Diposkan pada novel

Stella Corine Haryadi : “..sisi humanisnya tetap melekat”

Membaca buku karya Andrea Hirata kemungkinan mudah  membuat pembaca hanyut. Bukan sekedar masuk kepada kisahnya, namun juga bisa membawa pembacanya kepada kenyataan kisah hidupnya.  Demikian pula dengan Stella Corine Haryadi yang jadi gelisah saat membaca di bab-bab awal, Perempuan berambut sebahu ini teringat pada rumahnya dan  khususnya ayahnya. ” Buku ini membawa saya bernostalgia ke kisah hidup saya sendiri,” kata Stella, panggilan akrabnya.

Padang Bulan,judul novel ini ,adalah novel pertama dari dwilogi Padang Bulan. Novel ini unik. Ikal, Enong, detektif M Nur adalah tokoh-tokoh yang membuat alur cerita yang menyedihkan, dan membuat tertawa. Kisah-kisah yang ditulis pada novel ini ringan namun sisi humanisnya tetap melekat. Misal, obsesi Enong pada kamus dan belajar bahasa Inggris, obsesi Ikal untuk menambah tinggi badan, atau si detektif M Nur yang tidak bisa jauh dari ibunya sewaktu bermaksud ke Jawa.  

Tidak setiap pembacanya memiliki kisah hidup yang dekat dengan kisah yang Andrea Hirata tulis pada novel ini. Juga, tidak semua pembaca mengerti kondisi Belitong. Namun Andrea Hirata memang terampil membuat tulisan yang mudah dimengerti pembaca seperti saat ia menerangkan suasana sebuah tempat, ataupun suasana hati tokoh-tokohnya. “Alurnya di bab-bab awal maju mundur, namun karena penulisannya bagus, saya tetap bisa mengikuti,” katanya lagi.  

Salah satu pengalaman saat membaca buku ini adalah tidak membosankan. Malah ingin segera menyelesaikannya. Menurut Stella, setiap bab pada novel ini memberikan keunikannya sendiri-sendiri. Diperkuat dengan kehadiran tokoh-tokoh lainnya seperti Zinar,”Jose Rizal”, Aling dll, kisah ini tetap fokus pada kisah Ikal sebagai tokoh utama,dan tokoh-tokoh penyegar nan penting yakni detektif M Nur dan Enong.    Saat kisah-kisah di novel ini terkesan sederhana, namun jika disimak lebih lanjut terdapat nilai kehidupan yang tinggi. “Tidak rugi baca buku ini,” kata Stella.

Judul : Padang Bulan , Novel pertama dari dwilogi Padang Bulan

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang


Iklan
Diposkan pada Anak, keluarga

Ingin membangun sebuah lembaga PAUD? Simak informasi dari praktisi ini.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah salah satu jenjang yang cukup populer di waktu ini. Jenjang sebelum Sekolah Dasar ini menjamur di berbagai belahan daerah di Indonesia. Dengan berbagai kekhasan masing-masing, perkembangan PAUD menarik minat banyak orang tua untuk memasukkan buah hati mereka ke lembaga ini.

Kemunculan minat tentang PAUD bukan saja datang dari orang tua. Dari orang-orang yang memandangnya sebagai sebuah peluang bisnis muncul  juga banyak.  Mereka membangun PAUD  sebagai bisnis yang berdasar dari kebutuhan pendidikan. Dunia kampus dan pemerintah juga merespon perkembangan PAUD dengan kontribusi masing-masing.

Bagi yang ingin mendirikan PAUD, perlu menyadari bahwa mengelola PAUD bukan saja bersandar kepada kecintaan pada pendidikan anak usia dini. Hal ini  harus diikuti  manajemen yang tertata baik dan fleksibel.  Sebab bila tidak, akan muncul  ragam masalah yang membelit.  Untuk mengurangi resiko tersebut,  ada baiknya mengumpulkan pendapat dari para praktisi yang  bergerak  dalam perkembangan dunia PAUD.

Buku ini  berjudul Bijak Mengelola PAUD.  Jika disimak lebih lanjut,  penulis buku ini yakni Heriyanto S.Pd.,M.Si memaparkan tentang manajemen pengembangan disertai dengan kasus-kasus dan penanganannya. Pemaparan  lugas dan tidak berbelit-belit,mempermudah pembaca memahami  buku ini. Bahkan, pembaca yang baru mengenal PAUD ataupun para pemerhati dan praktisi dunia PAUD sepertinya tidak akan  menemui kesulitan pemahaman yang berarti.

Penulis sebagai seorang praktisi telah berpengalaman mengelola lembaga PAUD. Pengalamannya ia bagi dalam 5 bab yakni Pelayanan Prima, Sumber Daya Manuasi Prima, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Prima, Sarana dan Prasarana Prima, dan Lulusan Prima.  Hadirnya 5 hal ini setidaknya memberikan informasi penting bagaimana  sebuah PAUD  bisa berkembang.  Melihat pentingnya informasi yang ada, bukan hal yang tidak mungkin jika setelah membaca buku ini, para pembaca yang baru tentang PAUD akan termotivasi aktif dalam dunia pendidikan PAUD dan  pengembangannya.

Buku yang  diterbitkan oleh ESENSI (divisi dari penerbit Erlangga) ini tidaklah tebal secara fisik, namun berbobot secara  isi karena penulisnya adalah praktisi pendidikan dan manajemen PAUD yang telah mendapatkan beberapa penghargaan. (*)

Diposkan pada pameran buku

Buku Buku “Unik” di Kampung Buku Jogja #5

Bagi para pecinta buku khususnya di Yogyakarta, mungkin sudah berkunjung ke pameran ini yakni Kampung Buku Jogja #5. Bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi  Hardjasoemantri  (PKKH) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pameran ini digelar dari tanggal 1 – 5 September 2019. Tidak susah untuk mencari lokasi ini. PKKH berada di sisi selatan Grha Sabha Pramana.

Di suatu lorongnya, pengunjung sudah diperlihatkan media cetak semacam koran atau buletin dimasa lalu. Ejaan-ejaan lama terpampang jelas pada koran atau buletin tersebut berbahasa Indonesia, Inggris dan  mungkin Belanda. Tidak begitu  susah untuk memahaminya khususnya berbahasa Indonesia.  Hal yang mungkin membuat “merinding” adalah isinya. Pengunjung seperti disuguhkan dengan sebuah sejarah bahwa media tersebut pernah ada dan menjadi bagian sejarah masa lalu bangsa kita. Bagi pengunjung yang tertarik dengan media-media lama tersebut, mungkin akan berhenti dan memperhatikan dengan lebih seksama. Bagi resensibukupilihan.com , ini salah satu spot menarik di pameran  ini.

Masuk ke dalam, berjajar “lapak” yang dipenuhi buku-buku “ unik”. Mengapa unik?  Buku-buku itu umumnya buku-buku lawas.  Namun bagi para pembaca buku khususnya peminat sejarah dan sosial politik, buku-buku itu pastilah menarik.  Secara fisik memang lawas, namun secara ide belum tentu ketinggalan zaman dan masih bisa dinikmati saat ini melalui perbincangan ringan ataupun diskusi formal.

Saat resensibukupilihan.com berkunjung, saat itu sedang ada diskusi. Walau tidak mengikuti dari awal, resensibukupilihan.com  menangkap isi diskusi itu kira-kira bertema tentang pers.  Suasana diskusi terkesan interaktif saat pemateri dan peserta diskusi terlibat aktif berkomentar.  Ini menandakan diskusi tersebut memiliki daya tarik  dan hidup.

Jika disimak dari jadwal acaranya, Kampung Buku Jogja #5 memang bukan sekedar pameran buku. Terdapat serangkaian acara yang sudah tersusun seperti mimbar bebas puisi, pertunjukan lagu dll. Ini seperti sengaja memberikan kesenangan bukan saja pada penggemar buku, namun kepada peminat-peminat diskusi dan seni. Lengkap dan menarik.

Harapannya, kegiatan serupa bisa diadakan lagi dan lebih menarik karena peminat buku di Yogyakarta ini sudah terkenal antusiasnya .. Semoga.   

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Yedisihna Claire : “..memperjuangkan kejujuran hati..”

Salah satu yang menarik hati Yedishna Claire untuk membaca buku ini adalah tema sosial yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai penulis.  Bercerita tentang Kabul, seorang insinyur, yang mendapat tugas sebagai pelaksana sebuah proyek. Kabul adalah seorang aktifis semasa ia kuliah. Pengalaman keaktifisannya ini rupanya membekas dalam hatinya dan membuatnya menderita.  Pada pelaksanaan proyek yang ia pimpin di lapangan, ternyata ia tidak saja bersua dengan para pekerja dan masalah teknisnya.  Kabul harus menjumpai kenyataan bahwa partai politik dan politisi melirik proyeknya sebagai lumbung uang.

“ Kabul merasa bersalah karena ia tahu banyak kecurangan yang terjadi  namun merasa tak bisa membuat keadaan lebih baik,” kata Rere, panggilan akrab Yedishna Claire. Sesama aktifis saat kuliah yang menjadi kepala desa di wilayah proyeknya pun tak kuasa lepas dari ikatan partai politik. Lebih lagi,  Kabul harus berdiskusi alot dengan atasannya untuk memperhatikan kualitas bahan-bahan proyek yang terpaksa dipangkas mutunya .Namun jawaban yang ia dapat masih saja terkait dengan kepentingan orang-orang politik.

Saat tahu bahwa masyarakat sekitar ada yang terlibat kecurangan dengan orang-orang proyek, Kabul makin “mengerti” bahwa masyarakat telah menganggap kecurangan adalah hal biasa di proyek.  “ Mereka belajar dari para pejabat proyek,” kata gadis yang memiliki hobi renang dan nyanyi ini.

memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat
@yediisihnaclaire tentang Novel Orang Orang Proyek

Di puncak   rasa frustasinya, Kabul memilih untuk mundur dari pekerjaannya. Ia meninggalkan sebuah jabatan yang bagi banyak orang dianggap sebagai tempat “ basah” dan harapan bagus untuk kehidupan waktu mendatang. Menurut Rere, Kabul memperjuangkan kejujuran hatinya.

Pesan dari buku ini yakni memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat. Bagi Rere, konflik batin ini malah menjadi menjadi salah satu bagian yang menarik dari cerita ini. “Perjuangan sebagai  manusia yang idealis ternyata cukup berliku dan melelahkan,” ujarnya.

Bagi yang tertarik kisah-kisah bertema sosial, tulisan Ahmad Tohari patut dibaca.

Judul Buku          :Orang Orang Proyek

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama  

Cetakan               :Ke 4, Januari 2019

Halaman              : 256 halaman

Diposkan pada literasi

Saat menulis, perlukah kamus bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita. Setiap hari nyaris hidup kita sebagai orang Indonesia akan selalu bersinggungan dengan bahasa ini. Bisa kita cermati, sebagai contoh,  berita koran ataupun online,papan ataupun lembaran promosi dagang di jalan-jalan umumnya menggunakan  bahasa Indonesia.  Wajar saja jika kita  memiliki rasa “sudah terampil”  dan memahami bahasa Indonesia.

Namun bagaimana saat kita menulis?

Menulis adalah kegiatan kita menuangkan gagasan ke dalam susunan tulisan secara sistematis. Gagasan tersebut dituangkan menggunakan bahasa Indonesia.  Terlebih untuk kepentingan formal, ada baiknya kita tetap membuka-buka kamus bahasa Indonesia baik cetak maupun online walaupun kita merasa “sudah terampil” berbahasa Indonesia. Mengapa? Setidaknya 2 alasan di bawah ini harus diperhatikan.

  1. Terdapat kata-kata yang sudah menjadi baku

Kamus bahasa Indonesia menjadi tempat dimana kita menemukan rujukan penulisan kata-kata secara baku.  Khusus untuk hal yang bersifat formal, penulisan kata-kata baku wajib digunakan.  Sebagai contoh:   Manakah yang termasuk penulisan baku  kata praktik dan praktek?

Ternyata menurut kbbi.kemdikbud.go.id  , penulisan yang baku adalah praktik.

Sumber : https://kbbi.web.id/praktik-atau-praktek

2.Istilah asing

Kadang kita saat menulis, secara tidak sengaja, menggunakan istilah asing. Padahal istilah tersebut sebenarnya telah kita punyai padanannya. Ada baiknya, khususnya untuk kepentingan formal, kita menggunakan kata-kata dari bahasa Indonesia. Sebagai contoh : kata microphone (bahasa asing). Ternyata dalam bahasa Indonesia kita telah memiliki kata   pengeras suara atau pelantang.

Sumber : https://kbbi.kata.web.id/pengeras-suara/

Diposkan pada literasi

Manfaat buku yang bersumber dari penelitian

Saat mencari sumber rujukan untuk sebuah tulisan ataupun sekedar wawasan,pasti buku menjadi salah satu pilihannya.  Namun tentu saja tidak sekedar persamaan tema menjadi indikator kita memilih sebuah buku .  Ada baiknya, buku tersebut  bersumber dari penelitian.  Mengapa? Setidaknya ada beberapa alasan tercantum di bawah ini .

  1. Menampilkan  kasus

Buku yang bersumber dari penelitian tidak melulu menampilkan teori,namun studi  kasus-kasus yang membuat kita lebih paham. Terlebih jika  kasus-kasus ini didukung oleh data-data yang bisa dipertanggungjawabkan.

2. Rujukan berkualitas

Buku yang bersumber dari penelitian bisa menjadi rujukan yang berkualitas bagus saat dijadikan pembacanya untuk kepentingan penulisan atau pun wawasan.

3. Penyampaian tidak berbelit-belit

Buku yang bersumber dari penelitian biasanya penyampaian pemikirannya fokus atau tidak berbelit-belit mulai dari pertanyaan hingga penjelasannya. Ini membuat pembaca lebih mudah memahami alur pemikiran penulis.

Diposkan pada manajemen, Tak Berkategori

Ini 3 buku bagus untuk para marketing, dosen/praktisi komunikasi, politisi , aktifis sosial/politik , content writter dll



Judul : Contagious Rahasia di Balik Produk dan Gagasan Yang Populer
Penulis : Jonah Berge
Penerbit: PT Gramedia Pustaka

Anda ingin program, produk atau kampanye milik anda menjadi “getok tular”? Ini salah satu buku yang pas untuk menjadi referensi unggulan.

Jonah Berger mengetengahkan bahwa proses getok tular bisa disimak dari perbincangan kita dengan teman-teman di kantor, ataupun bersama keluarga di  rumah. Perhatiakan apa ada hal yang membuat anda tertarik dan ingin bercerita dengan lainnnya.

Penulis ini telah meneliti dan  menemukan adanya prinsip bagaimana sesuatu menjadi getok tular. 3 dari 6 hal yang ia sampaikan yakni: mata uang sosial, pemicu dan emosi.

2


Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Kita setiap saat bisa mendapat gagasan atau ide. Gagasan itu kita olah dan dijadikan konsep yang matang baik untuk program sosial/ bisnis , kampanye , edukasi dll. Setelahnya kita presentasikan kepada orang lain. Namun kadang kala sambutan mereka terasa hambar ataupun minim respon.

Chip Heath& Dan Heath  , melalui serangkain eksperimennya menemukan bahwa gagasan yang bagus kadang kalah oleh gagasan yang buruk. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa hal ini terjadi?

Para penulis ini menemukan bahwa gagasan bisa melekat kepada orang lain. Penyampaian gagasan tidak harus disertai data yang detil. Namun penyampaian gagasan tersebut harus bisa terasa sederhana dalam logika dan perasaan orang yang kita tuju.

3.


Judul : The Tipping Point How Little Things Can Make a Big Difference
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Malcolm Gladwell, dalam buku ini mencermati apa yang terjadi denganHush Puupies. Sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dan karet mentah buatan Amerika Serikat ini tiba-tiba digandrungi banyak orang . Produsennya pun kaget dengan fenomena ini.  Bagi Gladwell kondisi ini sebagai bentuk epidemi sosial.  Berdasar banyak penelitian , Gladwell menemukan bahwa  epidemi sosial  memiliki keterikatan dengan 3 kaidah berikut yakni Hukum tentang yang sedikit, Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks

Dengan kaidah ini, para pembaca  yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, penelitian sosial, dan bisnis akan mudah memahami mengapa sebuah produk,program sosial bisa disambut atau bahkan, ditolak oleh masyakarat atau konsumen.

Diposkan pada pameran buku

Mampir Sebentar ke Pameran Buku KOMPAS Jogja 2019

Setelah membaca sebuah pengumuman adanya pameran buku Kumur Kumur Buku KOMPAS Jogja 2019,tergerak hati untuk berkunjung ke Bentara Budaya. Tempat ini berada di satu lingkungan dengan kantor KOMPAS Jogja.

Hanya memiliki waktu sekitar 30 menit sebelum kembali ke tugas rutin , resensibukupilihan.com segera beredar ke Bentara Budaya. Ternyata memang sudah ada beberapa peminat buku yang berada di sana. Mereka melihat-lihat tumpukan buku yang telah dibedakan berdasar diskon dan harga. Sebatas pengamatan resensibukupilihan.com , buku-buku itu bukan edisi baru.

Terdapat buku seharga Rp. 10.000,-. Tak heran sudah tampak beberapa pengunjung yang menenteng berbagai macam buku untuk dibeli. Seakan mereka sudah memiliki keyakinan bahwa buku-buku yang mereka  beli memiliki nilai yang lebih besar daripada uang yang mereka keluarkan. Adapun buku-buku yang ada di pameran itu mulai dari novel, biografi dll.

Pameran ini hanya berlangsung singkat yakni mulai hari ini 1 April hingga 3 April 2019. Tak ada salahnya, jika memang ingin menambah koleksi dan pengetahuan, segera saja kesana.

Diposkan pada hukum,ekonomi, Woman and The Book

Patricia Kalis Jati : “ Jangan berharap kita mendapat cara memberantas korupsi….”

Sebuah buku tebal (664 halaman lebih) terlentang di depan seorang perempuan berambut panjang. Nama perempuan itu Patricia Kalis Jati. Buku itu termasuk terbitan baru dari sebuah penerbit terkenal. Sekilas terpampang judul itu yakni Korupsi  Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Bagi sebagian orang, judul itu terasa berat. “ Iya , memang berat bacaannya sih. ..,” katanya.

Patricia mengakui bahwa ia belum selesai membaca buku tulisan             B Herry Priyono ini. Diantara kesibukannya sebagai mahasiswi semester akhir dan  asisten dosen jurusan akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Yogyakarta ini, ia memerlukan waktu senggang untuk membaca halaman per halamannya.

Ia memang tertarik  dengan topik korupsi karena pada kesehariannya di kampus, ia juga membahas tentang korupsi, misal pada kuliah tentang sistem informasi akuntansi. Ia mempelajari tindakan-tindakan orang yang terindikasi koruptif melalui triangle fraud.Saya hanya mencoba menambah  pengetahuan baru tentang korupsi,” kata Patricia sambil tersenyum.

Menurut Patricia,lahirnya buku ini tergugah dari pengalaman penulis saat mendapati pertanyaan “Apa itu korupsi?. Ternyata susah untuk memberi jawaban. Singkatnya,pada akhirnya si penulis merasa bahwa ada referensi konseptual  yang masih kosong mengenai definisi tentang korupsi. Untuk itulah, ia tergerak mencari dan menyusun literatur agar menjadidasar pendekatan menjawab pertanyaan tadi.

Jika dilihat dari daftar isinya, memang penulis  fokus pada hal definisi. Ia melacak banyak pemikiran mulai dari zaman sebelum modernitas hingga zaman kontemporer. Banyak nama pemikir populer disebut pada halaman tersebut seperti Thomas Hobbes, Adam Smith, Max Weber dll. Ini menunjukkan bahwa penulis  merasa pentingnya menelusuri pemikiran masa lalu sebagai jejak-jejak yang harus diurut.  Bukan saja pemikiran tokoh, namun juga harus ditelusuri konteks zaman saat pemikir tersebut hidup. “ Ini berarti studi korupsi tidak hanya berkutat pada sisi filsafat saja namun   harus melibatkan studi-studi lainnya seperti sosial politik,” ujar Patricia.

Memang benar yang disampaikan Patricia. Pada bab ke 6, B Herry Priyono menuliskan tentang keragaman pendekatan dalam ilmu sosial dalam studi korupsi seperti ekonomi, antropologi,krimonologi, teori sistem( sosilogi) dll. Pendekatan-pendekatan ini memang memperkaya informasi. Namun pada buku ini , keragaman pendekatan ini tetaplah konsisten dalam bingkai untuk melacak pertanyaan besar tadi yakni “Apa itu korupsi?”. “ Jangan berharap kita mendapat cara memberantas korupsi dari buku ini,” jelas Patricia.

Patricia mengagumi banyaknya literatur yang mendukung buku ini. Selain itu, ia juga menyoroti tata bahasa yang mudah dimengerti. Ia yakin, akan mempermudah pembaca menghabiskan halaman-demi halaman. Saat ditanya, apakah ia berkeinginan membuat buku seperti ini yang berbasis penelitian, Patricia menjawab ada impian itu namun bukan waktu dekat ini. “ Saya sedang penelitian untuk menyelesaikan skripsi !”, sahutnya.

Wish you luck,Patricia !

Judul Buku : Korupsi Melacak Arti, Menyimak Implikasi

Penulis           : B Herry Priyono 

Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama, 2018