikan?

Bagi kelompok  orang khususnya yang dalam pekerjaannya bertemu dengan banyak orang, kemungkinan besar telah bertemu dengan sosok seperti diatas.

Dalam buku ini, The Tipping Point, tulisan Malcolm Gladwell, sosok ini disebut Maven atau Bijak Bestari.  “ Si Bijak Bestari sebenarnya ada di mana-mana walau tidak semua orang menjadi si Bijak Bestari. Mereka orang yang memiliki motivasi untuk memberi informasi kepada orang lain. Mereka bercerita banyak tanpa bermaksud membujuk dan mereka tidak menuntut suatu balas jasa,” kata Astri Wulandari.

Si Bijak Bestari merupakan salah satu kelompok  tokoh dari 2 lainnya yakni Penghubung  (Connectors) dan Penjaja (Salesmen) yang ditulis oleh Gladwell sebagai orang-orang yang mampu membuat sesuatu hal (produk, gagasan, dan perilaku)  menjadi Tipping Point.

Dua kata ini, Tipping Point, secara singkat bisa dijelaskan sebagai sesuatu yang menular yang menjangkiti banyak pihak dimanapun untuk menerima sebuah gagasan, merasakan sebuah produk, dan mengikuti sebuah perilaku. Saat orang lain atau masyarakat menerima hal tersebut maka terjadilah epidemi sosial.

campur2
“ Bukan hal yang mustahil, gagasan kecil, produk yang sepertinya kurang bagus kualitasnya , ataupun perilaku kita akan bisa membawa perubahan yang besar kepada orang lain atau masyarakat setelah mengetahui dan memahami pemikiran Gladwell ini,” ujarnya.

Salah satu contoh yang ada di buku ini adalah apa yang terjadi pada Hush Puupies, sebuah sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dari karet mentah buatan Amerika Serikat tiba-tiba muncul kembali dan disukai oleh banyak orang. Pemesanan sepatu ini melonjak. Produsen sepatu ini pun mengaku kaget bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Oleh karena penelitian, epidemi ini bisa dipahami dan dipelajari.

Astri menyetujui bila  sebuah epidemi sosial memang bisa dibedah untuk disimak mengapa itu bisa terjadi. Epidemi tidaklah kebetulan begitu saja. Ada kaidah-kaidah yang terjadi agar sesuatu  menjadi epidemi. Gladwell menerangkan di buku ini dengan jelas. Terdapat 3 kaidah yang membantu kita memahami mengapa itu terjadi yakni : Hukum tetang yang sedikit,Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks.

“ Bagi orang yang berkecimpung dalam bidang sosial kemasyarakatan, penelitian  sosial, dan bisnis saya pikir  membutuhkan pelajaran dari buku ini untuk membantu pemahamannya ataupun karirnya,”kata  Dosen jurusan Ilmu Komunikasi di sebuah perguruan tinggi. Apalagi, kemunculan –kemunculan suatu tren yang bisa membawa dampak baik dan buruk  saat ini yang menjangkiti masyarakat bisa muncul dan berlalu dengan cepat karena diganti oleh lainnya. “Oleh karena itu, perlu alat bantu untuk menganalis bagaimana itu bisa terjadi,” katanya lagi.

Tulisan Gladwell mudah dipahami isinya  karena banyak menyajikan kasus-kasus yang dikaji dari hasil penelitian.  Bahkan tulisan Galdwell sebenarnya menginspirasi 2 buku lain yang tyakni Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain ( tulisan dari Chip Heath & Dan Heath) dan  Contagious : Mata Uang Sosial, Pemicu,Emosi, Umum, Nilai Praktis dan  Cerita (Jonah Berger) . Semuanya adalah jenis buku Best Seller.

Noviantika Widyayanti :”Membuat Gagasan Kita Melekat Lebih Penting Dari …..”

Maulitina Asepti Budi Rahayu : “ Enam Prinsip Ini Akan Membantu Sebuah Informasi Menjadi Viral..”

“ Bukan hal yang mustahil, gagasan kecil, produk yang sepertinya kurang bagus kualitasnya , ataupun perilaku kita akan bisa membawa perubahan yang besar kepada orang lain atau masyarakat setelah mengetahui setelah memahami pemikiran Gladwell ini,” ujarnya.

IMG20180726141208

Judul Buku                                     : The Tipping Point

                                                         How Little Things Can Make a Big Difference

Penulis                                           : Malcolm Gladwell

Penerbit                                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah                                  : Alex Tri Kantjono Widodo

Hak Cipta Terjemahan Indonesia:  PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman                                           : xxiii+326

Cetakan kesebelas                        : Mei 2018