Diposkan pada seni, Woman and The Book

Nurmalita Rosiana Fatharani : “Traveling dan Foto itu….Wajib banget!”

 

Perempuan yang akrab dipanggil Rani ini memang senang traveling khususnya ke tempat-tempat yang nuansa alamnya kuat seperti pantai, pegunungan dll . Baginya , saat berada di tempat itu ia berasa lepas  sejenak dari banyak masalah. “ Bukan menolak menghadapi masalah lho…hanya  ingin rileks. I feel free!” katanya.

Rani merasa alam bisa memberikan  kekuatan. Saat menemui suasana pegunungan, Rani suka  desiran angin, kicauan burung, keheningan  dan kesegaran udaranya. Sedang saat di pantai, ia menyukai bau khas pantai, pasir, dan sunset. “ Kangen kalau sudah lama tidak merasakannya..”, sahutnya.

Terlalu sayang jika keindahan alam begitu saja dinikmati. “ Aku ingin menjadi bagian yang indah,” tuturnya.

Emm maksudnya?

“Ya main foto disitulah. Terus masukin IG,”

Owww

Memang benar saat disimak, IG nya yakni @rosianarani ,foto-fotonya sebagian bertema alam. “ Traveling dan foto itu..wajib banget!”

rani three

Saat tidak memiliki kesempatan traveling, Rani biasanya searching tentang wisata alam di medsos atau lihat-lihat buku bertema alam seperti yang ia pegang sekarang. Buku yang berjudul Kepundan Kasih Menyadap Ilham Dari Alam  ini  cukup unik karena memadukan antara foto dan puisi.  Tentang foto-foto di buku ini karya   Harno Depe, seorang profesor pada Departemen Kimia  Fakultas MIPA   UGM Yogyakarta.  Setiap foto  di buku itu, seolah bisa hidup dan bercerita.

“Foto dan puisi yang berdampingan di buku ini tampaknya memang saling terkait. IMG-20181015-WA0003Namun kita bisa menikmatinya sesuai dengan selera kita. Seperti ini…”, kata Rani sambil menunjukkan salah satu halaman yang menggambarkan suasana sunset  (halaman 136). “ Ini foto favoritku. Suasana sunset sepertinya mengingatkan kita bahwa  ada waktunya  dalam hidup  untuk beristirahat. Besok dengan tenaga baru, bisa berkarya lagi.” lanjutnya.

Tentang Puisi, Rani menunjuk sebuah halaman yang tertulis puisi berjudul Indah yang  Tak Kekal (halaman 16). Pusi ini karya Novi Indrastuti, seorang doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Isi puisi  tersebut mengajak kita mengingat bahwa  fisik di dunia ini memang tidak ada kekal.  Menurut Rani, kita harus memanfaatkan benar selagi kita masih kuat untuk berkarya yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

Rani setuju jika ada yang berpendapat  bahwa  banyak inspirasi di halaman-halaman lainnya. Melalui karya foto oleh  Harno Depe dan  puisi oleh Novi Indrastuti  memberi  warna yang berbeda dalam dunia literasi.” Saya sudah habis membaca buku ini dan saya suka,” katanya sambil tersenyum.

Judul buku :

Kepundan Kasih Menyadap Ilham Dari Alam

Fotografer :

Harno DepeIMG_20181013_162142.jpg

Penyair :

Novi Indrastuti

Penerbit

Gadjah Mada University Press

Halaman:

172

Cetakan Pertama:

Juli 2018

 

Diposkan pada seni, Woman and The Book

Dyah Puspita NP : “ ..jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.”

Dyah Puspita NP
puisi  dan foto adalah ungkapan sebuah ekspresi yang dalam dan jujur @dyahpuspitanp (2018)

 

Bukan kebetulan jika perempuan cantik satu ini, Dyah Puspita NP,  memang gemar tentang puisi dan foto. Baginya, puisi dan foto adalah ungkapan sebuah ekspresi yang dalam dan jujur. “Tidak khawatir akan dicap apa-apa. Begitulah adanya,” katanya sambil membuka-buka sebuah buku yang telah berulang kali ia baca.

Buku yang covernya dominan warna hitam dan putih itu berjudul Tidak Ada New York Hari Ini. Buku ini puisinya ditulis oleh M Aan Mansyur.  Puisi ini tambah dihidupkan lagi oleh foto-foto karya dari Mo Riza. Lembar-lembar kertas saat dibuka, akan dijumpai puisi yang didampingi oleh foto. Kadang-kadang di beberapa lembar, hanya terdapat foto saja. Namun keberadaan foto ini sebenarnya membantu mengekspresikan puisi.

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

Untuk  orang-orang tertentu beranggapan bahwa foto adalah puisi lewat gambar. Tampilan gambar tersebut juga mampu bicara dengan menunjukkan ekspresi wajah, suasana, dan kesan yang pada akhirnya menumbuhkan persepsi.

Buku ini merupakan kumpulan puisi dan foto Rangga untuk film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2. Sebuah film yang mendapat sambutan luar biasa dari penonton Indonesia, terlebih yang pernah menonton dan terkesima oleh pesona AADC ysang pertama.

dyahpuspitanp 2
photo by Adhitya Christianto

“ Aku suka yang ini,”kata Puput, nama panggilan perempuan berzodiak Virgo ini sambil menunjukan sebuah halaman yang tertera sebuah judul Di Dekat Jendela Pesawat Terbang. Baginya puisi ini  selalu membawa ingatannya tentang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan. “ Rindu dan ikhlas yang harus dipaksakan berdampingan . Itu susah dan tidak mudah,” jelasnya.

Sepertinya disinilah kekuatan buku   yang telah mengalami beberapa kali cetakan ini. Puisi-puisi didalamnya bisa membawa seseorang kedalam kenangan yang sangat pribadi bahkan kadang terwakili. Tak harus pembaca segera menyelesaikannya semua puisi menjadi bacaanya ataupun menyukai semuanya. Cukup satu atau dua puisi yang memang menyentuh kalbu.

Asha Nuria Novitasari : “Yang Sedang Pedekate…”

Saat ditanya tentang kesannya tentang Rangga di film AADC, Puput menjawab bahwa ia menyukai sosok seperti Rangga yang suka baca buku apapun terutama puisi. “Setiap kalimat atau pernyataan yang dilontarkan ke Cinta (diperankan Dian Sastro)  jatuhnya dalem banget. Indah, tapi perlu mikir buat mencernanya,” tuturnya lagi .

 

Judul Buku          : Tidak Ada New York Hari Ini

Penulis Puisi       : M Aan Mansyur

Foto                       : Mo Riza

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

 

Diposkan pada seni, Woman and The Book

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

 

IMG-20180503-WA0004
Ellisabeth Devi Renayan @devirena                                                                 photo by @dionhusno

Membaca sebuah buku yang berisi tentang puisi, tidak semua orang terbiasa. Karena puisi itu urusan hati, maka perlu adanya tarikan yang menyentuh. “ Contohnya ya suasana hati,” kata Ellisabeth Devi Renayan yang akrab disebut Ellisa.

Menurutnya, salah satu bentuk suasana hati yakni  saat sedang galau. Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. “ Puisi itu menjadi aku banget,” tambahnya.

Pipit Tita Adhitya : Memaafkan Dipilih Dari 1000 Alasan Untuk Membenci

Di tangannya ada sebuah buku Antologi Puisi Fotografi  berjudul Di Balik Lensa Kata.Pada buku ini, tertulis syair yang dibuat oleh Novi Indrastuti yang didampingi foto karya Harno Depe. Keduanya adalah dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

“ Ini kreatif. Puisi dan Foto menjadi kombinasi yang bagus.  Seperti dua bentuk yang menjadi satu jiwa,” ungkap perempuan berbintang sagitarius ini sambil membuka-buka lembaran halaman buku itu.

Saat ditanya, puisi dan foto mana yang ia suka, Ellisa menunjuk satu  halaman yakni halaman 10. Pada halaman 10, puisi yang berjudul  Tangga Impian yang didampingi sebuah foto yang menunjukkan sebuah tempat di Denpasar Utara.

IMG-20180503-WA0014
Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. (Ellisa,2018)

”… namun aku tetap pantang menyerah 

karena setiap anak tangga adalah makna

setiap jejak adalah dinamika kehidupan

setiap langkah adalah lompatan waktu

yang akan mendorong  dan mengejarku

menuju puncak tangga impan.

Bagi Ellisa, kutipan  pada halaman ini, mewakili pengalaman hidupnya. “ Saya memiliki tujuan, dan untuk mencapainya kita harus mendakinya . Proses untuk setiap naiknya itu ada tantangan yang harus dihadapi. Untuk Tangga yang kita daki rasanya seperti naik kelas,” tuturnya.

Antologi Puisi dan Fotografi pada buku ini  romantis. Makna romantis baginya  tidak selalu berhubungan dengan kisah asmara. Romantis disini, menurut Ellisa, lebih kepada sebuah perhatian  yang mewakili  isi hatinya.

IMG-20180503-WA0007

 

 

 

Judul               : Di Balik Lensa Kata

Penyair           :

Novi Indrastuti

Fotographer  :

Harno Depe

Penerbit         :

Gadjah    Mada University Press

 

Diposkan pada seni, Woman and The Book

Dian Husna : Layak Menjadi Referensi Para Ahli Teater..

dian V
@dionhusna

Teater bukan tontonan baru baginya.  Walau tidak terbilang rutin, gadis manis ini mengaku terhibur. “ Biasanya nonton di kampus sewaktu masih  kuliah,” cerita  Dian . Pada saat menonton, Dian sering berpikir bagaimana mereka membuat naskah dan memerankannya apalagi jika yang dipentaskan bukan naskah yang konteksnya Indonesia melainkan luar negeri.  “ Sepertinya sutradara dan pemain teater melakukan studi atas naskah itu,” ungkapnya.

Saat ini disela waktunya, Dian sedang membaca sebuah buku  tentang Sosiologi Teater tulisan Nur Sahid yang memang dikenal memiliki concern tentang dunia teater. Nur Sahid menuliskan pemikirannya tentang sumbangan yakni  Sosiologi Teater : Teori dan Penerapannya kepada dunia pengkajian seni.  Sosiologi Teater  masih dianggap sebagai sebuah  disiplin dari sosiologi yang baru. Untuk itu, sumbangan buku ini penting menjadi referensi bagi pengembangan ilmu teater, sosiologi seni , dan dunia seni pertunjukkan.

Linda Lasito : “ Imajinasi Saya Mudah Mengalir Mengikuti Alur Cerita Ini….,”

Buku ini sepertinya ingin mengingatkan bahwa berbicara tentang teater tidak hanya berbicara tentang proses kreatif keaktoran, penyutradaraan, artistik dll. Nur Sahid mengemukakan bahwa ada aspek lain seperti  sosio kultural yang bisa diperbincangkan karena memang  teater terkait dengannya.

“ Terlebih sebagai bangsa Indonesia, sosio kultural  yang dimiliki sebenarnya adalah daya tarik. Perlu kajian bagaimana mengangkat keunikan Indonesia menjadi  sebuah persembahan teater bagi penyadaran masyarakat,” kata Dian sambil membuka-buka buku ini.  Menurut Dian, buku ini memang layak menjadi referensi bagi  para ahli teater, pengkaji dan pemerhati dunia teater, namun masih diperlukan referensi lanjutan agar menjadi  alat kaji yang lebih matang.

dian husna VII

Judul Buku                                           : Sosiologi Teater : Teori dan Penerapannya

Penulis                                                 : Nur Sahid

Penerbit                                              : Gigih Pustaka Mandiri

Halaman                                               : viii+194

Cetakan pertama                             : Maret  2017