“ Ketidaknyamanan propagandis pemakaian kondom dan spiral…”

Istilah propagandis pemakaian kondom dan spiral adalah salah satu istilah yang  menarik mata dan menancap di ingatan otak secara mudah. Istilah ini akan mudah ditemukan pada kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul Rumah Yang Terang.  Secara singkat, cerita ini mengangkat tentang masuknya listrik ke sebuah pemukiman. Untuk mengalirkan listrik, maka perlu kerjasama semua warga dengan cara merelakan satu dakstang berada di bubungan rumah agar memudahkan pengaliran listrik ke rumah lainnya.

Sang anak merasa galau, sebab ayahnya yakni  Haji Bakir, tetap tidak mau memasang listrik dan dakstang. Akibatnya, warga yang berada terdekat dari rumah Haji Bakir yang ingin menjadi pelanggan, tidak bisa memasang listrik.  Si anak inilah sang propagadis pemakaian kondom dan spiral.  Ia galau karena pekerjaannya yang modern ini tidak bisa menjelaskankan kepada sang ayah perlunya memasang listrik bagi rumah mereka. Hasilnya yakni, gerutuan warga sekitar. Tentu saja, ada alasan sendiri  dari Haji Bakir mengenai ketidaksetujuannya itu yang akan kita temukan pada paragraf jelang akhir cerita.

Bagi peminat cerpen-cerpen bertema sosial seperti ini, karya Ahmad Tohari menjadi salah satu pelega  yang dalam kisah-kisahnya terasa manis, asin, melankolik dan menggelitik syaraf tertawa.  Pesan yang ia sampaikan terselip halus melalui kasus-kasus yang ia angkat.

Kisah Blokeng adalah salah satu contoh lainnya.  Blokeng adalah perempuan yang hamil namun tidak diketahui jelas siapa ayah biologis  dari bayi yang ia kandung.  Jika ditanya , ia tidak memberi penjelasan yang meyakinkan. Suasana desa berubah. Baik laki-laki atau perempuan dewasa memperunjingkan tentang Blokeng.  Pelan-pelan, gunjingan mengarah kepada rasa saling curiga di antara warga.

“ Kang Sarpin Minta Dikebiri” Lah……..?!

Tak lama, bayinya Blokeng lahir. Lurah Hadining berinisiatif mengumpulkan warga dan menyelesaikan masalah Blokeng.  Saat warga sudah berkumpul, ia menyatakan bahwa ia bertanggung jawab terhadap kelahiran anak Blokeng dan mengakui bayi itu adalah anaknya.  Hal ini sungguh melegakan warga desa. Mereka merasa hal kecurigaan siapa yang hamili Blokeng terjawab.   

Namun suasana itu segera berubah. Blokeng menarik kopiah Pak Lurah sambil mengatakan bahwa laki-laki-laki yang mendatanginya itu tidak berkepala botak. Geger. Di satu sisi nama Pak Lurah menjadi bersih, disisi lain kecurigaan menyemai lagi diantara warga.

Esoknya, kampung itu banyak berkeliaran warga ndulru, alias gundul baru.

Ahmad Tohari selalu punya karakter kuat dalam karyanya. Termasuk kumpulan cerpen dalam buku Senyum Karyamin ini. Buku ini tidak tebal.  Hanya berhalaman sejauh angka 71.  Bagi pembaca  yang kelahiran 2000an,buku ini akan membawa pembaca menengok suasana zaman orde baru. Suasana, nalar   yang berkembang, dan perilaku warga disesuaikan pada saat-saat itu.   Ada 13 cerpen disini dan semuanya termuat pada tahun 1976, dan yang terakhir pada tahun 1989.   

Judul Buku : Senyum Karyamin

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : keduabelas Mei 2019

Kisah Cinta Yang Tidak Bertele Tele ala Boy Chandra

Cinta kadang ditemukan secara sederhana. Namun kadang pula disampaikan dengan cara yang rumit. Ini yang menjadi salah satu kesan bagi buku ini tulisan dari Boy Chandra yang berjudul Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang. Dan, memang benar pendek-pendek tulisan per judulnya disini.  Catatan ini bukanlah dimaksudkan membahas cinta secara teori filsafat, namun berwujud kisah-kisah sepenggal. Paling banyak  4 paragraf. Sepertinya  penulis memang tidak mau berpanjang-panjang membahas cinta karena baginya , cinta tidak perlu bertele-tele.

Pada isi setiap judulnya tidak terkesan penulisan yang membuai  melalui kata-kata indah bak menulis puisi. Namun terbungkus dalam sebuah kisah. Dan kisah yang tersaji  bukanlah kisah yang selalu bahagia.  Jatuh cinta, ditolak, hubungan tidak jelas, patah hati adalah tema-tema yang diangkat. Boy Chandra berusaha membumikan kisah-kisah itu yang memang mudah dipahami oleh para pembaca khususnya yang telah atau sedang melewati masa-masa itu.

Mencermati setiap judulnya, pembaca kiranya mudah menerka isi tulisannya. Ini mempermudah pembaca  bahwa mereka tidak  diharuskan menghabiskan isi setiap judul.  Lebih bermanfaat jika para pembaca  mendahulukan judul yang membuat mereka tertarik.

Resensi Buku Pilihan (RBP) setidaknya  memilih dua  judul pada buku ini yang  menarik.  Pada judul  Jangan  Menghilang  telah membuat RBP teringat akan istilah anak muda sekarang yakni Ghosting. Istilah ini menggambarkan suatu kondisi menghilangnya seseorang baik secara langsung atau media sosial dan telepon yang selama ini telah terjalin kedekatan. Tidak ada kontak lagi. Tidak tahu kabar.

Boy Chandra telah mengurai pada judul ini dengan apik. Menurut RBP, tulisannya bisa mewakili pembaca yang sedang atau pernah mengalami suasana Ghosting.  Suasana ini sungguh tidak membuat enak hati.

Canggung. Ini adalah judul berikutnya. Boy Chandra menuturkan perjumpaan lagi dua orang yang pernah saling menyayangi. Dalam pertemuan itu, bukan nostaligia  indah yang dipilih menjadi tema pembicaraan. Ini sepertinya menyiratkan sesuatu yang masih mengganjal dalam hati dua orang itu. Kisah seperti ini pun adalah kisah yang mudah ditemui melalui cerita-cerita teman dan sahabat. Maka , pembaca yang sedang mengalaminya bisa merasa memiliki wakil melalui kisah ini walau tentunya dengan variasi yang agak berbeda.

Ingin merasa terwakili atau sedang mencari referensi sebagai teman yang mengerti jiwa terimbas cinta? Ada baiknya , buku ini menjadi alternatif bacaan. Tidak ada jaminan pembaca akan merasa bahagia setelah membaca buku ini. Setidaknya, sebentar saja mengenang sesuatu yang mirip kisahnya dengan buku ini.

Judul Buku          : Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang

Penulis                 : Boy Chandra

Penerbit              : Mediakita

Dokter Dolittle: Dokter Yang Bisa Berkomunikasi Dengan Hewan

Resensi Buku Pilihan (RBP) kali ini masih menampilkan buku yang dipublikasikan pada tahun yang dekat dengan akhir perang dunia pertama berjudul The Story of Doctor Dolittle. Pada awalnya RBP tertarik dengan judul buku ini karena mengingatkan dengan sebuah film yang kadang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta yakni Doctor Dolittle. Pemeran utama pada film itu adalah Eddie Murphy.

Film itu menarik. Diceritakanlah seorang dokter yang ternyata bisa berkomunikasi dengan hewan. Banyak adegan lucu. Menghibur. Maka jadilah itu tontonan keluarga yang menarik.

Namun, setelah membaca buku ini RBP tercenung karena ada yang berbeda dengan film tersebut.  Konteks pada buku bukanlah pada masa modern seperti yang tergambar pada film Eddie Murphy.  Doctor Dolittle,atau Dokter Dolittle, adalah dokter untuk manusia pada awalnya. Ia  memiliki minat besar pada hewan. Banyak hewan ia kumpulkan di rumahnya.  Apa yang ia lakukan telah mengganggu bisnis profesinya . Pasien semakin menyusut karena tidak nyaman dengan keadaan tempat praktek Dokter Dolittle.

Minatnya kepada hewan semakin membesar setelah ia menyadari bahwa ia ternyata mampu berkomunikasi dengan hewan. Ini membuatnya masuk  semakin jauh dengan dunia hewan, dan meminggirkan respon negatif masyarakat tentangnya.

Hingga, melalui sebuah pesan berantai, Chee-Chee atau monyet yang tinggal dengan Dokter Doolittle menerima kabar dari burung layang-layang bahwa ada pandemi yang menjangkiti monyet-monyet di Afrika. Kabar ini direspon cepat oleh Dokter Doolittle bahwa ia akan kesana bersama dengan Polynesia (burung Nuri), buaya, Chee-Chee, Dab-Dab (bebek), Gub-Gub (Babi), dan Too-Too (burung hantu).

Menggunakan sebuah kapal yang dipinjamkan kepada mereka oleh seorang pelaut yang anaknya pernah disembuhkan oleh Dokter Dolittle, mereka berangkat menuju kisah petualangan di Afrika.  Tentunya, kisah seru selalu bersanding dengan permasalahan. Dan itulah yang terjadi kepada mereka. Mulai saat mereka ditawan oleh raja Jolliginki, meloloskan diri, berhasil bertemu dengan kawanan monyet yang sakit, ditawan lagi oleh raja Jolliginki, bertemu bajak laut, hingga sampai di tempat asal lagi.

Kisah-kisah ini yang ditulis oleh Hugh Lofting disampaikan dalam buku melalui 21 bab. Gambar-gambar semacam sketsa hitam putih  membantu pembaca untuk menempatkan imajinasi mereka mengalir hingga ke halaman terakhir.

Sebuah saran dari RBP saat membaca buku seperti ini yakni, membaca mengalir saja. Jangan disandingkan dengan logika. Hal tersebut malah bisa merusak suasana membaca. Biarkan saja, buaya tidak memakan hewan lain yang ada bersamanya. Biarkan pula mereka tidak kehausan di tengah perjalanan menggunakan kapal dll. Biarkan saja.

Walaupun mengangkat petualangan, namun sebenarya , isi cerita ini sederhana. Tidak penuh intrik.  Sehingga ini memang cocok menjadi buku yang ditujukan untuk pembaca anak. Namun, jika orang  dewasa sedang jenuh dengan cerita yang serius, buku ini jelas memberikan konten yang ringan dan mengalir. Bahkan, ini bisa menjadi referensi mereka saat akan bercerita kepada anak.

Tidaklah sulit menikmati kisah-kisah ini. Penerjemahan yang bagus telah membawa kisah ini begitu mudah dinikmati.

Judul Buku          : The Story of Doctor Dolittle

Penulis                 : Hugh Lofting

Jumlah Halaman: 160 hal

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Saat Pakaian Dalam Merah Membantu Misi Pencegahan Kereta Api Mengalami Celaka..

Saat Pakaian Dalam Merah Membantu Misi Pencegahan Kereta Api Mengalami Celaka..

Ya. Dalam cerita tulisan Edith Nesbit ini,  sebuah aksi pencegahan heroik dilakukan oleh 3 orang kakak adik yakni Roberta, Peter , dan Phyllis.  Mereka mengetahui ada longsoran tanah yang menimpa rel kereta api. Sebuah ide dari salah satu dari mereka yakni melambai-lambaikan kain warna merah untuk menarik perhatian masinis agar memberhentikan kereta api.  Ide itu jauh dari pikiran seronok. Ide tersebut hanya ditujukan seefektif mungkin memberi tanda.

Mereka berhasil.

Mereka menerima hadiah atas perbuatan mereka. Namun bagi pembaca, perbincangan ibu dan ketiga anak itu menanggapi rencana pemberian hadiah itu sangat menarik.

 “ Tapi kalau tanda penghargaan itu berupa uang, kalian  harus bilang,” Terima kasih, tetapi maaf-kami tidak bisa menerimanya,”kata ibu. (hal. 144)

Singkat. Namun memberikan pelajaran hidup yang mendalam tentang apa arti uang dan bagaimana menyikap sebuah penghargaan.

Kisah di atas, hanyalah salah satu dari rangkaian kisah petualangan ketiga anak tadi. Mungkin tidak seheboh Lima Sekawan, ataupun Sapta Siaga yang pernah mengisi memori anak-anak 80-90an tentang kisah petualangan anak. Namun kisah ini lebih terasa “ anak banget” di zaman belum ada handphone, keberadaan televisi belum populer, dll. Mereka mengembangkan percakapan dari hal yang sederhana, berpikir sederhana, dan bertindak tulus walau mereka tidak menyadari dampaknya begitu besar bagi orang lain.

Salah satu kisah yang bisa diambil contoh adalah keinginan mereka memberi kejutan kepada Pak Perks. Mereka antusias dan tulus ingin melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang yang dianggap mereka sebagai orang baik. Pemikiran mereka lepas dari pemikiran terkait sopan santun dan pertimbangan perasaan penerima menurut orang dewasa. Ibu mereka yang suka menulis cerita anak pun sudah mengingatkannya bahwa mereka perlu berhati-hati dalam menyampaikan hadiah tersebut agar tidak membuat penerima tersinggung seolah minta dikasihani.

Ternyata benar. Pak Perks tersinggung. Terlebih setelah ia tahu, hadiah-hadiah yang diberikan anak-anak adalah andil dari banyak orang. Setelah anak-anak nekat menyampaikan pesan dan kesan , barulah pak Perks menyadari bahwa orang-orang itu ternyata memiliki perhatian kepada dirinya. Pak Perks seolah olah mendapat pencerahan hidup bahwa banyak cinta disekelilingnya.

Inilah sepenggal kisah Roberta ( panggilannya adalah Bobbie), Peter, dan si bungsa Phyllis. Walau diawali dengan kesedihan setelah tiba-tiba ayah  mereka menghilang, mereka pun harus berpindah rumah. Menjalani hidup dalam suasana yang baru dari sebelumnya.

Selain itu, mereka berjumpa dengan orang-orang baru. Karena terikat dengan orang-orang itulah mereka merangkai banyak pengalaman. Uniknya yakni, pada buku ini, ketiga anak itu lebih banyak bergaul dengan orang-orang dewasa. Disitulah karakter anak-anak mereka tampak lebih jelas.

Buku ini adalah karya lama. Bahkan Gramedia sebagai penerbitnya pun meneribtkan pertama kali pada tahun 1991. Namun ditengah hiruk pikuk  kisah-kisah anak-anak modern, karya E Nesbit seperti ini seperti mengingatkan kita akan jiwa anak yang ceria dan  tulus.  Mungkin saja , setelah membaca buku ini, kita akan merindukan hadirnya sosok-sosok seperti ketiga anak tadi.

Walaupun ada beberapa kata yang terkena typo, namun secara umum pembaca akan bisa mudah memahami cerita ini. Terlebih, gaya bahasa yang sederhana dan penerjemahan bahasa oleh Widya Kirana yang bagus mampu menarik perhatian pembaca hingga halaman terakhir.

Resensi Buku Pilihan  merekomendasikan buku ini sebagai bacaan untuk anak-anak. Bisa kita berikan langsung ataupun untuk memberikan hadah kepada mereka.

Judul Buku                          : The Railway Children (Anak-Anak Kereta Api)

Penulis                                 : E. Nesbit

Cetakan                               : Ketiga , Maret 2020

Catatan Kecil Tentang “ Ayah” dan “Ayah dan Sirkus Pohon”.

Namun juga muncul pertanyaan mengapa novel yang berjudul “ Ayah dan Sirkus Pohon” (2020) tidak selengkap “Ayah” (2015)?

https://resensibukupilihan.com/2020/08/12/kejenakaan-dalam-cerita-hidup-sobirin-cs/

Tautan  di atas adalah resensi novel tulisan Andrea Hirata  yang berjudul “Ayah dan Sirkus Pohon”.  Pada  tautan tersebut  Resensi Buku Pilihan (RBP) telah menuliskan tentang daya tarik novel ini. Salah satunya yakni happy ending yang mengambang dari kisah Sabari yang menunggu  Zorro, anak yang dibanggakannya meskipun bukan anak kandung. 

Bolehlah kita tersenyum kecut karena bagi RBP dan  pembaca novel ini lainnya yang menyukai kejelasaan akhir cerita,   serasa dibiarkan oleh novel itu untuk membayangkan sendiri detik-detik pertemuan Sabari dan Zorro.  Kita mereka-reka menurut imajinasi sendiri. Hanya itu yang bisa dilakukan saat menemukan tulisan TAMAT pada halaman 153 novel ini yang diterbitkan pertama kali pada bulan Februari 2020 oleh Bentang.

https://resensibukupilihan.com/2020/12/31/menikmati-jejak-bucin-sabari/

Namun, secara tidak sengaja, saat RBP berkunjung ke salah satu perpustakaan sebuah sekolah, terbacalah sebuah buku tebal judul “AYAH” tulisan dari Andrea Hirata ini. Semakin banyak halaman terbaca, semakin merasa tidak asing dengan cerita ini.  Rasa ketagihan muncul dan membawa asa untuk menuntaskan hingga halaman cerita terakhir yakni 396.

Segeralah RBP merasa dilegakan oleh novel ini karena ada pertanyaan yang sebelumnya  menggelanyut  telah terjawab. Bukan saja tentang detik-detik pertemuan Zorro dan Sabari, kisah Mamat dan Ukun merupakan kisah persahabatan yang menginspirasi. Pengalaman lucu. Pengalaman sengsara namun berujung nikmat.  Nikmat kepuasaan mereka bisa menemukan  Lena dan dan Zorro. Nikmat mereka bisa membalas doa orang-orang yang mengantar mereka berdua  ke dermaga saat akan memulai petualangan.

Kisah jejak “ bucin” ala Sabari kepada Marlena pun begitu unik pada novel berjudul “Ayah” yang diterbitkan pada tahun 2015 oleh Bentang. Bahkan hingga meninggal, Sabari tidak bisa “memiliki” Marlena. Hanya tercatat pada halaman akhir cerita tentang sesuatu yang berbau romantis yakni  Marlena meminta dimakamkan dekat makam Sabari dengan sebuah tambahan tulisan dibawah namanya yakni  “ purnama  kedua belas”.

Puas.

Namun juga muncul pertanyaan mengapa novel yang berjudul “ Ayah dan Sirkus Pohon” (2020) tidak selengkap “Ayah”  (2015)?

Beruntung RBP bisa mengkontak Dhewiberta, salah satu penyunting novel “Ayah dan Sirkus Pohon”. Menurut Dhewi, novel “Ayah dan Sirkus Pohon” adalah ide awal dari novel “Ayah”.  Menurutnya, penulisnya ingin memberi gambaran cerita awal sebelum novel “ Ayah” terbukukan.

Versi Original: Alternatif Pembacaan terhadap Novel-Novel Andrea Hirata

Dhewi juga membagikan tautan  di atas ini.  Sepemahaman RBP, tautan itu ingin memberikan gambaran bahwa bagi penulis dan penerbit sangat mungkin memproduksi sebuah buku  ringkas yang bersumber dari buku yang pernah terbit. Ada berbagai alasan tentunya melatarbelakangi produksi buku yang lebih ringkas ini.

Sepertinya ini menjadi salah satu hal yang menarik dieksplorasi lebih lanjut kedepannya tentang buku-buku seperti 2 novel di atas.

Semoga.

Menikmati Jejak ‘Bucin’ Sabari…

Sejak dulu, Ukun menyukai banyak perempuan. Namun, perempuan yang tidak menyukainya lebih banyak lagi..(hal. 123)

Ukun adalah salah satu sahabat kental nan polemik dari Sabari, si tokoh paling diperhatikan pada novel ini.  Ukun bersama Tamat menjadi sosok-sosok yang luar biasa berperan bagi kehidupan  Sabari. Mereka membawa lagi sebagian jiwa Sabari yang tercerabut selama bertahun- tahun yakni  Zorro. Pada diri Zorro lah, Sabari merasa memiliki alasan untuk apakah ia hidup dan menjalani kisahnya selama ini yakni menjalankan peran ayah bagi seorang anak yang bukan anak kandungnya.

Buku ini termasuk tebal. Memiliki jumlah halaman xx+ 412. Melalui ketebalan inilah, kisah Sabari Cs terasa lebih komplet  atau tidak meninggalkan teka-teki  kisah akhirnya. Di halaman awal,  Sabari diceritakan menemukan kisah kasmarannya sejak pertemuannya dengan Marlena.  Ia  tak bisa lepas dari bayang-bayang Marlena.  Perempuan ini  semacam memiliki “soft power”  yang mengikat jam hidup Sabari.  Apa yang dilakukan Sabari tertuju kepada Marlena.

Anehnya, Sabari malah sering mencapai prestasi-prestasi tertentu mulai dari jabatan ketua kelas, juara marathon, hingga juara puisi.  Mungkin inilah yang dinamakan “cinta membawa prestasi”. Sabari berusaha mencapainya supaya Marlena memperhatikannya.  Kenyataannya ,tidak.

Bahkan selepas masa sekolah, Sabari masih belum bisa lepas dari imajinasinya tentang  Marlena. Sahabat-sahabatnya sudah sering mengomelinya, namun Sabari  masih setia pada jalan ninja nya, bucin (Budak Cinta).

Saat Sabari dan Marlena menikah, kondisi tidaklah membaik. Sabari tidak bisa “memilki “ Marlena namun ia “memiliki” Zorro. Anak ini begitu penting bagi Sabari. Ia sungguh tersiksa saat Zorro terlepas darinya.  Beruntung, ia memiliki sahabat-sahabat yang perhatian.

Kisah tentang sahabat-sahabat ini menjadi salah satu keunggulan dari novel  yang diterbitkan oleh penerbit Bentang  yang pertama kali dicetak  pada  tahun 2015. Andrea Hirata mampu memberi inspirasi bagaimana beruntungnya memiliki sahabat. Perjuangan yang mereka lakukan berbulan-bulan dengan biaya mereka sendiri. Mereka seakan berjuang seolah  mencari harta karun yang  berbentuk jiwa sahabatnya,Sabari.  

 Tentu saja, Andrea Hirata tidak melepaskan kekuatan puisi dan penggunaan bahasa Indonesia yang puitis dalam merawat ceritanya. Sempat terkesan konyol, namun begitulah cerita yang dinikmati para pengagum Andrea Hirata ini bisa sampai menyentuh syaraf humor  mereka.  

Judul                           : Ayah

Penulis                       : Andrea Hirata

Penerbit/Cetakan : Bentang/Keempat, Juni 2015

Neta Tata, Rumah Haryono, dan Komunikasi Pemangku Kepentingan


Kadang- kadang, ia merasa komunikasinya dengan orang lain,tidak efektif sesuai target yang ia miliki. Untuk itu, sesekali ia merasa butuh referensi tentang komunikasi.

(Kesan Neta Tata sewaktu membaca buku ini)

Apa hubungannya?


Ternyata Ada lho. Beberapa waktu lalu, Neta Tata tampak memegang buku berjudul Komunikasi Pemangku Kepentingan. Saat ditanya apa yang menarik dari buku itu baginya, perempuan lulusan salah satu PTS favorit di Yogyakarta ini menjelaskan bahwa ia memiliki usaha penginapan yang dinamai Rumah Haryono. Untuk mengurusi usaha ini, ia bertemu dengan banyak orang. ” Cara ngomong ke masing-masing orang ternyata beda-beda”,jelasnya.


Kadang- kadang, ia merasa komunikasinya dengan orang lain,tidak efektif dengan target yang ia miliki. Untuk itu, sesekali ia merasa butuh referensi tentang komunikasi.Nah, buku ini salah satu referensi yang ia butuhkan. “Terlebih,studi kasus yang diambil adalah hotel. Jadi,pas dengan kepentingan ya,” katanya.


Memang benar yang disampaikan Neta. Buku yang ia pegang berjudul Komunikasi Pemangku Kepentingan adalah tulisan dari Astri Wulandari,MA. Penulis ini adalah dosen di salah satu PTS Di Yogya. Dosen ini dikenal serius mendalami kajian Stakeholders Communication.

Pada buku itu, Astri menuliskan tentang perlunya kita memahami adanya pihak-pihak lain di luar perusahaan yang memiliki keterikatan kepada proses kebijakan dan hasilnya. Singkatnya,merekalah yang disebut Stakeholders (Pemangku Kepentingan). Masing-masing Pemangku Kepentingan memiliki pengaruh yang berbeda-beda kepada kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, cara berkomunikasi kepada masing-masing pihak,tidaklah sama.


Untuk itulah,Astri mengingatkan perlunya mengidentifikasi jenis pihak Pemangku Kepentingan dan merumuskan alur komunikasi dengan mereka. Semisal perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dll. Pihak-pihak ini jelas berbeda .

Untuk mengefektifkan komunikasi kepada mereka, Astri merekomendasikan 4 hal yang menjadi pertimbangan sebelum terjadi pembicaraan yakni Why ( Apa tujuan kita berkomunikasi), Who ( Siapakah pemangku kepentingan dan pemberi pengaruh bagi kita? Siapa yang perlu kita bujuk?), What (Apa yang kita rencanakan untuk mencapai tujuan kita?) , dan Where ( Platform atau saluran mana yang tersedia untuk kita?).


“Pertanyaan semacam ini bermanfaat lho untuk memandu kita sebelum bertemu pihak yang kita tuju,” ungkap Neta. Baginya, kita akan memiliki pemikiran yang jelas dan apa yang kita sampaikan mudah dipahami pihak yang kita tuju. Semisal, ada suppplier yang ingin bekerjasama dengan Rumah Haryono, pertanyaan-pertanyaan di atas akan menuntun kita fokus kepada kualitas produk yang ditawarkan: apakah mudah dilakukan retur jika ada kerusakan produk mereka, apakah ada garansi bagi produk suplier dll. Jika terjadi komunikasi di luar pertanyaan tadi, besar kemungkinan sudah bukan terikat kepada produk dan layanan. Hal ini bisa mengancam daya saing Rumah Haryono. Hal seperti inilah yang ia jaga.

Pada bab 1- 10, pembaca akan disuguhi rangkaia ulasan teoritis mendasar tentang siapa dan apa peran Pemangku Kepentingan bagi lembaga. Memang terkesan panjang uraiannya, namun sepertinya penulis sengaja mengajak pembaca mengenal Pemangku Kepentingan dari berbagai celah. Harapannya, pembaca semakin jelas melihat strategisnya peran Pemangku Kepentingan .


Pada bab akhir, Astri memberikan sebuah studi kasus yang mempermudah pembaca memahami bab-bab sebelumnya yang lebih teoritis. Astri menjelaskan posisi Hotel Prawirotaman dan bagaimana hotel itu mempertahankan diri diantara persaingan ketat dengan hotel lainnya.


“ Saya berharap buku ini ada kelanjutannya. Lebih banyak kasus yang diangkat. Jadi pembaca tambah kaya info,” harapnya. Neta juga berpendapat bahwa buku ini tidak semata berguna untuk orang seperti dirinya yang pengusaha penginapan. Para marketing perusahaan bukan penginapan perlu juga membaca buku ini untuk penyegaran.

Judul : Komunikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Communication)

Penulis : Astri Wulandari,MA

Editor : Catur Nugroho

Penerbit : CV Sedayu Sukses Makmur

Cetakan I Agustus 2020

Dea Rizkita: “Lebih suka main ke tempat yang bernuansa alam.”

Akankah hal ini berarti setahun kemudian?
(hal 11)


Mendapatkan masalah besar adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh hampir semua orang. Masalahnya, masalah besar bisa datang kapan saja. Bahkan, sangat mungkin terjadi pada suasana hati dan kondisi tubuh yang sedang terpuruk. Pada titik inilah, kekuatan kewarasan dituntut untuk dikeluarkan oleh otak dan hati kita. Namun penggunaan kewarasaan , ternyata membutuhkan panduan-panduan yang lebih kongkrit.


Richard Carlson, sang penulis buku ini yang berjudul Mengatasi Masalah Besar Dalam Hidup, memberikan panduan-panduan yang bisa membantu siapapun pembacanya bagaimana bersikap tatkala masalah besar hadir. Carlson, salah satunya, merekomendasi sebuah pertanyaan bagi diri kita sendiri yakni “ Akankah hal ini berarti setahun kemudian?”


Pertanyaan ini menuntun kita untuk berpikir logis. Terpasung pada masalah atau melangkah maju. Untung atau rugi untuk hari depan. Terlilit kekesalan atau terangkat rasa optimis. Intinya yakni, melihat sebuah masalah besar bukan sebagai tembok akhir melainkan sebuah pintu yang mana saat kita berani berjalan dan membukanya, ada suasana baru yang bisa di dapat.


Hal seperti ini, diamini oleh Dea Rizkita. Perempuan yang berasal dari salah satu provinsi di Jawa Tengah ini bercerita saat ia menemui masalah yang ia anggap besar, ia akan menangis. Tangisan ini untuk meluapkan emosinya. Setelahnya, ia bisa berpikir lebih tertata.” Saya ingin berpikir positif,” katanya.

Namun, pada kenyataanya berpikir positif di saat seperti itu tidaklah gampang. Ia mengakui bingung harus mulai dari mana. “Sering bingung, bagaimana berpikir positif itu,” pengakuannya.


Kebutuhan cara berpikir positif ini yang sepertinya menjadi sumbangsih buku ini. Carlson menuntun pembaca melalui pertanyaan-pertanyaan yang ia tulis. Setelahnya, ia memberikan pendapatnya merespon pertanyaan tersebut.Untuk memperjelas apa yang ia tulis, Carslon juga termasuk penulis yang murah hati karena rela berbagi kisah-kisahnya sehingga apa yang ia sampaikan lebih mudah dipahami.

Orang-orang berkarakter optimis reatif lebih mudah menerima usulan-usulan Carlson. Mereka lebih fleksibel untuk mampu menekan rasa dan pikiran buruk. Terhadap orang-orang jenis ini, Carlson memang menaruh perhatian positif. Dalam salah satu bab, ia tuliskan tentang optimisme dan rasa percayanya kepada optimisme yang bisa menyembuhkan.Namun bagaimana dengan orang-orang yang lebih dekat dengan kebiasaan berpikir pesimis?

Selain kisah-kisahnya, Carslon berbagi tips yang bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki karakter pesimistis. Ia menyarankan 3 langkah bagi kaum pesimis untuk move on. Salah satunya yakni, bersikap baik kepada diri sendiri.

Daripada tergantung kepada rasa pesimis, lebih baik bagi kita untuk menata dan menentukan prioritas hidup. Karena melalui prioritas, berarti kita akan membuat hidup kita lebih efektif. Bila kita berdisiplin pada jalur efektif ini, kita bisa mengenali “ gambar yang lebih besar- yang mencakup , tentu saja, solusi dari masalah, dan persoalan yang kita hadapi. (hal. 236) .


Bagi Dea sendiri, untuk berpikir jernih dan mengingat priortas hidupnya, ia membutuhkan tempat khusus. Dimana itu?
“Lebih suka main ke tempat yang bernuansa alam,” jawabnya.


Ini adalah buku lama namun masih diterbitkan lagi tahun ini. Penerbit Gramedia menerbitkan pertama kali pada tahun 2004. Namun kekuatan buku ini yakni pesannya yang “everlasting” selama manusia hidup dan menemukan masalah. Buku ini cukup tebal, namun pembaca tidak perlu berkerut-kerut kening memahami tulisan Carlson. Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia dalam buku ini, termasuk baik. Tata kalimat yang tidak berbelit-belit, sangat membantu pembaca.

Saat pejuang memilih jalan perjuangan..

“Mid, aku ingin menyandang senjata seperti mereka.”

 Ini adalah salah satu percakapan Kiram dan Amid.  Mereka terlibat dalam gerakan perjuangan pasca proklamasi Indonesia melawan tentara Belanda. Mungkin sebagian kita masih berpikiran bahwa motif  masyarakat menjadi  pejuang dulu dengan  bergabung dalam sebuah pasukan adalah langsung terlibat pertempuran melawan musuh. Namun pada novel ini karya Ahmad Tohari yang berjudul Lingkar Tanah Lingkar Air, pembaca disuguhi kisah yang variatif. Ahmad Tohari menyuguhkan adanya motif-motif lain sebelum mereka terlibat pertempuran.

Cuplikan percakapan di atas, adalah gambaran seorang Kiram yang terkesan dengan  gagahnya seseorang saat menyandang senjata dan ia ingin menjadi seperti itu.  Dalam karya  ini yang pernah terbit sebagai kumpulan cerpen, ternyata senjata tidak saja berguna untuk menembak musuh. Senjata membawa pengaruh bagi derajat sosial si pembawanya. Apalagi jika mereka sudah mendapat panggilan “pemuda” dari warga, terasa itu sebagai salah satu sebutan yang meningkatkan rasa percaya diri. Bahkan, Kiram pada cerita ini diselipkan kalimat sering  menggoda Asui yakni gadis Cina pemilik toko depan pasar.  

Saat si introver bercerita tentang mereka

Senjata memberikan tambahan arti. Bukan saja senjata itu membuat orang yang menyandangnya menjadi terpandang, namun senjata yang dimiliki mampu menarik orang-orang ke dalam sebuah kelompok pejuang. Sepertinya, kondisi seperti ini adalah jamak di masa itu.  

Seperti pada karya lainnya, Ahmad Tohari menyuguhkan peristiwa sosial politik ke dalam cerita yang ia tulis. Kegelisahan Kiai Ngumar  terasa saat diminta pendapat oleh Amid cs  apakah   kelompok mereka sebaiknya bergabung dengan tentara republik atau tetap berada pada  kelompok sendiri yakni Hizbullah.  Kiai ini memiliki pengetahuan yang luas namun tidak mampu menenangkan ambisi Kang Suyud  yang yang tidak ingin bergabung dengan tentara republik. Masing-masing argumen pada percakapan tersebut memiliki dasar situasi yang terjadi di masa itu. Namun pada akhirnya, mereka harus memilih dan menjalani apa yang sudah dipilih.

Perjalanan Amid Cs membawa mereka ke dalam sebuah perjuangan melalui DI/TII  melawan pemerintah RI. Realita di lapangan bahwa mereka semakin terpojok membuat gundah Amid. Bahkan, dalam sebuah peristiwa, ia menembak mati seorang tentara yang setelah digeledah ternyata terdapat tasbih dan kitab suci pada saku tentara. Ini membuatnya tercenung dan memikirkan kembali apa yang telah ia pilih dan jalani.

Salah satu kekuatan lain pada novel  ini yakni penulisannya yang sederhana. Walau berlingkup sejarah perjuangan, fokus pada kisah Amid cs diutamakan.  Suasana peperangan tidak diutarakan secara melebar. Ini membuat kisah Amid cs lebih mudah didalami terlebih saat pembaca menemukan kisah mereka  yang sedang galau ataupun senang. Manusiawi.  

Teringat kepada “SARINAH” saat hari Kartini..

Bagi penikmat novel ber genre sejarah perjuangan RI, novel ini layak menjadi pilihan bacaan. Bila dicari karya yang memiliki nuansa sejarah perjuangan RI yang tetap berfokus pada cerita kemanusiawian, inilah salah satunya.

Judul                     : Lingkar Tanah Lingkar Air

Penulis                 : Ahmad Tohari

Editor                    : Eka Pudjawati

Penerbit              :PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan kedua Januari 2019.

KEJENAKAAN DALAM CERITA HIDUP SOBIRIN cs

“Sebab pekerjaan mencetak batako sesuai dengan kepribadian saya, Bang, eh Pak.”

Kalimat diatas kiranya mudah menyetil saraf humor pembaca untuk merespon dengan tertawa. Setidaknya tersenyum.  Itulah salah satu percakapan Sabari dengan orang yang sedang mewawancarinya.  Sabari adalah salah satu tokoh dalam buku berjudul Ayah dan Sirkus Pohon karya salah satu pesohor tanah air ,Andrea Hirata.

Sabari dalam buku ini sebenarnya hidupnya belumlah berjalan seperti yang ia inginkan. Ia adalah pemuja kesetiaan. Kawan dari  Hobirin ini berteguh dalam rasa kasmarannya kepada Lena. Bahkan ia bersetia cinta kepada seorang anak bukan kandungnya, Zorro.

Demikian pula dengan tokoh yang namanya sudah disebut di atas, Hobirin. Ia bernama asli Sobirin, adalah salah satu tokoh sentral .  Ia dengan segala kondisinya berjalan menyusuri kisah hidupnya yang memberi kejutan. Mulai dari menjadi bagian kelompok yang diciduk polisi, terusir dari rumah, menjadi badut sirkus, dan kesetiaan kepada istrinya yang mengalami stres.

Terasa sedih bukan kisah-kisah di atas?

Disinilah kelihaian Andrea Hirata menyusun kisah yang mengalir dari para tokoh-tokoh pada buku ini dalam menjalani hidupnya yang sedih. Kepiawaian penulis, mengulur kisah sedih  melalui percakapan-percakapan jenaka .  Kisah –kisah jenaka itu tidak menambah kesan bahwa para tokoh di buku ini sedang melawak. Celetukan mereka adalah khas  Andrea Hirata  menyampaikan pesan bahwa menjalani  hidup yang serius bisa saja melahirkan suasana dan celetukan jenaka.

 Sepintas , judul buku ini menggiring  pembaca untuk menduga bahwa kisah yang diangkat adalah tentang seorang ayah. Terlebih pada buku cetakan pertama ini, pada sampul belakang tidak tercatat cuplikan mengenai informasi tentang karya ini. Namun sangat mungkin bagi para pembaca yang telah mengenal karya Andrea Hirata pada buku-buku lainnya, ini tidak menjadi masalah.  Mereka telah hafal liak liuk   Andrea Hirata menyajikan sebuah cerita. Nikmati sajalah..

Kehadiran tokoh-tokoh lain  tetap memberi warna khusus. Semisal, adiknya Hobirin yakni Azizah.Kisah pada lembar-lembar awal,adik Hobirin ini sangat  mudah bagi pembaca membayangkan seperti apa sosoknya. Andrea Hirata kiranya mampu mendiskripsikannya dengan jelas sosok fisik dan karakternya. Begitu pula sosok Gastori. Bahkan Gastori memberikan sebuah ilmu hidup kepada kita bahwa Siapa yang pegang mik, dia yang berkuasa.  Ungkapan ini sebenarnya memiliki makna dalam. Walaupun begitu,  Andrea Hirata  berhasil “menjelaskan ” kepada kita melalui kisah-kisah Gastori.

Pada akhir cerita, Andrea Hirata tidak menunjukkan suatu gambaran yang konkrit tentang suasana happy ending. Mungkin, ia memberikan kebebasan bagi para pembacanya untuk merangkai  tebak-tebakan  kisah para tokohnya semisal pertemuan Zorro dan Sabari setelah sekian tahun tiada sua. Atau  tentang kisah  istri Hobirin yang belum pasti akan sehat lagi atau tidak.

Karya ini begitu ringan dan mengalir. Pembaca tidak perlu mengengerutkan  dahi untuk memahaminya. Olahan Dewibertha dan Rani Nura sebagaipenyunting karya ini terasa cukup suskes. Sepertinya, kedepannya karya ini akan dicetak ulang demi memenuhi hasrat pembaca karya Andrea Hirata.

Mau tahu nikmatnya membaca karya ini? Silakan mencari bukunya.

Judul                     : Ayah dan Sirkus Pohon Original Story

Penulis                 : Andrea Hirata

Penyunting         : Dhewiberta, Rani Nura

Halaman              : 195

Penerbit              : Bentang Pustaka

Cetakan pertama, Februari 2020