Diposkan pada literasi, Tak Berkategori

Menilik Suasana Orde Baru Melalui Novel Karya Ahmad Tohari

Pada blog ini, 2 karya Ahmad Tohari yakni  Bekisar Merah dan Orang Orang Proyek telah diulas. Pada Bekisar Merah, cerita tentang Lasi yang bermula istri seorang penderes tidak diduga masuk ke kehidupan para “orang kuat” di negeri ini. Sedang pada Orang Orang Proyek, cerita Kabul yang mantan aktifis kampus harus memilih mundur dari pos basah demi idealisme yang ia miliki. Dari kedua buku ini, sama-sama memiliki keterikatan kuat kepada masalah sosial politik.

https://resensibukupilihan.com/2019/08/27/yedisihna-claire-memperjuangkan-kejujuran-hati/

https://resensibukupilihan.com/2019/03/14/erta-ardheana-janda-cantik-yang-terseret-ke-lingkaran-kekuasaan/

Saat membaca karya Ahmad Tohari ini, mudah diketahui bahwa suasana orde baru menjadi latar belakang cerita . Saat orde baru diteropong , didapati sebuah titik berupa kasus-kasus sosial politik. Mungkin, titik ini tidak bisa menggambarkan keseluruhan orde baru namun dari titik ini bisa dimulai memahami sebuah situasi sosial politik masyarakat di suatu masa itu.

Membaca buku-buku berlatar belakang sejarah ini memang unik. Sebenarnya kita hanya terfokus kepada beberapa tokoh dan kasus-kasusnya, namun seolah-olah kasus-kasus itu bisa kita tangkap memiliki keterikatan dengan hal-hal lainnya yang secara samar membelitnya. Sebagai contoh, cerita Lasi yang menjadi rebutan Handarbeni dan Bambung.  2 tokoh terakhir diceritakan adalah orang-orang yang memiliki pengaruh di tingkat pusat.  Tarik ulur terhadap  “kepemilikan” Lasi adalah gambaran bargaining power  antara Handarbeni dan Bambung baik sebagai “orang kuat” dan “lelaki ingin tampak kuat”. Hubungan Handarbeni dan Bambung menampakkan bagaimana status dan kedudukan berdasar atas kolusi.

Sedang pada Orang-Orang Proyek, rasa frustasi Kabul terhadap “setoran-setoran” kepada orang partai yang berpengaruh kepada kualitas garapan proyeknya, tergambar jelas aroma politiknya. Kabul menjadi representasi umum siapa saja yang merasa berat hidupnya  sebagai seseorang yang memiliki idealisme.Rasa idealisme harus berbenturan dengan hal-hal yang sangat dekat dengan kebutuhan manusia sendiri seperti kenyamanan, kesejahteraan  bahkan sikap acuh dll.

Bagi penyuka hal-hal sosial politik, buku-buku Ahmad Tohari jelas bisa menghadirkan sebuah kisah yang membumi. Pembaca tidak harus disuguhi rangkaian data sejarah yang detil ataupun kisah yang heroik. Namun, cukup sebuah kisah dengan kalimat-kalimat sederhana yang bisa membuat pembaca yang pernah merasakan suasana orde baru untuk bernostalgia, sedang untuk pembaca yang hidup dimasa setelahnya juga dapat menilik balik sebuah suasana di masa orde baru.

Iklan
Diposkan pada literasi

Saat menulis, perlukah kamus bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita. Setiap hari nyaris hidup kita sebagai orang Indonesia akan selalu bersinggungan dengan bahasa ini. Bisa kita cermati, sebagai contoh,  berita koran ataupun online,papan ataupun lembaran promosi dagang di jalan-jalan umumnya menggunakan  bahasa Indonesia.  Wajar saja jika kita  memiliki rasa “sudah terampil”  dan memahami bahasa Indonesia.

Namun bagaimana saat kita menulis?

Menulis adalah kegiatan kita menuangkan gagasan ke dalam susunan tulisan secara sistematis. Gagasan tersebut dituangkan menggunakan bahasa Indonesia.  Terlebih untuk kepentingan formal, ada baiknya kita tetap membuka-buka kamus bahasa Indonesia baik cetak maupun online walaupun kita merasa “sudah terampil” berbahasa Indonesia. Mengapa? Setidaknya 2 alasan di bawah ini harus diperhatikan.

  1. Terdapat kata-kata yang sudah menjadi baku

Kamus bahasa Indonesia menjadi tempat dimana kita menemukan rujukan penulisan kata-kata secara baku.  Khusus untuk hal yang bersifat formal, penulisan kata-kata baku wajib digunakan.  Sebagai contoh:   Manakah yang termasuk penulisan baku  kata praktik dan praktek?

Ternyata menurut kbbi.kemdikbud.go.id  , penulisan yang baku adalah praktik.

Sumber : https://kbbi.web.id/praktik-atau-praktek

2.Istilah asing

Kadang kita saat menulis, secara tidak sengaja, menggunakan istilah asing. Padahal istilah tersebut sebenarnya telah kita punyai padanannya. Ada baiknya, khususnya untuk kepentingan formal, kita menggunakan kata-kata dari bahasa Indonesia. Sebagai contoh : kata microphone (bahasa asing). Ternyata dalam bahasa Indonesia kita telah memiliki kata   pengeras suara atau pelantang.

Sumber : https://kbbi.kata.web.id/pengeras-suara/

Diposkan pada literasi

Sebelum membeli buku terjemahan…


Sebuah buku  mendapat predikat terlaris manakala ramai diperbincangkan  banyak orang melalui berbagai media dan tingkat keterjualannya termasuk tinggi.  Bila buku itu berbahasa asing, biasanya menjadi perhatian penerbit-penerbit lokal menimang kemungkinan mencetaknya untuk pasar lokal. Sebagai penikmat buku, bisa jadi kita tergoda untuk membelinya.

Nah, karena produk terjemahan, ada kemungkinan kita merasa terganggu dengan penulisannya,misal hasil terjemahannya terkesan berbelit-belit dan bias maknanya. Untuk mensiasati ketidakpuasan seperti ini,kita jangan terburu buru membelinya. Apa yang bisa kita lakukan? Berikut 2 tips sebelum membeli buku terjemahan,yakni:


1.Cari dulu testimoni atau pandangan-pandangan pembaca pada sumber-sumber online atau cetak terpercaya tentang buku tersebut. 

2.Carilah info seberapa sering penerbit yang bersangkutan memproduksi buku terjemahan. Semakin sering penerbit tersebut memproduksi buku terjemahan, besar kemungkinan produksinya telah mendapat kesan baik dari pembaca. 

Diposkan pada literasi

Manfaat buku yang bersumber dari penelitian

Saat mencari sumber rujukan untuk sebuah tulisan ataupun sekedar wawasan,pasti buku menjadi salah satu pilihannya.  Namun tentu saja tidak sekedar persamaan tema menjadi indikator kita memilih sebuah buku .  Ada baiknya, buku tersebut  bersumber dari penelitian.  Mengapa? Setidaknya ada beberapa alasan tercantum di bawah ini .

  1. Menampilkan  kasus

Buku yang bersumber dari penelitian tidak melulu menampilkan teori,namun studi  kasus-kasus yang membuat kita lebih paham. Terlebih jika  kasus-kasus ini didukung oleh data-data yang bisa dipertanggungjawabkan.

2. Rujukan berkualitas

Buku yang bersumber dari penelitian bisa menjadi rujukan yang berkualitas bagus saat dijadikan pembacanya untuk kepentingan penulisan atau pun wawasan.

3. Penyampaian tidak berbelit-belit

Buku yang bersumber dari penelitian biasanya penyampaian pemikirannya fokus atau tidak berbelit-belit mulai dari pertanyaan hingga penjelasannya. Ini membuat pembaca lebih mudah memahami alur pemikiran penulis.

Diposkan pada literasi

Apa Pentingnya membuat catatan saat membaca sebuah buku?

Saat sebuah buku sedang dibaca, maka pembaca sebenarnya sedang bertemu dengan hal menarik dan mungkin baru. Ada baiknya, kita segera membuat catatan atas temuan itu.Beberapa manfaat bisa didapat dari catatan itu, diantaranya :

1.Temuan ini bisa berwujud pertanyaan, ide , atau bentuk lainnya. Temuan ini tidak mesti tulisan yang menyetujui pendapat apa yang tersampaikan pada buku, namun bisa pula mempertanyakannya. Apapun itu, kita sebenarnya sedang berusaha memahami  pemikiran penulis dan  membangun persepsi kita sendiri.

2. Bila suatu saat kita  ingin membaca buku itu lagi namun terbatas waktu, catatan yang kita buat sedikit banyak membantu kita untuk  mendapatkan informasi yang kita butuhkan lebih cepat.

3. Khususnya bagi pembaca yang menyukai aktifitas menulis, kebiasaan mencatat seperti ini membantu memunculkan inspirasi tulisan baru.

Diposkan pada literasi, Tak Berkategori

Pentingnya kita membaca halaman Daftar Pustaka..

Saat kita membaca buku non fiksi seperti manajemen,psikologi, sosial,politik,  kadang kita abai dengan halaman-halaman daftar pustaka. Padahal, dari referensi ini kita, yang berminat pada tema buku yang kita baca,  bisa mendapat informasi yang sangat berguna.  

Setidaknya terdapat 3 manfaat disini, yakni :

  1. Kita mendapatkan informasi bahwa buku yang kita baca terkait dengan bahan-bahan yang tersaji pada daftar pustaka. Ini bisa dianggap upaya jujur dan kerendahan hati penulis bahwa apa yang ia tulis terbantu oleh sumber-sumber lain. Harapannya, jika kita menulis buku, kita juga bersikap jujur dan rendah hati terhadap karya kita dan orang lain.
  2. Jika kita ingin mendalami lebih lanjut tentang tema dari buku yang kita baca,  maka kita tinggal melihat daftar pustaka dan mencarinya baik melalui perpustakaan atau tempat-tempat lain misal sumber online.
  3. Bagi pembaca-pembaca yang tertarik dan sedang mencari ide  ataupun referensi lain  dengan tema besar yang sama, maka daftar pustaka  sangat membantu sebagai rujukan yang bermanfaat.