Dag Dig Dug… di Big Bad Wolf Book Sale 2019

Menyempatkan waktu, Resensi Buku Pilihan mengunjungi lokasi pameran buku  di JEC Yogyakarta pada siang hari. Sudah banyak pengunjung yang meramaikan acara ini.Mereka menyebar dan berkeliling untuk melihat,membaca dan menimang apakah buku yang mereka minati akan dimasukkan ke dalam keranjang belanjanya.

Sebatas yang Resensi Buku Pilihan amati, terdapat 2 jenis buku yakni buku berbahasa indonesia dan buku impor yang berbahasa Inggris. Buku-buku itu diletakkan berdasar jenis –jenisnya sehingga memudahkan pengunjung untuk mendatangi sesuai minatnya. Jenis-jenis buku tersebut diantaranya yakni jenis cerita, workbook, sticker books, religion, dan activity books. Untuk jenis-jenis ini diperuntukkan bagi anak-anak.

Selain itu, untuk jenis fiksi, non fiksi dan health cookery  tersedia cukup banyak pilihan buku . Tentu saja , ragam pilihan seperti ini sebenarnya membuat dag dig dug para penikmat buku. Bagaimana tidak?

Banyakya buku bagus adalah godaan berat untuk memiliki sebanyak mungkin. Namun tentu saja, berimbas kepada uang yang dikeluarkan walau  sepengamatan Resensi Buku Pilihan  harga-harga buku khususnya buku impor relatif terhitung “murah”.Umumnya masih dibawah Rp. 100.000,-.

Pameran buku ini direncanakan berlangsung sejak 2 Agustus hingga 12 Agustus. Pengunjung tidak dikenai biaya masuk ke lokasi acara. Bagi peminat buku, acara ini janganlah  dilewatkan.

Ersyana Candra Dewi : “ Saya biasa melakukannya minimal 1 menit.”

@ersyanacandra

Rutinitas kehidupan sehari-hari yang meliputi dunia pekerjaan dan relasi sosial lainnya, secara sadar ataupun tidak bisa menenggelamkan mimpi, hasrat dan kekreatifitasan kita. Kondisi seperti ini bisa menuntun kepada “rasa lelah” dan meningkatnya rasa stress yang pada akhirnya kualitas hidup kita menurun. “ Sesekali, perlulah kita menarik diri dari rutinitas,” kata Ersya.

Perempuan yang berasal dari salah satu kota di Jawa Timur ini mengamini bahwa menarik diri dari rutinitas membuat  ia memiliki peluang menyegarkan diri baik secara fisik maupun mental. Menarik diri dari rutinitas dan  memasuki keheningan.

Darimana ia terinspirasi melakukan “keheningan” ini?

Menurut Ersya, setelah membaca buku Sejenak Hening, ia mendapatkan inspirasi-inspirasi baru tentang bagaimana ia menjalani waktu-waktunya. Buku tulisan Adjie Santosoputro ini merekomendasikan konsep keheningan yang dibangun dari kesadaran realitas sehari-hari. Adji dalam bab-bab yang ia tulis memberikan cerita-cerita yang memudahkan pembacanya memahami. Salah satu contoh yang disukai Ersya adalah bab tentang Terapi Kelereng.

Pada bab ini, melalui percakapan seorang tua dan anak muda yang sepertinya memiliki karir bagus, kita diingatkan bahwa ada hal lain selain pencapaian prestasi kerja yang ternyata sangat penting bagi hidup kita yakni keluarga. Waktu terus berjalan dan tidak bisa kembali. Ada baiknya, kita tidak melupakan kebersamaan dengan keluarga.

Selain cerita inspirasi,Ersya juga mendapat tips bagaimana membuat keheningan. Terdapat gambar yang memudahkan ia mengikuti tips tersebut.  “  Saya biasa melakukannya minimal 1 menit,” katanya lagi.

Buku ini ditulis oleh Adjie Santosoputro dengan pemilihan kata-kata yang sederhana. Tidak berbelit-belit.Dengan demikian memudahkan pembaca memahaminya.  

Judul buku : Sejenak Hening

Penulis : Adjie Santosoputro

Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai,2018

Ada diskon mulai 30-50% di UGM Press, mau?

foto : ilustrasi

Dilansir dari ugmpress.ac.id, dalam menyambut Hari Buku Nasional (17/5) UGM Press punya cara sendiri memeriahkannya. UGM Press membagi diskon mulai 30% hingga 50% bagi pelanggan.

“Pelanggan bisa belanja buku-buku UGM Press secara online dengan mengakses website http://ugmpress.ugm.ac.id/id,” kata Dr. Wayan selaku Manajer UGM Press.

foto : ugmpress.ac.id

Ia berharap potongan diskon atau potongan harga ini bisa mempermudah pelanggan membeli buku.

“Program diskon buku ini berlaku hingga tanggal 24 Mei 2019. Ayo buruan!



Catatan Kecil Tentang Hari Buku Nasional

Beberapa hari lalu, tepatnya 17 Mei, diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Tentang sejarah peringatan ini, bisa kita simak dari berbagai sumber yang ada di internet. Untuk turut mengisi semangat peringatan itu, resensibukupilihan.com ingin mengajak kepada semua pembaca untuk tetap meneguhkan kebiasaan membaca buku seberapapun sibuk kita. Tidak perlu memaksakan membaca buku yang mungkin temanya tidak menarik bagi kita walau memang sebenarnya akan menambah pengetahuan kita. Tetap perlulah bagi kita membaca sesuatu tema yang kita sukai supaya agar aktifitas membaca harus terasa menyenangkan.

Teringat kepada “SARINAH” saat hari Kartini..

(Mumpung masih dekat hari perayaan paskah, resensibukupilihan.com mengucapkan selamat paskah bagi pembaca yang merayakan….)

Selain hari paskah ,di tahun ini,pada tanggal 21 April bersamaan dengan peringatan hari Kartini. Setiap tahunnya, Hari Kartini adalah salah satu hari libur nasional. Pada tanggal dan bulan kelahiran Kartini  itu, kita diajak untuk mengenang jasa RA Kartini.  Pahlawan ini telah berjuang bagi kaumnya di masanya. Kartini terpesona dengan kondisi perempuan eropa yang memiliki kesempatan belajar sehingga majulah pemikiran mereka.   Ia membuat sekolah bagi perempuan  dan mengajarkan berbagai ketrampilan mulai membaca, menulis dan lain-lainnya. Ia ingin membantu mengangkat derajat kaumnya.

Pada perayaan kartini tahun ini, kami teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh Sukarno,Presiden pertama Indonesia. Diantara kisah perjuangan dan pribadinya, melalui bukunya berjudul Sarinah, Sukarno menancapkan pemikirannya bahwa  laki-laki dan perempuan harus duduk bersama memecahkan permasalahan tentang perempuan dalam ruang Republik Indonesia.

“……Sekali lagi soal perempuan s  e l u r u h n y a,- dan bukan hanya mitsalnya soal tabir atau lain-lain soal yang ketjil saja!Soal perempuan s e l u r u h n y a, posisi perempuan s e l u r u h n y a di dalam masyarakat,- itu;ah yan  harus mendapat perhatian sentral,  itulah yang harus kita fikirkan dan pecahkan, agar supaja posisi perempuan didalam Republik Indonesia bisa kita susun sesempurna-sempurnanja.”

(Sarinah, hal 13-14)

Salah satu kekaguman kami  pada buku ini yakni referensi kuat yang dimiliki oleh Sukarno.  Ia mampu mencuplik dan mengulas berbagai referensi yang menyoroti tentang  perempuan dan gerakan-gerakan yang mengusung isu perempuan. Sukarno juga membangun argumennya mengapa ia menolak ataupun menyetujui sebuah pendapat.  Hal ini bisa kita simak dari bab  I (Soal-Perempuan)  ,II (Laki – Laki dan Perempuan), III (Dari Goa Kekota), IV ( Matriarchat dan Patriarchat), V (Wanita Bergerak),  VI (Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia).

Buku yang judulnya diambil dari pengasuh Sukarno ini, jelas bukan sembarang buku. Selain menyentuh sisi sejarah , ilmiah, buku ini kira-kira menggambarkan “pedoman” bagaimana para perempuan bisa bekerjasama dengan laki-laki menuju sebuah keadaan masyarakat  yang diinginkan oleh Sukarno.   

Apa yang dilakukan oleh Kartini dan apa yang telah ditulis oleh  Sukarno, setidaknya menggambarkan titik-tiitk perhatian dan perjuangan kepada perempuan. Apa yang telah mereka perjuangkan bisa menjadi salah satu refleksi tentang perempuan di masa kini.  

Judul Buku : Sarinah

                        Kewajiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia

Penulis : Dr Ir Sukarno

Halaman : 329

Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno 1963

Cetakan  : ketiga

Ini 3 buku bagus untuk para marketing, dosen/praktisi komunikasi, politisi , aktifis sosial/politik , content writter dll



Judul : Contagious Rahasia di Balik Produk dan Gagasan Yang Populer
Penulis : Jonah Berge
Penerbit: PT Gramedia Pustaka

Anda ingin program, produk atau kampanye milik anda menjadi “getok tular”? Ini salah satu buku yang pas untuk menjadi referensi unggulan.

Jonah Berger mengetengahkan bahwa proses getok tular bisa disimak dari perbincangan kita dengan teman-teman di kantor, ataupun bersama keluarga di  rumah. Perhatiakan apa ada hal yang membuat anda tertarik dan ingin bercerita dengan lainnnya.

Penulis ini telah meneliti dan  menemukan adanya prinsip bagaimana sesuatu menjadi getok tular. 3 dari 6 hal yang ia sampaikan yakni: mata uang sosial, pemicu dan emosi.

2


Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Kita setiap saat bisa mendapat gagasan atau ide. Gagasan itu kita olah dan dijadikan konsep yang matang baik untuk program sosial/ bisnis , kampanye , edukasi dll. Setelahnya kita presentasikan kepada orang lain. Namun kadang kala sambutan mereka terasa hambar ataupun minim respon.

Chip Heath& Dan Heath  , melalui serangkain eksperimennya menemukan bahwa gagasan yang bagus kadang kalah oleh gagasan yang buruk. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa hal ini terjadi?

Para penulis ini menemukan bahwa gagasan bisa melekat kepada orang lain. Penyampaian gagasan tidak harus disertai data yang detil. Namun penyampaian gagasan tersebut harus bisa terasa sederhana dalam logika dan perasaan orang yang kita tuju.

3.


Judul : The Tipping Point How Little Things Can Make a Big Difference
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Malcolm Gladwell, dalam buku ini mencermati apa yang terjadi denganHush Puupies. Sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dan karet mentah buatan Amerika Serikat ini tiba-tiba digandrungi banyak orang . Produsennya pun kaget dengan fenomena ini.  Bagi Gladwell kondisi ini sebagai bentuk epidemi sosial.  Berdasar banyak penelitian , Gladwell menemukan bahwa  epidemi sosial  memiliki keterikatan dengan 3 kaidah berikut yakni Hukum tentang yang sedikit, Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks

Dengan kaidah ini, para pembaca  yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, penelitian sosial, dan bisnis akan mudah memahami mengapa sebuah produk,program sosial bisa disambut atau bahkan, ditolak oleh masyakarat atau konsumen.

RR Pratiwi Silawati :” ..kalangan atas yang mau berbaur dengan kalangan orang bawah..,”

@rrpratiwisilawati

Buku ini terasa berbeda dari yang pernah ia baca. Bahkan bisa dibilang, ini termasuk buku lawas namun sudah beberapa kali dicetak ulang. Tidak ada romansa percintaan ataupun petengkaran dua insan.  Ternyata, buku yang berjudul Totto-chan’s Children. A goodwill Journey to the Children of the World ini malah menampilkan catatan perjalanan penulisnya di tahun 1984-1997 ke berbagai negara yang dilanda krisis kemanusiaan seperti kelaparan, kemiskinan dan gizi buruk. “ Membaca buku ini membuatku sedih,” kata RR Pratiwi Silawati yang sering dipanggil Tiwi.

Penulis buku ini,  Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris terkenal Jepang  di masa itu, yang mendapat kepercayaan UNICEF untuk mengemban salah satu misi lembaga dunia tersebut. Ia berkeliling ke banyak negara seperti Angola, Vietnam, Bangladesh, Tanzania dll. Negara-negara yang ia kunjungi umumnya memiliki masalah kemanusiaan.

Di negara-negara itu, Tetsuko Kuroyanagi berjumpa dengan banyak anak. Ia terjun langsung bersua dengan mereka. Tetsuko menemukan kondisi anak-anak  tersebut sebagai pihak yang sungguh menderita. Jangankan menatap masa depan, untuk memikirkan hari esok saja terasa berat.” Foto-foto di buku ini  menujukkan kesedihan itu,” kata Tiwi.

Benar apa yang disampaikan Tiwi. Foto-foto di dalam buku ini benar-benar menyentuh. Kesengsaraan itu begitu terasa mulai dari anak yang kehilangan tangannya akibat dipotong tentara gerilya, anak kecil yang mengasuh anak yang lebih kecil, hingga serombongan anak yang minum air sungai karena ketiadaan lagi air besih.

photo by rrpratiwisilawati

Tetsuko Kuroyanagi menuliskan pengalamannya berkeliling dunia bertemu dengan banyak anak di dunia ini, tentunya punya maksud. Ia menggugah nurani siapapun atas kejadian yang mungkin tidak terjadi di sekeliling kita namun membutuhkan kepedulian orang lain. Ia telah membuktikannya. Ia berasal dari kalangan atas yang mau berbaur dengan orang kalangan bawah yang menderita

“ Saya cek di internet, beberapa negara yang disebut di buku ini sudah mulai mengalami perbaikan.Saya bersyukur, “ ungkap Tiwi.  Setelah membaca buku ini, ia berharap bila mengetahui kondisi seperti di buku itu, ia harus bisa berbuat sesuatu walaupun kecil dibanding ia hanya mengucap kata ikut prihatin semata.

Judul Buku :
Totto-chan’s Children. A goodwill Journey to the Children of the World . Penulis : Tetsuko Kuroyanagi Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Selamat ! UGM Press Raih Anugerah Buku ASEAN 2019

Torehan prestasi emas diraih oleh UGM Press. Kali ini , UGM Press menerima trofi penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2019 dalam kategori University/Research Institute,  bertepatan dengan Pesta Buku Antarbangsa Kuala Lumpur yang diadakan di PWTC Kuala Lumpur, Senin (1/4). Lembaga penerbitan ini dianggap produktif menerbitkan buku-buku akademik.

Trofi Anugerah Buku ASEAN 2019 untuk UGM Press langsung diterima oleh Kepala Badan Penerbit dan Publikasi UGM, Widodo, S.P., M.Sc., Ph.D., dan diserahkan oleh Ketua Komite Penyelenggara, Haji Hasan Hamzah.

Menurut Widoso, upaya UGM Press untuk menjadi penerbit yang produktif menerbitkan buku-buku akademik yang berkualitas telah berhasil mendapat apresiasi dari dunia luar. Anugerah Buku ASEAN 2019 yang diterima oleh UGM Press ini merupakan langkah yang sangat strategis. Bahkan hal itu merupakan loncatan cerdas sebuah penerbit universitas dalam rangka membuka cakrawala penerbitan internasional.

Manajer UGM Press, Dr. I Wayan Mustika, mengapresiasi Anugerah Buku ASEAN 2019. Menurutnya, penghargaan ini sangat mendorong UGM Press sebagai academic publisher untuk dapat menghasilkan buku karya yang berkualitas dan menjadi referensi, baik untuk skala nasional maupun internasional. (sumber : rilis UGM Press)

Tribun Jogja Ulang Tahun ke-8, Selamat!


Hari ini, sebuah koran yang ada di Yogyakarta, Tribun Jogja merayakan ulang tahun nya yang ke-8.  Sejak pagi hari tampak kesibukan di kantor mereka yang berada di jalan Sudirman . Silih berganti, relasi media informasi yang lahir pada tanggal 11 April 2011 ini berdatangan dan mengucapkan selamat.  Pada awalnya, media informasi ini hanyalah koran saja. Namun di tahun selanjutnya, manajemen mulai serius menggarap konten online mereka yakni www.tribunjogja.com.  Disusul dengan penggarapan media sosial mereka.

Ada 1 hal yang menarik  dari ulang tahun koran semacam ini. Koran yang pada umumnya  diprediksi semakin  ditinggal pembaca karena beralih ke  online  ternyata masih eksis.  Ini sepertinya menujukkan bahwa segmen pembaca koran masih ada walau dengan berbagai alasan masing-masing.


Salah satu alasannya, menurut resensibukupilihan.com, yakni koran menampilkan berbagai rubrik yang disukai pembaca dan tidak atau belum bisa digantikan oleh media online, seperti cerpen,cerbung, puisi, citizen journalism dll.  Pembaca bisa mengirimkan karyanya. Namun, biasanya, hanya yang telah terseleksi oleh redaksi yang akan muncul di koran. Ini tentu saja bisa bermakna bahwa yang berkualitas baguslah yang menjadi sajian bagi pembaca koran itu.

Tentu saja masih bisa diketemukan alasan-alasan lain mengapa koran masih eksis.  Apapun itu, selama  koran bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat, pastilah keberadaannya dinanti oleh masyarakat pula.