Diposkan pada novel

Stella Corine Haryadi : “..sisi humanisnya tetap melekat”

Membaca buku karya Andrea Hirata kemungkinan mudah  membuat pembaca hanyut. Bukan sekedar masuk kepada kisahnya, namun juga bisa membawa pembacanya kepada kenyataan kisah hidupnya.  Demikian pula dengan Stella Corine Haryadi yang jadi gelisah saat membaca di bab-bab awal, Perempuan berambut sebahu ini teringat pada rumahnya dan  khususnya ayahnya. ” Buku ini membawa saya bernostalgia ke kisah hidup saya sendiri,” kata Stella, panggilan akrabnya.

Padang Bulan,judul novel ini ,adalah novel pertama dari dwilogi Padang Bulan. Novel ini unik. Ikal, Enong, detektif M Nur adalah tokoh-tokoh yang membuat alur cerita yang menyedihkan, dan membuat tertawa. Kisah-kisah yang ditulis pada novel ini ringan namun sisi humanisnya tetap melekat. Misal, obsesi Enong pada kamus dan belajar bahasa Inggris, obsesi Ikal untuk menambah tinggi badan, atau si detektif M Nur yang tidak bisa jauh dari ibunya sewaktu bermaksud ke Jawa.  

Tidak setiap pembacanya memiliki kisah hidup yang dekat dengan kisah yang Andrea Hirata tulis pada novel ini. Juga, tidak semua pembaca mengerti kondisi Belitong. Namun Andrea Hirata memang terampil membuat tulisan yang mudah dimengerti pembaca seperti saat ia menerangkan suasana sebuah tempat, ataupun suasana hati tokoh-tokohnya. “Alurnya di bab-bab awal maju mundur, namun karena penulisannya bagus, saya tetap bisa mengikuti,” katanya lagi.  

Salah satu pengalaman saat membaca buku ini adalah tidak membosankan. Malah ingin segera menyelesaikannya. Menurut Stella, setiap bab pada novel ini memberikan keunikannya sendiri-sendiri. Diperkuat dengan kehadiran tokoh-tokoh lainnya seperti Zinar,”Jose Rizal”, Aling dll, kisah ini tetap fokus pada kisah Ikal sebagai tokoh utama,dan tokoh-tokoh penyegar nan penting yakni detektif M Nur dan Enong.    Saat kisah-kisah di novel ini terkesan sederhana, namun jika disimak lebih lanjut terdapat nilai kehidupan yang tinggi. “Tidak rugi baca buku ini,” kata Stella.

Judul : Padang Bulan , Novel pertama dari dwilogi Padang Bulan

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang


Iklan
Diposkan pada novel, Woman and The Book

Yedisihna Claire : “..memperjuangkan kejujuran hati..”

Salah satu yang menarik hati Yedishna Claire untuk membaca buku ini adalah tema sosial yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai penulis.  Bercerita tentang Kabul, seorang insinyur, yang mendapat tugas sebagai pelaksana sebuah proyek. Kabul adalah seorang aktifis semasa ia kuliah. Pengalaman keaktifisannya ini rupanya membekas dalam hatinya dan membuatnya menderita.  Pada pelaksanaan proyek yang ia pimpin di lapangan, ternyata ia tidak saja bersua dengan para pekerja dan masalah teknisnya.  Kabul harus menjumpai kenyataan bahwa partai politik dan politisi melirik proyeknya sebagai lumbung uang.

“ Kabul merasa bersalah karena ia tahu banyak kecurangan yang terjadi  namun merasa tak bisa membuat keadaan lebih baik,” kata Rere, panggilan akrab Yedishna Claire. Sesama aktifis saat kuliah yang menjadi kepala desa di wilayah proyeknya pun tak kuasa lepas dari ikatan partai politik. Lebih lagi,  Kabul harus berdiskusi alot dengan atasannya untuk memperhatikan kualitas bahan-bahan proyek yang terpaksa dipangkas mutunya .Namun jawaban yang ia dapat masih saja terkait dengan kepentingan orang-orang politik.

Saat tahu bahwa masyarakat sekitar ada yang terlibat kecurangan dengan orang-orang proyek, Kabul makin “mengerti” bahwa masyarakat telah menganggap kecurangan adalah hal biasa di proyek.  “ Mereka belajar dari para pejabat proyek,” kata gadis yang memiliki hobi renang dan nyanyi ini.

memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat
@yediisihnaclaire tentang Novel Orang Orang Proyek

Di puncak   rasa frustasinya, Kabul memilih untuk mundur dari pekerjaannya. Ia meninggalkan sebuah jabatan yang bagi banyak orang dianggap sebagai tempat “ basah” dan harapan bagus untuk kehidupan waktu mendatang. Menurut Rere, Kabul memperjuangkan kejujuran hatinya.

Pesan dari buku ini yakni memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat. Bagi Rere, konflik batin ini malah menjadi menjadi salah satu bagian yang menarik dari cerita ini. “Perjuangan sebagai  manusia yang idealis ternyata cukup berliku dan melelahkan,” ujarnya.

Bagi yang tertarik kisah-kisah bertema sosial, tulisan Ahmad Tohari patut dibaca.

Judul Buku          :Orang Orang Proyek

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama  

Cetakan               :Ke 4, Januari 2019

Halaman              : 256 halaman

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.”

@ertaardheana

(dok.pri)

Jika cerita pada buku ini yang ditulis oleh Ahmad Tohari berkisar pada cerita kisah hidup Lasi tentang percintaannya, mungkin telah banyak tema seperti itu. Namun jika sudah terkait dengan kehidupan politik termasuk intrik-intriknya, buku yang berjudul “ Bekisar Merah” ini memiliki nilai lebih. Bahkan nilai ini mampu meyedot perhatian pembaca untuk meneruskannya hingga halaman akhir.

“ Jalan ceritanya, tidak romantis-romantis banget..,” komentar Erta Ardheana yang pernah mengulas tentang buku ini saat masih kuliah. Alumni jurusan Sastra Indonesia dari salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di yogyakarta ini meneruskan pendapatnya bahwa ketertarikannya pada buku ini adalah sentilannya pada gaya hidup dan intrik politik oknum-oknum di lingkaran kekuasaan. 

Ahmad Tohari, sastrawan yang lahir di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas , telah merunutkan cerita hidup seorang Lasiyah dari istri seorang penderes kelapa menjadi pihak yang terseret intrik politik.Pesona Lasi yang memiliki keturunan darah Jepang, pelan namun pasti membawanya kepada perangkap bisnis berahi tingkat tinggi bagi oknum-oknum yakni Handarbeni dan Bambung, yang ternyata memiliki akses dan pengaruh besar  kepada para petinggi negara.

Hidupnya bisnis berahi itu tumbuh dan berkembang karena adanya permintaan. Bambung, Handarbeni dan Lanting adalah tokoh-tokoh disini yang menjadikan Lasi adalah “pujaan” mereka. Tarik ulur kepentingan diantara mereka berputar pada jabatan dan uang. Terlebih bagi Bambung dan Handarbeni, Lasi adalah penambah prestise saat mereka bertemu dengan banyak tokoh. Orang-orang seusia Bambung dan Handarbeni ternyata membutuhkan sosok Lasi sebagai pemberi kabar tidak langsung bahwa mereka berdua masih lelaki sejati.

Lasi yang sebelumnya hidup di desa, ternyata menikmati kemewahan yang ia dapatkan. Hanya saja ,batinnya tersiksa saat menyadari bahwa ia tak lain adalah obyek yang bisa dibarterkan. Ia merasa buntu untuk mendapatkan jalan keluar. Bu Lanting benar-benar menjaga obyek tambang duitnya itu sehingga Lasi harus menjauh dalam ketakutan. Lasi semakin lama , semakin paham sebenarnya siapa orang-orang yang selama ini berada disekitarnya.

Perjumpaannya dengan Kanjat disatu sisi membuat Lasi bahagia. Namun pada kenyataannya, Kanjat tak berdaya di hadapkan dengan tembok kekuasaan Bambung dan “menyerahkan” Lasi.  Rumit, politis, dan berliku.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh.

(Erta Ardheana, 2019)

“Itulah kekuatan Ahmad Tohari. Ia berhasil menampilkan tokoh-tokoh yang kuat karakternya yang berlatar kondisi sosial yang terjadi di saat itu,” jelas Erta. Kehidupan para penyadap kelapa di Karangsoga, kondisi sosial ekonomi mereka memperlihatkan kondisi kaum marjinal. Disisi lain, Ahmad Tohari menunjukkan suatu kondisi sosial ekonomi kaum elit yang ternyata mampu mempengaruhi kehidupan orang lainnya. “ Kejadian yang dialami Lasi merepresentasikan hubungan-hubungan tadi,”ujarnya.

Saat ditanya kesan Erta tentang Lasi, Erta berpendapat bahwa Lasi merupakan sosok yang lugu, nekat, gampang terbawa pengaruh. “ Kecantikan yang ia miliki tidak bisa mempertahankan dirinya dari seretan pengaruh Bu Lanting, “ tambah gadis yang menyukai travelling dan makan ini.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh. “ Lasi adalah  Janda cantik yang  terseret ke  lingkaran kekuasaan.”

Lanjutkan membaca “Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.””
Diposkan pada novel, Woman and The Book

Maria Rostanti :” Yang Tak Terlupakan adalah..”

IMG-20180820-WA0008
@maria_rostanti                                                                                      photo by adhitya Christanto

Bertemu seseorang yang spesial dimasa lalu biasanya membawa rasa kaget. Rasa ini kemudian diikuti rasa berikutnya: senang, galau, sedih ataupun antipati. Masing-masing rasa menggambarkan sesuatu yang pernah terjadi sebelum perpisahan terjadi. Jejak rasa. Sebuah jejak yang terjadi di masa lalu.

Inilah bagian awal untuk menarik kisah yang ada di novel ini, Yang Tak Terlupakan (Forgiven But Not Forgotten) karya Abby Green yang dialihbahasakan oleh Ambhita Dhyaningrum.

” Siena Depiero dan Andreas Xinakis menjadi dua tokoh sentral di novel ini.Sebuah kisah buruk terjadi diantara Siena, orang tua Siena dan Andreas pada kali terakhir mereka bersama yang membuat Andreas pergi membawa dendam,” kata Maria Rostanti.

Menurut Maria, panggilan akrab perempuan berambut panjang ini, cerita ini kuat dari sisi eksplorasi histori sejak peristiwa buruk itu dan menjadi sumber terjadinya hubungan kembali antara Siena dan Andreas.

Andreas yang telah sukses menjadi pengusaha hotel  ternyata masih memendam sumpahnya untuk menyelesaikan dendam dimasa lalu. Itu yang ia lakukan setelah perjumpaannya kembali dengan Siena. Andreas menguasai Siena. Dalam sebuah rasa sesal atas kejadian buruk itu di masa lalu, Siena bersikap menerima perlakukan Andreas.

maria
“Masing-masing rasa menggambarkan sesuatu yang pernah terjadi sebelum perpisahan terjadi. Jejak rasa. Sebuah jejak yang terjadi di masa lalu.” (Maria,2018)                                                                                                                                                                                      photo by : Adhitya Christanto

 

“Pembalasan tidak selalu berwujud kekerasan fisik,” kata Maria. Pada novel ini, dialog yang didominasi Andreas dan Siena menggambarkan tentang pembalasan, namun bukan bukan kekerasan fisik.

Melalui dialog itulah terungkap kebenaran-kebenaran dari terjadinya dendam, Ini yang membuat dendam berangsur berganti menyisakan rasa jujur.

Lalu siapakah yang akan baper jika membaca novel ini, Maria?

” Orang yang sedang atau pernah bertemu dengan seseorang spesial, saya yakin, bisa memahami cerita ini, atau malah jadi  baper,” katanya sambil tersenyum.

 

Judul Buku : Forgiven But Not Forgotten
Penulis : Abby Green
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Halaman : 284

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Melisa Febriana Panjaitan : “ Aku …nggak bosenin..”

melisa 10 asliDunia perbukuan dan literasi bukanlah hal asing bagi Melisa Febriani Panjaitan. Sejak dari kecil, ia sudah suka membaca buku. Di waktu  SMP, Melisa  sudah terbiasa menulis. Lulus kuliah ,jejak literasinya sudah terekam melalui karya-karyanya   yakni  Panilaran dan Bagong.  Dua karya itu adalah novel yang sudah diterbitkan dengan nama penulis Odilia Melisa. Bahkan, Panilaran telah difilmkan.

Perempuan asal palembang   ini pengagum karya Paulo Coelho.” Harus sekali habis, gak mau ditunda”,katanya. Berbeda dengan saat ia membaca kumpulan cerpen. Novel semacam ini tidak harus ia lalap dalam sekali waktu. Saat ia telah selesai membaca per kisah, maka ia bisa menunda diwaktu lainnya. “ Aku bacanya bisa ditunda.. jadinya nggak bosenin,” ujarnya.

Seperti buku yang ia baca sekarang adalah kumpulan cerpen tulisan dari Ernest

Hemingway. Cukup tebal. Hemingway yang tumbuh dewaaa di saat peperangan dunia pertama  dan juga pada tahun-tahun berikutnya, Hermingway mengalami juga masa perang dunia ke 2. Pengalaman-pengalamannya inilah yang kemudian dituangkan dalam karyanya seperti  A Farewell to Arms.

Buku setebal ini yang berjudul The Complete Short Stories of Ernest  Hemingway , menampilkan puluhan cerita pendek. Tidak berseri. Kadang, pada bagian akhirnya dibiarkan oleh Hemingway  menjadi bagian yang mengambang. Pembaca  yang berusaha mencari  hasil akhir hanya bisa merek reka,tidak memahami atau tidak menemukan sebuah dugaan “ setelah ini mau bagaimana ”. Sepertinya ini salah satu kekuatan dari  buku ini yakni membuat pembaca berpikir dan menerka sehabis  mereka membaca.

melisa 11 asli
“Hemingway dalam karyanya tidak selalu menuliskan roman yang happy ending,”@odiliamelisa (2018)

Contoh, dalam kisah Petarung.  Hanya ada 4 tokoh disebut. Obrolan lebih didominasi oleh 3 tokoh. Setelahnya, mereka berpisah dengan tanpa kejelasan akan seperti apa selanjutya mereka bertiga.

“Hemingway dalam karyanya tidak selalu menuliskan roman yang happy ending,” ujar perempuan berzodiak Aquarius  ini.  Saat ditanya tentang  kira-kira apakah generasi milenial menyukai karya-karya Hermingway, Melisa berpendapat bahwa hanya orang-orang yang mencintai literasi (seperti dirinya) yang mungkin menyukainya. “Termasuk buku ini, cerita-cerita yang ada disini juga bisa tampak agak asing bagi pembaca waktu sekarang. Namun jangan kuatir,   hasil terjemahannya di buku ini enak dibaca jadi mempermudah kita mengetahui apa isi ceritanya” katanya.

Mau coba baca buku yang dipegang Melisa???

 

Judul Buku                          : The Complete Short Stories of Ernest  Hemingway

Pengarang                          : Ernest Hemingway

Penerbit                              :Immortal Publisher

Penerjemah                       : Zulkarnen Ishak dan Muhammad Dhanil H

Jumlah Halaman               :xii +948

Cetakan pertama 2017

 

 

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Asha Nuria Novitasari : “Yang Sedang Pedekate…”

IMG-20180406-WA0002
@ashannov

Sebuah novel tampak tergenggam di jemarinya.  Bergambar lelaki telanjang dada sambil tangannya sedang mengolah menu. “ Aku coba baca buku genre lain,”kata Asha . Biasanya tema favoritnya adalah perempuan, namun kali ini ia memilih novel roman. Novel ini  berjudul  Too Hot to Touch  yang ditulis oleh Louisa Edwards.

Walau bukan buku baru, menurut Asha, temanya adalah sesuatu yang everlasting.“ Buku ini lebih bisa dirasakan oleh mereka yang sedang pedekate atau jadian awal,” katanya lagi.

Buah Hati Sedang Sakit Apa? Ini Menu Makanannya

Buku ini berkisah tentang kembalinya Max Lunden dari pengembaraannya menimba ilmu tentang kuliner di berbagai negara. Hingga suatu saat, ibunya meminta pulang untuk sebuah Kontes kuliner yakni Raising Star Chef. Kontes ini memiliki arti penting bagi resto orang tuanya , Lunden ‘s Tavern.  Max benar-benar pulang namun ia mengatakan bahwa setelah kompetisi selesai, ia akan pergi lagi.

Max bertemu dengan Jules Cavanaugh. Singkatnya, mereka berkencan sambil terlibat sebagai tim dalam kompetisi Rising Star Chef.  Memang ada kekhawatiran, hubungan mereka akan mengganggu konsentrasi tim.  Bahkan sempat pula orang tua Max meminta Jules untuk menjauhi anak mereka.

IMG-20180410-WA0046
recipe for love

“ Disinilah naik turun emosi pada kisah ini. Apalagi Jules tahu bahwa Max akan pergi  setelah kontes berakhir,” ungkap Asha yang saat ini berprofesi sebagai Project Coordinator pada sebuah perusahaan.

Hal yang terasa lain pada buku ini adalah pernak-pernik menu yang dipilih oleh  tim Lunden’s Tavern. Bahkan pada halaman belakang, tertulis resep-resep  komplit yang memang menjadi bahan cerita novel ini. “ Ini bukti keseriusan  penulisnya,” sergah Asha.

“ Satu lagi yang menarik,ini termasuk hot..!” kata Asha sambil tertawa.

Maksudnya,Sha????

 

too hot to touch 2

Judul                     : Too Hot To Touch

Penulis                 : Louisa  Edwards

Penerbit              : PT Elex Media Computindo

Halaman              : xxii + 422

 

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Pipit Tita Adhitya : Memaafkan Dipilih Dari 1000 Alasan Untuk Membenci

tita2

 “Bila saat ini kita sedang marah dan membenci seseorang atau sekelompok orang, dan merasa sukar berdamai dengan kemarahan itu, ada baiknya nikmati makanan favorit atau  tidur demi meredakan perasaan itu. Setelahnya, silakan baca buku ini,” kata Tita, panggilan akrab dari Pipit Tita Adhitya.

 

Ditangannya terdapat sebuah buku yang berjudul I Shall Not Hate tulisan dari Izzeldin Abuelaish, seorang dokter  kandungan di salah satu rumah sakit di Israel. Izzeldin menuangkan pengalaman hidupnya mulai saat kecil, dedikasi kepada profesinya, kematian  istrinya, dan tewasnya ketiga putrinya  terkena bom tentara Israel.

Apa lagi yang tersisa bagi seorang laki-laki yang kehilangan anak-anaknya dari  misil orang-orang yang mungkin  keluarga mereka pernah dibantu masalahnya tentang terapi memperoleh keturunan oleh Izzeldin?

“ Amarah dan dendam,” tukas Tita.

Lusi : “Membuatkan menu yang disukai anak itu, menyenangkan!”

Amarah dan dendam memang tampak logis sebagai pelampiasan amarah setelah ia kehilangan anak-anaknya.  Rasanya Izzeldin memang sangat berhak marah. Bukan saja karena apa yang menyebabkan ketiga putrinya tewas, namun karena banyaknya penghinaan, prasangka buruk kepada dirinya sebagai keturunan palestina  yang berlangsung lama oleh pelaksanan tugas dari rezim yang berkuasa.

“ Tapi Izzeldin memilih untuk tidak membenci,” kata @pipititadhiyta lirih.Tita merasa tidak mudah memahami mengapa Izzeldin memilih sikap itu. Ia juga merasa bahwa banyak orang yang juga akan sependapat dengannya.

tita1
@pipititadhyita

Mungkin salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan mengetahui karakter Izzeldin Abuelaish  dan mencari jejak proses yang menuju ke sikapnya yang tidak mau membenci. “Untuk itu harus dibaca buku ini hingga selesai. Ini adalah True Story.” jelas Tita.

Saat ditanya, jika Tita merasakan marah, apa yang ia lakukan. Sarjana Peternakan dari sebuah kampus negeri di Yogyakarta ini memilih untuk fokus pada hal yang positif yakni  mengerjakan bisnis  produksi hijabnya dengan label @dinantihijab .Tita bisa mengurusi mulai dari desain, pemilihan kain, ukuran dan pemasarannya.

“Marah boleh. Tapi jangan lama-lama. Arahkan ke hal yang  lebih positif,” katanya sambil senyum.

 

Judul Buku          : I Shall Not hate

Penulis                 : Izzeldin Abuelaish

Penerbit              : Qanita (PT Mizan Pustaka)

Cetakan ke 1      : 2011

Halaman              : 308

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Esterlita Damayanti : “Aku Yang Dulu,Aku Yang Sekarang, dan Aku Yang Akan Datang adalah..”

“Ini adalah novel baru di bulan Januari tahun ini,” tutur  Ester sambil menunjukkan sebuah buku tebal yang sampulnya tergambar seorang pelajar Sekolah Dasar. Disitu ada sebuah tulisan mencolok berwarna merah “ Darah Muda”.

Pada awalnya, Ester  mengira bahwa judulnya itu menggambarkan sosok yang masih muda, labil,mudah marah, dan emosinya sensitif. Ternyata, dugaanya lebih banyak  meleset. Novel karya Dwi Cipta ini, mengisahkan seorang “Aku” sebelum ia lahir, setelah lahir , dilanjutkan dengan masa-masa berikutnya pada perkuliahan.

“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai otobiografi penulis novel  ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang  yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan,” kata gadis penyuka warna ungu ini.

Ester mengingatkan, bahwa para pembaca novel ini jangan berharap menemukan sebuah kasus yang kemudian membawa  ke sebuah fase klimaks penyelesaiannya. Tidak! Disini , kisah-kisah yang terangkum dalam novel ini beralur maju. Pembaca akan menemukan letupan-letupan  kecil  emosi si “Aku” saat menemukan masalah, mencari jalan keluar, tidak mendapat dukungan dll dan semuanya mengalir begitu saja. Si “Aku” berproses terus menerus ke waktu mendatang.

“ Nah, disini kekuatan novel ini,” tegas Ester yang selalu menyukai Pulau Bali untuk menjadi destinasi wisatanya. Menurut Ester, novel ini menuliskan tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya dekat dengan  kehidupan kita, bahkan beberapa kasusnya akan sama dengan kisah hidup pembacanya.

“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai autobiografi penulis novel ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan,
“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai autobiografi penulis novel ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan. (Ester,2018)

Khususnya bagi para pembaca yang pernah merasakan saat remaja hingga mahasiswa pada tahun 90-an  tidak usah mengerutkan kening untuk memahami apa yang ditulis Dwi Cipta ini. Sedang  bila pembaca usia yang lebih muda, mungkin akan begitu merasa agak “aneh” karena sentuhan teknologi  komunikasi kurang terekspos.

Saat ditanya, kira-kira makna Darah Muda pada judul novel terbitan Literasi Press ini , Ester menuturkan bahwa  “Darah Muda” menggambarkan prosesnya seorang “Aku” mulai dari masa Dulu, Sekarang, dan Akan Datang. Darah Muda selalu bergerak maju  untuk mencari  penggenapan mimpinya.

“ Tapi lebih tepat, kita tanya ke penulisnya  saja.hehe,” usul Ester sambil tertawa manis

dwi cipta
Dwi Cipta

Judul                                     : Darah Muda

Penulis                                 : Dwi Cipta

Jumlah Halaman              : x+386

Cetakan                               : pertama, Januari 2018

Penerbit                              : Litersi Press     

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Ika Sari Rahmawati : Hanyut Dalam Kisah si Black Beauty

ika rev
@ikaaasr

Jika membaca sebuah novel tentang manusia kemudian tersentuh oleh cerita yang dibaca, itu sudah biasa. Namun, jika tokohnya adalah hewan, mungkin tidak semua pembaca novel bakal tersentuh  terkecuali seperti gadis berparas manis dari Kalimantan ini , Ika Sari Rahmawati.

 

Bagi Ika , panggilan akrabnya, buku yang telah ia baca berjudul Black Beauty mengisahkan pengalaman seekor kuda jantan  yang dinamai Black Beauty oleh pemiliknya. Pada awalnya , kehidupannya bahagia  bersama dengan ibunya di Farmer Grey. Hingga kemudian, mulailah kehidupannya yang menyedihkan . Beauty dijual.

“ Saat berdekatan  (Beauty) dengan ibunya, adalah hal yang membahagiakan. Namun kata “dijual” adalah kata yang membuat saya sedih.. Itu memisahkan mereka,” kata Ika .

Kisah Beauty berlanjut. Di tempat barunya, Bertwick Hall, Beauty beruntung bertemu dengan kuda-kuda lainnya yakni Merrylegs, Ginger, dan Sir Oliver.  Mereka berteman baik. Sayangnya, saat keluarga Gordon harus pindah, mereka harus menjual si Beauty ke pemilik Earlshall Park. Disana, Beauty harus bekerja keras  seperti memanggul beban  dll.

Dijual dan dijual lagi menjadi pengalaman Beauty berikutnya. Lama kelamaan, Beauty tidak sanggup menanggung beban kerja yang berat. Ia sakit. Hingga suatu saat, ia dijual ke Blomefields yang letaknya bertetanggaan dengan majikan awalnya yakni keluarga Gordon. Disinilah Beauty mendapat perawatan yang bagus dan mulai pulih.

Saat ditanya, apa kesan lanjut tentang kisah Beauty ini, Ika mengatakan bahwa walalupun tokoh yang diangkat adalah seekor kuda, namun penulis ingin mengangkat arti  warna-warni kehidupan. Suatu saat kita sedang bahagia, namun bisa saja kemudian berubah menjadi susah.. Suatu saat di atas, suatu saat di bawah.

Beauty memang tidak bisa menentang keinginan majikannya untuk dijual apalagi memilih majikan. Beauty hanya seekor kuda yang harus melakukan keinginan majikannya. Namun ternyata Beauty tetap memiliki keinginan kehidupan yang lebih baik. “Beauty punya  harapan,” kata Ika.

IMG-20171201-WA0024
“Beauty punya harapan…!”

Saat ditanya perihal  caption yang dia suka,  gadis yang memiliki akun IG @ikaaasr ini menunjukkannya:

The boy was proud of his charge, and undertook it in all seriousness. There was not a day when he did not pay me a visit, sometimes picking me out amongst the other horses, and giving me a bit of carrot, or something good, or sometimes standing by me whilst I ate my oats. He always came with kind words and caresses, and of course I grew very fond of him. He called me Old Conny, as I used to come to him in the field and follow him about. Sometimes he brought his grandfather, who always looked closely at my legs; (part 4 – chapter 48)

Mengapa?

“In this part Black Beauty really likes his master, Willy, because Willy taking a good care of him. And he tells us that a good master is the one who treat you in the best way,” jawabnya.

 

“Apa enaknya membaca buku novel yang berbahasa Inggris seperti buku ini?”

Ika menyahut,” Lebih terasa soul nya”.

Maklum, dia lulusan Sastra Inggris dari sebuah kampus di Yogyakarta memang aktif terus berbahasa Inggris termasuk di tempat kerjanya sekarang..

 

IMG20171205111950

Judul Buku : Black Beauty

Penulis : Ana Sewell

Penerbit : Penguin Group

Jumlah halaman 213

 

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Asha Nuria Novitasari : “Kisah Janda Belia Nujood Tidak berakhir di sini…”

IMG-20171125-WA0016

Buku terbitan beberapa tahun lalu, bukan berarti tidak bisa memberi inspirasi di masa kini. Jelas bagi para pembaca buku sudah memahami bahwa isi dari sebuah buku yang dibaca adalah hal yang terpenting.

Isi buku tak hanya bisa menghantarkan kisah yang informatif  namun juga  bisa menggugah jiwa. “Walaupun terbitan lama, jika menginspirasi biasanya kubaca lagi,” kata Asha Nuria Novitasari sambil menunjukkan sebuah buku yang berjudul Saya Nujood, Usia 10 dan Janda yang ditulis oleh Nujood Ali dan Deplhine Minoui.

Menurut gadis kelahiran November ini, buku  tersebut mewakili minatnya tentang hal-hal perjuangan hak  perempuan. “Kisah Nujood adalah kisah nyata,” tuturnya. Kisah Nujood mengetuk banyak hati orang diseluruh dunia. Berasal dari sebuah desa di Yaman, kehidupannya sebagai seorang perempuan diatur oleh berbagai aturan sosial yang telah berlaku turun-temurun dan diberlakukan lebih ketat dibanding untuk kaum pria.

Pada awalnya, hidup Nujood berjalan seperti anak-anak yang lainnya, seperti menyukai permen,bermain dan  menonton Tom &Jerry. Dalam masa itu juga ia melihat kehidupan kedua kakak perempuannya  Jamila dan Mona, yang tidak jauh terpaut umur mereka namun sudah menikah. Kondisi kehidupan kedua kakak perempuannya tidaklah begitu baik. Hinga saat berikutnya, ayah Nujood telah memutuskan menerima lamaran seorang pria  untuk Nujood yang usianya terpaut tiga kali lipat dari usia Nujood.

“Saya kesulitan mendeskripsikan suasana hati Nujood saat itu tapi bisa merasakannya “ kata Asha.IMG-20171125-WA0013

Nujood adalah anak-anak biasa pada umumnya, tapi pada perjalanan selanjutnya, ia telah berpikir dan bertindak melebihi masa anak-anaknya, pergi ke pengadilan dan bercerai. “Seorang istri yang masih berusia 10 tahun (anak), datang ke pengadilan, meyakinkan hakim  dan mengajukan perceraian, rasanya adalah keinginan yang asli dan tanpa rekayasa,” tutur Asha lagi.

 

 

 

” Aku ingin bermain di luar, seperti anak-anak seusiaku, tapi dia memukuliku dan terus-menerus  memaksaku kembali ke kamar tidur bersamanya untuk…..”

Kata Nujood Ali (hal. 130) kepada seorang reporter

Meski Nujood telah menang di pengadilan, meyandang gelar baru yakni janda (belia) tapi kini  menjalani kehidupan yang lebih menggembirakan. Bagi Asha,kisah tentang Nujood tidaklah berhenti di sini. Justru seharusnya menggugah kita lebih peka, menengok dan membantu anak-anak lain yang kurang lebih bernasib sama dengan Nujood semasa pernikahan.

Saat ditanya, apa pesan dari buku ini ,Asha mengatakan bahwa sebenarnya Nujood adalah gambaran orang yang lemah baik dari fisik, sistem sosial politik daya tarik pribadi. Namun justru karena hal-hal itulah perlawanannya menjadi penggugah jiwa banyak orang untuk terlibat mendukungnya.  Nujood bukanlan sekedar obyek, namun subyek yang bersama-sama dengan orang lain memperjuangkan perbaikan lebih luas  bagi masalah yang mirip menimpa Nujood. Bukan saja kesadaran, namun tindakan.

 

IMG-20171125-WA0014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul                        : Saya Nujood, 10 Tahun dan Janda

Penulis                   : Nujood Ali dan Delphine Minoui

Halaman               : 236 halaman

Hak Cipta              : @Michel  Lafon Publishing 2009

Penerbit                : Pustaka Alvabet

Cetakan                 : ke 2 ( Desember 2010)