Gara-gara si Cucuk Emas

Pambudi adalah tokoh utama dalam cerita ini yang berjudul Di Kaki  Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Seperti buku-buku karya Ahmad Tohari lainnya, masa orde baru adalah latar waktu cerita ini. Bagi pembaca yang pernah merasakan masa itu,tidaklah sulit menyelami lintasan kalimat-kalimat yang ada pada buku setebal 176 halaman ini. Konflik-konflik sosial yang berasal dari keserakahan pejabat pemerintahan dengan alasan-alasan pribadinya yang terjerat hubungan politis, memicu tindakan-tindakan warganya.

Dalam cerita ini,Pambudi-lah orangnya. Kehendak dan  tekadnya membangun koperasi dengan jalan yang benar, terhenti karena kemenangan kepala desa yang baru,Pak Dirga. Intrik-intrik sebelum kades baru terpilih,cukup unik ditulis oleh Ahmad Tohari yang sepertinya masih terjadi di masa kini. Tersebutlah seperti botoh,dukun,perjamuan,janji calon,perdagangan suara, adalah diksi yang bisa digunakan mengurai apa yang terjadi.

Para calon kepala desa ingin menonjolkan keunggulannya masing-masing. Para calon pemilih tentunya memuji calon pilihannya. Hanya saja, pendapat seorang germo menjadi pendapat yang menarik.

“….bagiku sama saja.seorang lurah adalah laki-laki dengan cucuk emas. Baik janda atau  gadis,bahkan seorang ibu rumah tangga akan sulit menolak kehendak  seorang laki-laki cucuk emas.Saya paling pengalaman tentang masalah itu.Oh..”

Begitu pidato sang germo yang kemudian menyadari bahwa saat siang hari, tak ada satupun lelaki yang ingin dikatakan mengenal sang germo.

Pak Dirga  mulai berhitung berapa modal yang ia keluarkan. Ia membuat kebijakan yang memberikan ia peluang balik modal. Jelas kebijakannya tidak pro kepada kesejahteraan rakyat. Hingga seorang warga,Mbok Ralem, yang sakit datang  kepada Pak Dirga ditemani Pambudi untuk meminta pinjaman uang guna berobat ke Yogyakarta. Ditolak.

Dengan segala resiko dan ketulusannya,Pambudi membawa Mbok Ralem  ke Yogyakarta. Rumah Sakit disana, memberi informasi berapa biaya untuk melakukan operasi. Pambudi ternyata cukup cerdik dan spekulatif. Ia memasang iklan disebuah surat kabar tentang permohonan bantuan bagi Mbok Ralem kepada pembaca. Hasilnya, ternyata banyak sumbangan yang  diterimanya. Operasi sukses.

Akibat iklan itu dan berita yang kemudian diangkat membuat Pak Dirga kesal. Pak Camat dan Bupati menanti jawabannya mengapa Mbok Ralem tidak mendapat bantuannya.  Sedang Pambudi, mendapat sanjungan banyak orang.

KIsah Pambudi tidaklah sampai disitu. Ahmad Tohari memperluas lika-liku Pambudi lebih dari itu. Ia masih memikirkan desanya, ketidaksenangan Pak Dirga, pilihan cinta Sanis, kejengkelan Mulyani tentang perasaannya, nasehat Topo temannya, hingga koran Kalawarta. Kisah-kisah ini seperti mengajak pembaca untuk menganggukan kepala tanda setuju jika ada yang meminta konfirmasi bahwa perjalanan Pambudi bukanlah perjalanan hidup yang muluk. Ada alur hidup sosial  yang masih bisa dicerna dengan logika. Inilah keasyikan buku ini.

Sama persis pendapat sang germo   yang menjadi kenyataan. Dengan segala pengaruh jabatan Pak Dirga, sang cucuk emas (penis berujung “emas”) ini akhirnya   minta kawin lagi.

Judul                     : Di Kaki Bukit Cibalak

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan               : Maret 2023

Tinggalkan komentar