“ Ketidaknyamanan propagandis pemakaian kondom dan spiral…”

Istilah propagandis pemakaian kondom dan spiral adalah salah satu istilah yang  menarik mata dan menancap di ingatan otak secara mudah. Istilah ini akan mudah ditemukan pada kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul Rumah Yang Terang.  Secara singkat, cerita ini mengangkat tentang masuknya listrik ke sebuah pemukiman. Untuk mengalirkan listrik, maka perlu kerjasama semua warga dengan cara merelakan satu dakstang berada di bubungan rumah agar memudahkan pengaliran listrik ke rumah lainnya.

Sang anak merasa galau, sebab ayahnya yakni  Haji Bakir, tetap tidak mau memasang listrik dan dakstang. Akibatnya, warga yang berada terdekat dari rumah Haji Bakir yang ingin menjadi pelanggan, tidak bisa memasang listrik.  Si anak inilah sang propagadis pemakaian kondom dan spiral.  Ia galau karena pekerjaannya yang modern ini tidak bisa menjelaskankan kepada sang ayah perlunya memasang listrik bagi rumah mereka. Hasilnya yakni, gerutuan warga sekitar. Tentu saja, ada alasan sendiri  dari Haji Bakir mengenai ketidaksetujuannya itu yang akan kita temukan pada paragraf jelang akhir cerita.

Bagi peminat cerpen-cerpen bertema sosial seperti ini, karya Ahmad Tohari menjadi salah satu pelega  yang dalam kisah-kisahnya terasa manis, asin, melankolik dan menggelitik syaraf tertawa.  Pesan yang ia sampaikan terselip halus melalui kasus-kasus yang ia angkat.

Kisah Blokeng adalah salah satu contoh lainnya.  Blokeng adalah perempuan yang hamil namun tidak diketahui jelas siapa ayah biologis  dari bayi yang ia kandung.  Jika ditanya , ia tidak memberi penjelasan yang meyakinkan. Suasana desa berubah. Baik laki-laki atau perempuan dewasa memperunjingkan tentang Blokeng.  Pelan-pelan, gunjingan mengarah kepada rasa saling curiga di antara warga.

“ Kang Sarpin Minta Dikebiri” Lah……..?!

Tak lama, bayinya Blokeng lahir. Lurah Hadining berinisiatif mengumpulkan warga dan menyelesaikan masalah Blokeng.  Saat warga sudah berkumpul, ia menyatakan bahwa ia bertanggung jawab terhadap kelahiran anak Blokeng dan mengakui bayi itu adalah anaknya.  Hal ini sungguh melegakan warga desa. Mereka merasa hal kecurigaan siapa yang hamili Blokeng terjawab.   

Namun suasana itu segera berubah. Blokeng menarik kopiah Pak Lurah sambil mengatakan bahwa laki-laki-laki yang mendatanginya itu tidak berkepala botak. Geger. Di satu sisi nama Pak Lurah menjadi bersih, disisi lain kecurigaan menyemai lagi diantara warga.

Esoknya, kampung itu banyak berkeliaran warga ndulru, alias gundul baru.

Ahmad Tohari selalu punya karakter kuat dalam karyanya. Termasuk kumpulan cerpen dalam buku Senyum Karyamin ini. Buku ini tidak tebal.  Hanya berhalaman sejauh angka 71.  Bagi pembaca  yang kelahiran 2000an,buku ini akan membawa pembaca menengok suasana zaman orde baru. Suasana, nalar   yang berkembang, dan perilaku warga disesuaikan pada saat-saat itu.   Ada 13 cerpen disini dan semuanya termuat pada tahun 1976, dan yang terakhir pada tahun 1989.   

Judul Buku : Senyum Karyamin

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : keduabelas Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s