Diposkan pada seni, Woman and The Book

Dyah Puspita NP : “ ..jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.”

Dyah Puspita NP
puisi  dan foto adalah ungkapan sebuah ekspresi yang dalam dan jujur @dyahpuspitanp (2018)

 

Bukan kebetulan jika perempuan cantik satu ini, Dyah Puspita NP,  memang gemar tentang puisi dan foto. Baginya, puisi dan foto adalah ungkapan sebuah ekspresi yang dalam dan jujur. “Tidak khawatir akan dicap apa-apa. Begitulah adanya,” katanya sambil membuka-buka sebuah buku yang telah berulang kali ia baca.

Buku yang covernya dominan warna hitam dan putih itu berjudul Tidak Ada New York Hari Ini. Buku ini puisinya ditulis oleh M Aan Mansyur.  Puisi ini tambah dihidupkan lagi oleh foto-foto karya dari Mo Riza. Lembar-lembar kertas saat dibuka, akan dijumpai puisi yang didampingi oleh foto. Kadang-kadang di beberapa lembar, hanya terdapat foto saja. Namun keberadaan foto ini sebenarnya membantu mengekspresikan puisi.

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

Untuk  orang-orang tertentu beranggapan bahwa foto adalah puisi lewat gambar. Tampilan gambar tersebut juga mampu bicara dengan menunjukkan ekspresi wajah, suasana, dan kesan yang pada akhirnya menumbuhkan persepsi.

Buku ini merupakan kumpulan puisi dan foto Rangga untuk film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2. Sebuah film yang mendapat sambutan luar biasa dari penonton Indonesia, terlebih yang pernah menonton dan terkesima oleh pesona AADC ysang pertama.

dyahpuspitanp 2
photo by Adhitya Christianto

“ Aku suka yang ini,”kata Puput, nama panggilan perempuan berzodiak Virgo ini sambil menunjukan sebuah halaman yang tertera sebuah judul Di Dekat Jendela Pesawat Terbang. Baginya puisi ini  selalu membawa ingatannya tentang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan. “ Rindu dan ikhlas yang harus dipaksakan berdampingan . Itu susah dan tidak mudah,” jelasnya.

Sepertinya disinilah kekuatan buku   yang telah mengalami beberapa kali cetakan ini. Puisi-puisi didalamnya bisa membawa seseorang kedalam kenangan yang sangat pribadi bahkan kadang terwakili. Tak harus pembaca segera menyelesaikannya semua puisi menjadi bacaanya ataupun menyukai semuanya. Cukup satu atau dua puisi yang memang menyentuh kalbu.

Asha Nuria Novitasari : “Yang Sedang Pedekate…”

Saat ditanya tentang kesannya tentang Rangga di film AADC, Puput menjawab bahwa ia menyukai sosok seperti Rangga yang suka baca buku apapun terutama puisi. “Setiap kalimat atau pernyataan yang dilontarkan ke Cinta (diperankan Dian Sastro)  jatuhnya dalem banget. Indah, tapi perlu mikir buat mencernanya,” tuturnya lagi .

 

Judul Buku          : Tidak Ada New York Hari Ini

Penulis Puisi       : M Aan Mansyur

Foto                       : Mo Riza

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

 

Iklan
Diposkan pada novel, Woman and The Book

Melisa Febriana Panjaitan : “ Aku …nggak bosenin..”

melisa 10 asliDunia perbukuan dan literasi bukanlah hal asing bagi Melisa Febriani Panjaitan. Sejak dari kecil, ia sudah suka membaca buku. Di waktu  SMP, Melisa  sudah terbiasa menulis. Lulus kuliah ,jejak literasinya sudah terekam melalui karya-karyanya   yakni  Panilaran dan Bagong.  Dua karya itu adalah novel yang sudah diterbitkan dengan nama penulis Odilia Melisa. Bahkan, Panilaran telah difilmkan.

Perempuan asal palembang   ini pengagum karya Paulo Coelho.” Harus sekali habis, gak mau ditunda”,katanya. Berbeda dengan saat ia membaca kumpulan cerpen. Novel semacam ini tidak harus ia lalap dalam sekali waktu. Saat ia telah selesai membaca per kisah, maka ia bisa menunda diwaktu lainnya. “ Aku bacanya bisa ditunda.. jadinya nggak bosenin,” ujarnya.

Seperti buku yang ia baca sekarang adalah kumpulan cerpen tulisan dari Ernest

Hemingway. Cukup tebal. Hemingway yang tumbuh dewaaa di saat peperangan dunia pertama  dan juga pada tahun-tahun berikutnya, Hermingway mengalami juga masa perang dunia ke 2. Pengalaman-pengalamannya inilah yang kemudian dituangkan dalam karyanya seperti  A Farewell to Arms.

Buku setebal ini yang berjudul The Complete Short Stories of Ernest  Hemingway , menampilkan puluhan cerita pendek. Tidak berseri. Kadang, pada bagian akhirnya dibiarkan oleh Hemingway  menjadi bagian yang mengambang. Pembaca  yang berusaha mencari  hasil akhir hanya bisa merek reka,tidak memahami atau tidak menemukan sebuah dugaan “ setelah ini mau bagaimana ”. Sepertinya ini salah satu kekuatan dari  buku ini yakni membuat pembaca berpikir dan menerka sehabis  mereka membaca.

melisa 11 asli
“Hemingway dalam karyanya tidak selalu menuliskan roman yang happy ending,”@odiliamelisa (2018)

Contoh, dalam kisah Petarung.  Hanya ada 4 tokoh disebut. Obrolan lebih didominasi oleh 3 tokoh. Setelahnya, mereka berpisah dengan tanpa kejelasan akan seperti apa selanjutya mereka bertiga.

“Hemingway dalam karyanya tidak selalu menuliskan roman yang happy ending,” ujar perempuan berzodiak Aquarius  ini.  Saat ditanya tentang  kira-kira apakah generasi milenial menyukai karya-karya Hermingway, Melisa berpendapat bahwa hanya orang-orang yang mencintai literasi (seperti dirinya) yang mungkin menyukainya. “Termasuk buku ini, cerita-cerita yang ada disini juga bisa tampak agak asing bagi pembaca waktu sekarang. Namun jangan kuatir,   hasil terjemahannya di buku ini enak dibaca jadi mempermudah kita mengetahui apa isi ceritanya” katanya.

Mau coba baca buku yang dipegang Melisa???

 

Judul Buku                          : The Complete Short Stories of Ernest  Hemingway

Pengarang                          : Ernest Hemingway

Penerbit                              :Immortal Publisher

Penerjemah                       : Zulkarnen Ishak dan Muhammad Dhanil H

Jumlah Halaman               :xii +948

Cetakan pertama 2017

 

 

Diposkan pada seni, Woman and The Book

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

 

IMG-20180503-WA0004
Ellisabeth Devi Renayan @devirena                                                                 photo by @dionhusno

Membaca sebuah buku yang berisi tentang puisi, tidak semua orang terbiasa. Karena puisi itu urusan hati, maka perlu adanya tarikan yang menyentuh. “ Contohnya ya suasana hati,” kata Ellisabeth Devi Renayan yang akrab disebut Ellisa.

Menurutnya, salah satu bentuk suasana hati yakni  saat sedang galau. Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. “ Puisi itu menjadi aku banget,” tambahnya.

Pipit Tita Adhitya : Memaafkan Dipilih Dari 1000 Alasan Untuk Membenci

Di tangannya ada sebuah buku Antologi Puisi Fotografi  berjudul Di Balik Lensa Kata.Pada buku ini, tertulis syair yang dibuat oleh Novi Indrastuti yang didampingi foto karya Harno Depe. Keduanya adalah dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

“ Ini kreatif. Puisi dan Foto menjadi kombinasi yang bagus.  Seperti dua bentuk yang menjadi satu jiwa,” ungkap perempuan berbintang sagitarius ini sambil membuka-buka lembaran halaman buku itu.

Saat ditanya, puisi dan foto mana yang ia suka, Ellisa menunjuk satu  halaman yakni halaman 10. Pada halaman 10, puisi yang berjudul  Tangga Impian yang didampingi sebuah foto yang menunjukkan sebuah tempat di Denpasar Utara.

IMG-20180503-WA0014
Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. (Ellisa,2018)

”… namun aku tetap pantang menyerah 

karena setiap anak tangga adalah makna

setiap jejak adalah dinamika kehidupan

setiap langkah adalah lompatan waktu

yang akan mendorong  dan mengejarku

menuju puncak tangga impan.

Bagi Ellisa, kutipan  pada halaman ini, mewakili pengalaman hidupnya. “ Saya memiliki tujuan, dan untuk mencapainya kita harus mendakinya . Proses untuk setiap naiknya itu ada tantangan yang harus dihadapi. Untuk Tangga yang kita daki rasanya seperti naik kelas,” tuturnya.

Antologi Puisi dan Fotografi pada buku ini  romantis. Makna romantis baginya  tidak selalu berhubungan dengan kisah asmara. Romantis disini, menurut Ellisa, lebih kepada sebuah perhatian  yang mewakili  isi hatinya.

IMG-20180503-WA0007

 

 

 

Judul               : Di Balik Lensa Kata

Penyair           :

Novi Indrastuti

Fotographer  :

Harno Depe

Penerbit         :

Gadjah    Mada University Press