Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Silvia Rina Primasari : “ Suatu hari,bunga yang cantik pasti mekar.”

@silviarinap

Itu sebuah kutipan indah yang dipilih oleh Silvia Rina Primasari. Perempuan yang akrab dipanggil Silvi ini mendapati kutipan  tadi  dari kisah Hans Christian  Andersen, seorang penulis dongeng kenamaan (2 April 1805-4 Agutus 1875). Hans Christian Andersen memiliki seorang ibu yang bernama Anne Marie. Sang Ibu adalah sosok yang selalu mempercayai bahwa Andersen kecil adalah  anak yang istimewa.

Andersen adalah anak yang suka berimajinasi kemudian menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Saat ia menunjukkan hasil tulisannya kepada para ahli, mereka memberikan pendapat yang meruntuhkan moral Andersen. Saat-saat seperti itulah Anne Marie tetap membuktikan keyakinannya  bahwa Andersen adalah anak yang istimewa dan membangun rasa percaya diri anaknya.

“ Ini hanya satu cerita saja di buku ini,” kata Silvi. Ia menujukkan buku yang sampulnya didominasi warna putih.  Buku yang berjudul It’s Okay, You’re Just Different ini ditulis oleh  Kim Doo Eung. Silvi menambahkan bahwa buku ini menyanjung peran ibu yang memang memiliki peran besar dalam kesuksesan orang-orang hebat seperti Albert Einstein, Bill Gates, Nelson Mandela, Nehru dll. “Biasanya,orang-orang besar ini yang lebih sering kita ketahui prestasinya. Namun sangat sedikit kita tahu tentang peran ibu mereka,” jelas Silvi.

“Ibu adalah sosok yang hebat karena dari merekalah orang-orang akan menjadi hebat,” (Silvi,2018)

https://resensibukupilihan.com/2016/12/19/anak-terlambat-bicara-jangan-diratapi-melainkan-dampingi/

Suatu saat iamengajak Andersen yang sedang galau ke sebuah kebun bunganya. Ia menuturkanbahwa Andersen layaknya tumbuhan kecil yang belum kelihatan indahnya. Namunoleh proses waktu, bunga tersebut akan mekar dan menujukkan kecantikannya.Kata-kata seperti inilah yang menyemangati Andersen hingga di kemudian hari iamampu membuat cerita  yang dikenal duniaseperti  Putri Duyung dan Ratu Salju.

Dalam buku ini, kisah masing-masing ibu walaupun tidak sama persis kisahnya namun memiliki persamaan bahwa seorang ibu adalah orang yang paling memahami anaknya. Mereka  tetap teguh pendirian tentang anaknya saat mendapat cemoohan dan ketidakpercayaan dari  orang lainnya. Tutur kata dan sikapnya sangat membantu rasa tenang sang anak yang merasa mendapat sandaran.

“ Saya sudah baca . Buku ini terasa ringan  dibaca. Gaya bahasanya tidaklah rumit. Walau isi buku ini adalah terjemahan, namun terasa sederhana dan dekat di hati. Sehingga bukan saja inspirasi yang didapat, namun juga  menyegarkan kembali rasa hormat kepada ibu kita.” Kata Silvi lagi.

Judul Buku          : It’s Okay, You’re Just Different

Penulis                 : Kim Doo Eung

Penerjemah       : Amelia Burhan

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama, 2018

Iklan
Diposkan pada Woman and The Book

Antonia Meme : “ Tahun politik wajarlah terdengar berisik..,”

meme1
@niamemee

Tahun 2018 dan 2019 jelaslah menjadi tahun politik. Bukan saja pemilihan anggota DPR mulai dari tingkat kabupaten/kota  hingga pusat, pemilihan presiden juga bersamaan dilangsungkan.  Sebagian konsentrasi negara ini terisi oleh agenda pemilu tersebut.

“Banyak hal akan mudah dikaitkan dengan politik,” kata Antonia Meme.  Mahasiswi S2 jurusan Komunikasi di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Yogyakarta ini berpendapat bahwa keriuhan bernuansa politis baik di media cetak dan online  pasti terjadi.  Isu-isu dan gerakan-gerakan politik dari masing-masing pendukung berusaha mempertahankan “kebenaran” versi mereka dan menyalahkan” kebenaran” yang disuarakan lawan politiknya unuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Bukan saja oleh para politisi, masing-masing pendukung di tingkat terbawah juga bisa tergiring menyuarakan masing-masing klaim “kebenaran” tadi.  Khusus di media online, sebuah isu yang diangkat biasanya mendapatkan respon yang riuh dan berpotensi  terus membesar hingga  sampai ke tingkat berisik. “ Tahun politik wajarlah terdengar berisik..,” jelas Meme.

Secara pribadi, Meme  memiliki kekhawatiran terhadap  keberisikan itu. “ Isu dan gerakan yang  terjadi sedikit sekali mengajak kita berpikir kritis. Kita terjebak hanya isu-isu yang mungkin hanya sepotong-sepotong kita pahami seperti  #2019 ganti presiden, buzer,black campaign, politik kebohongan, hoax dll,” jelasnya.

Untuk itu, menurut Meme, perlulah kita undur sejenak dari hiruk pikuk saling berbalas antar pendukung. “ Kita harus luangkan waktu mencari informasi yang lebih mendalam. Salah satunya yakni melalui buku seperti ini,” katanya sambil menujukkan sebuah buku.

Padanya ada sebuah buku berjudul New Media & Komunikasi Politik (Teori Konstelasi Politik  dalam Ruang New Media) terbitan Mbidge press. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para penulis yang telah berkecimpung di dunia komunikasi politik.

IMG-20181014-WA0003Ada banyak tema menarik yang diangkat pada buku itu dan sesuai dengan waktu kini, seperti Buzzer di Media Sosial : Antara Marketing Politik dan Black Campaign dalam Pilkada (Christiany Juditha), Membaca Isu Pencalonan Presiden Menjelang Pilpres 2019 Melalui Meme Politik di Media Sosial (Rosalia Prismarini Nurdiarti), Diantara Belenggu Billik Gema, Bias Media&”Maha Benar” Netizen dengan Segala Postingannya (Arif Kusumawardhani) dan #Tagar, Ruang Publik&Identitas Kultural (Astri Wulandari).

Menurut Meme, buku ini bisa memberikan informasi yang mendalam bagi siapa saja yang tertarik dengan dunia komunikasi politik.  Buku ini merupakan hasil dari sebuah penelitian. Tentunya apa yang ditulis disini berdasar apa yang terjadi di lapangan dan dianalisa dengan teori yang pas sehingga menjadi informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

IMG20181110185154

Judul buku :

New Media & Komunikasi Politik (Telaah Konstestasi Politik dalm Ruang New Media)

Penulis :

Christiany Juditha,dkk

Editor :

Didik Haryadi Santoso

Penerbit:

Mbridge Press