Diposkan pada novel, Woman and The Book

Yedisihna Claire : “..memperjuangkan kejujuran hati..”

Salah satu yang menarik hati Yedishna Claire untuk membaca buku ini adalah tema sosial yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai penulis.  Bercerita tentang Kabul, seorang insinyur, yang mendapat tugas sebagai pelaksana sebuah proyek. Kabul adalah seorang aktifis semasa ia kuliah. Pengalaman keaktifisannya ini rupanya membekas dalam hatinya dan membuatnya menderita.  Pada pelaksanaan proyek yang ia pimpin di lapangan, ternyata ia tidak saja bersua dengan para pekerja dan masalah teknisnya.  Kabul harus menjumpai kenyataan bahwa partai politik dan politisi melirik proyeknya sebagai lumbung uang.

“ Kabul merasa bersalah karena ia tahu banyak kecurangan yang terjadi  namun merasa tak bisa membuat keadaan lebih baik,” kata Rere, panggilan akrab Yedishna Claire. Sesama aktifis saat kuliah yang menjadi kepala desa di wilayah proyeknya pun tak kuasa lepas dari ikatan partai politik. Lebih lagi,  Kabul harus berdiskusi alot dengan atasannya untuk memperhatikan kualitas bahan-bahan proyek yang terpaksa dipangkas mutunya .Namun jawaban yang ia dapat masih saja terkait dengan kepentingan orang-orang politik.

Saat tahu bahwa masyarakat sekitar ada yang terlibat kecurangan dengan orang-orang proyek, Kabul makin “mengerti” bahwa masyarakat telah menganggap kecurangan adalah hal biasa di proyek.  “ Mereka belajar dari para pejabat proyek,” kata gadis yang memiliki hobi renang dan nyanyi ini.

memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat
@yediisihnaclaire tentang Novel Orang Orang Proyek

Di puncak   rasa frustasinya, Kabul memilih untuk mundur dari pekerjaannya. Ia meninggalkan sebuah jabatan yang bagi banyak orang dianggap sebagai tempat “ basah” dan harapan bagus untuk kehidupan waktu mendatang. Menurut Rere, Kabul memperjuangkan kejujuran hatinya.

Pesan dari buku ini yakni memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat. Bagi Rere, konflik batin ini malah menjadi menjadi salah satu bagian yang menarik dari cerita ini. “Perjuangan sebagai  manusia yang idealis ternyata cukup berliku dan melelahkan,” ujarnya.

Bagi yang tertarik kisah-kisah bertema sosial, tulisan Ahmad Tohari patut dibaca.

Judul Buku          :Orang Orang Proyek

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama  

Cetakan               :Ke 4, Januari 2019

Halaman              : 256 halaman

Diposkan pada literasi

Saat menulis, perlukah kamus bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita. Setiap hari nyaris hidup kita sebagai orang Indonesia akan selalu bersinggungan dengan bahasa ini. Bisa kita cermati, sebagai contoh,  berita koran ataupun online,papan ataupun lembaran promosi dagang di jalan-jalan umumnya menggunakan  bahasa Indonesia.  Wajar saja jika kita  memiliki rasa “sudah terampil”  dan memahami bahasa Indonesia.

Namun bagaimana saat kita menulis?

Menulis adalah kegiatan kita menuangkan gagasan ke dalam susunan tulisan secara sistematis. Gagasan tersebut dituangkan menggunakan bahasa Indonesia.  Terlebih untuk kepentingan formal, ada baiknya kita tetap membuka-buka kamus bahasa Indonesia baik cetak maupun online walaupun kita merasa “sudah terampil” berbahasa Indonesia. Mengapa? Setidaknya 2 alasan di bawah ini harus diperhatikan.

  1. Terdapat kata-kata yang sudah menjadi baku

Kamus bahasa Indonesia menjadi tempat dimana kita menemukan rujukan penulisan kata-kata secara baku.  Khusus untuk hal yang bersifat formal, penulisan kata-kata baku wajib digunakan.  Sebagai contoh:   Manakah yang termasuk penulisan baku  kata praktik dan praktek?

Ternyata menurut kbbi.kemdikbud.go.id  , penulisan yang baku adalah praktik.

Sumber : https://kbbi.web.id/praktik-atau-praktek

2.Istilah asing

Kadang kita saat menulis, secara tidak sengaja, menggunakan istilah asing. Padahal istilah tersebut sebenarnya telah kita punyai padanannya. Ada baiknya, khususnya untuk kepentingan formal, kita menggunakan kata-kata dari bahasa Indonesia. Sebagai contoh : kata microphone (bahasa asing). Ternyata dalam bahasa Indonesia kita telah memiliki kata   pengeras suara atau pelantang.

Sumber : https://kbbi.kata.web.id/pengeras-suara/

Diposkan pada Tak Berkategori

Membaca buku berbahasa asing.. (pemula)

Jika kita sudah terbiasa membaca buku rujukan berbahasa Indonesia, mungkin akan merasakan “perjuangan” untuk terus membaca halaman demi halaman buku berbahasa asing.

Betapa tidak? 

Selain kita membutuhkan waktu membuka kamus cetak ataupun online, kita harus tekun mencermati susunan kata-kata asing agar tidak salah memahami arti yang dimaksud. Bisa jadi, kita menemukan kata atau kalimat asing yang dirasa belum pas saat dipahami menggunakan bahasa Indonesia. 

Walaupun begitu, terdapat manfaat besar saat kita bertekun membaca buku berbahasa asing terlebih sampai halaman akhir. Beberapa manfaat itu yakni:


1. Bertambahnya kosa kata asing. 

Sewaktu kita membuka kamus cetak ataupun online, pengertian baru dari sebuah kata asing bisa kita dapatkan.Ini berarti membantu kita menambah kosa kata bahasa asing yang kita kuasai. 


2. Mengerti maksud lebih cepat

Pemahaman pengertian sebuah kalimat ataupun paragraf berbahasa asing akan lebih cepat dibanding sebelumnya. Hal ini karena alokasi waktu kita bertekun selama  menemukan kata asing baru dan pengertiannya. Sadar atau tidak, kita telah belajar bahasa asing secara praktik. 


3. Menjadi ukuran kemampuan diri

Kadang kita memerlukan suatu alat ukur menilai kemampuan kita. Jika kita sudah menyelesaikan sebuah buku berbahasa asing, ini bisa menjadi ukuran kemampuan kita. Masalah yang kita hadapi telah meningkatkan pengalaman dan kemampuan berbahasa asing kita. 

https://resensibukupilihan.com/2017/12/21/ika-sari-rahmawati-hanyut-dalam-kisah-si-black-beauty/

Diposkan pada literasi

Sebelum membeli buku terjemahan…


Sebuah buku  mendapat predikat terlaris manakala ramai diperbincangkan  banyak orang melalui berbagai media dan tingkat keterjualannya termasuk tinggi.  Bila buku itu berbahasa asing, biasanya menjadi perhatian penerbit-penerbit lokal menimang kemungkinan mencetaknya untuk pasar lokal. Sebagai penikmat buku, bisa jadi kita tergoda untuk membelinya.

Nah, karena produk terjemahan, ada kemungkinan kita merasa terganggu dengan penulisannya,misal hasil terjemahannya terkesan berbelit-belit dan bias maknanya. Untuk mensiasati ketidakpuasan seperti ini,kita jangan terburu buru membelinya. Apa yang bisa kita lakukan? Berikut 2 tips sebelum membeli buku terjemahan,yakni:


1.Cari dulu testimoni atau pandangan-pandangan pembaca pada sumber-sumber online atau cetak terpercaya tentang buku tersebut. 

2.Carilah info seberapa sering penerbit yang bersangkutan memproduksi buku terjemahan. Semakin sering penerbit tersebut memproduksi buku terjemahan, besar kemungkinan produksinya telah mendapat kesan baik dari pembaca. 

Diposkan pada literasi

Manfaat buku yang bersumber dari penelitian

Saat mencari sumber rujukan untuk sebuah tulisan ataupun sekedar wawasan,pasti buku menjadi salah satu pilihannya.  Namun tentu saja tidak sekedar persamaan tema menjadi indikator kita memilih sebuah buku .  Ada baiknya, buku tersebut  bersumber dari penelitian.  Mengapa? Setidaknya ada beberapa alasan tercantum di bawah ini .

  1. Menampilkan  kasus

Buku yang bersumber dari penelitian tidak melulu menampilkan teori,namun studi  kasus-kasus yang membuat kita lebih paham. Terlebih jika  kasus-kasus ini didukung oleh data-data yang bisa dipertanggungjawabkan.

2. Rujukan berkualitas

Buku yang bersumber dari penelitian bisa menjadi rujukan yang berkualitas bagus saat dijadikan pembacanya untuk kepentingan penulisan atau pun wawasan.

3. Penyampaian tidak berbelit-belit

Buku yang bersumber dari penelitian biasanya penyampaian pemikirannya fokus atau tidak berbelit-belit mulai dari pertanyaan hingga penjelasannya. Ini membuat pembaca lebih mudah memahami alur pemikiran penulis.

Diposkan pada literasi

Apa Pentingnya membuat catatan saat membaca sebuah buku?

Saat sebuah buku sedang dibaca, maka pembaca sebenarnya sedang bertemu dengan hal menarik dan mungkin baru. Ada baiknya, kita segera membuat catatan atas temuan itu.Beberapa manfaat bisa didapat dari catatan itu, diantaranya :

1.Temuan ini bisa berwujud pertanyaan, ide , atau bentuk lainnya. Temuan ini tidak mesti tulisan yang menyetujui pendapat apa yang tersampaikan pada buku, namun bisa pula mempertanyakannya. Apapun itu, kita sebenarnya sedang berusaha memahami  pemikiran penulis dan  membangun persepsi kita sendiri.

2. Bila suatu saat kita  ingin membaca buku itu lagi namun terbatas waktu, catatan yang kita buat sedikit banyak membantu kita untuk  mendapatkan informasi yang kita butuhkan lebih cepat.

3. Khususnya bagi pembaca yang menyukai aktifitas menulis, kebiasaan mencatat seperti ini membantu memunculkan inspirasi tulisan baru.

Diposkan pada literasi, Tak Berkategori

Pentingnya kita membaca halaman Daftar Pustaka..

Saat kita membaca buku non fiksi seperti manajemen,psikologi, sosial,politik,  kadang kita abai dengan halaman-halaman daftar pustaka. Padahal, dari referensi ini kita, yang berminat pada tema buku yang kita baca,  bisa mendapat informasi yang sangat berguna.  

Setidaknya terdapat 3 manfaat disini, yakni :

  1. Kita mendapatkan informasi bahwa buku yang kita baca terkait dengan bahan-bahan yang tersaji pada daftar pustaka. Ini bisa dianggap upaya jujur dan kerendahan hati penulis bahwa apa yang ia tulis terbantu oleh sumber-sumber lain. Harapannya, jika kita menulis buku, kita juga bersikap jujur dan rendah hati terhadap karya kita dan orang lain.
  2. Jika kita ingin mendalami lebih lanjut tentang tema dari buku yang kita baca,  maka kita tinggal melihat daftar pustaka dan mencarinya baik melalui perpustakaan atau tempat-tempat lain misal sumber online.
  3. Bagi pembaca-pembaca yang tertarik dan sedang mencari ide  ataupun referensi lain  dengan tema besar yang sama, maka daftar pustaka  sangat membantu sebagai rujukan yang bermanfaat.
Diposkan pada pameran buku, Tak Berkategori

Launching dan Bedah Buku : Kata Bersama

gambar :@ugmpress

Salah satu buku terbitan UGM Press yakni Kata Bersama akan dilaunching pada tanggal 22 Agustus 2019. Buku ini, secara umum berkisar tentang teori dan aplikasi—mengangkat isu-isu seputar teologi komparatif Islam/Kristen dan pelbagai pandangan tentang bagaimana kedua pemeluk agama ini dalam menjawab tantangan global bersama semisal lingkungan, pembangunan, perempuan, dan hak asasi manusia.

Ingin ikut? Segera daftar.

Diposkan pada pameran buku, Tak Berkategori

“Silakan baca disini..!”

“Buku yang bagus adalah buku yang sudah dibaca”.

Begitulah salah satu kalimat yang mengingatkan kita untuk tidak php-in buku. Apalagi, buku yang pernah kita beli namun masih tergeletak bersih nan manis di rak buku. Jarang tersentuh. Buku yang telah kita miliki, wajiblah dibaca. Setidaknya kita pernah membacanya hingga habis.

Kalimat ini juga secara tidak langsung mengundang siapa saja yang lewat di salah satu sisi jalan Suroto Yogyakarta (samping Perpustakaan Kota Yogyakarta),untuk mampir dan membaca. Di samping loker ini, terdapat kursi cantik yang panjang. Cukup nyaman untuk duduk dan membuka-buka buku dan majalah yang tersedia.

Nama loker ini adalah POCAHONTAS (Pojok Baca Dibawah Pohon Trotoar Suroto) yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.

Ini program bagus. Tak ada salahnya jika melewati jalan Suroto mampir ke tempat ini.