Diposkan pada manajemen, Woman and The Book

Ersyana Candra Dewi : “ Saya biasa melakukannya minimal 1 menit.”

@ersyanacandra

Rutinitas kehidupan sehari-hari yang meliputi dunia pekerjaan dan relasi sosial lainnya, secara sadar ataupun tidak bisa menenggelamkan mimpi, hasrat dan kekreatifitasan kita. Kondisi seperti ini bisa menuntun kepada “rasa lelah” dan meningkatnya rasa stress yang pada akhirnya kualitas hidup kita menurun. “ Sesekali, perlulah kita menarik diri dari rutinitas,” kata Ersya.

Perempuan yang berasal dari salah satu kota di Jawa Timur ini mengamini bahwa menarik diri dari rutinitas membuat  ia memiliki peluang menyegarkan diri baik secara fisik maupun mental. Menarik diri dari rutinitas dan  memasuki keheningan.

Darimana ia terinspirasi melakukan “keheningan” ini?

Menurut Ersya, setelah membaca buku Sejenak Hening, ia mendapatkan inspirasi-inspirasi baru tentang bagaimana ia menjalani waktu-waktunya. Buku tulisan Adjie Santosoputro ini merekomendasikan konsep keheningan yang dibangun dari kesadaran realitas sehari-hari. Adji dalam bab-bab yang ia tulis memberikan cerita-cerita yang memudahkan pembacanya memahami. Salah satu contoh yang disukai Ersya adalah bab tentang Terapi Kelereng.

Pada bab ini, melalui percakapan seorang tua dan anak muda yang sepertinya memiliki karir bagus, kita diingatkan bahwa ada hal lain selain pencapaian prestasi kerja yang ternyata sangat penting bagi hidup kita yakni keluarga. Waktu terus berjalan dan tidak bisa kembali. Ada baiknya, kita tidak melupakan kebersamaan dengan keluarga.

Selain cerita inspirasi,Ersya juga mendapat tips bagaimana membuat keheningan. Terdapat gambar yang memudahkan ia mengikuti tips tersebut.  “  Saya biasa melakukannya minimal 1 menit,” katanya lagi.

Buku ini ditulis oleh Adjie Santosoputro dengan pemilihan kata-kata yang sederhana. Tidak berbelit-belit.Dengan demikian memudahkan pembaca memahaminya.  

Judul buku : Sejenak Hening

Penulis : Adjie Santosoputro

Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai,2018

Diposkan pada manajemen, Tak Berkategori

Ini 3 buku bagus untuk para marketing, dosen/praktisi komunikasi, politisi , aktifis sosial/politik , content writter dll



Judul : Contagious Rahasia di Balik Produk dan Gagasan Yang Populer
Penulis : Jonah Berge
Penerbit: PT Gramedia Pustaka

Anda ingin program, produk atau kampanye milik anda menjadi “getok tular”? Ini salah satu buku yang pas untuk menjadi referensi unggulan.

Jonah Berger mengetengahkan bahwa proses getok tular bisa disimak dari perbincangan kita dengan teman-teman di kantor, ataupun bersama keluarga di  rumah. Perhatiakan apa ada hal yang membuat anda tertarik dan ingin bercerita dengan lainnnya.

Penulis ini telah meneliti dan  menemukan adanya prinsip bagaimana sesuatu menjadi getok tular. 3 dari 6 hal yang ia sampaikan yakni: mata uang sosial, pemicu dan emosi.

2


Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Kita setiap saat bisa mendapat gagasan atau ide. Gagasan itu kita olah dan dijadikan konsep yang matang baik untuk program sosial/ bisnis , kampanye , edukasi dll. Setelahnya kita presentasikan kepada orang lain. Namun kadang kala sambutan mereka terasa hambar ataupun minim respon.

Chip Heath& Dan Heath  , melalui serangkain eksperimennya menemukan bahwa gagasan yang bagus kadang kalah oleh gagasan yang buruk. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa hal ini terjadi?

Para penulis ini menemukan bahwa gagasan bisa melekat kepada orang lain. Penyampaian gagasan tidak harus disertai data yang detil. Namun penyampaian gagasan tersebut harus bisa terasa sederhana dalam logika dan perasaan orang yang kita tuju.

3.


Judul : The Tipping Point How Little Things Can Make a Big Difference
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Malcolm Gladwell, dalam buku ini mencermati apa yang terjadi denganHush Puupies. Sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dan karet mentah buatan Amerika Serikat ini tiba-tiba digandrungi banyak orang . Produsennya pun kaget dengan fenomena ini.  Bagi Gladwell kondisi ini sebagai bentuk epidemi sosial.  Berdasar banyak penelitian , Gladwell menemukan bahwa  epidemi sosial  memiliki keterikatan dengan 3 kaidah berikut yakni Hukum tentang yang sedikit, Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks

Dengan kaidah ini, para pembaca  yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, penelitian sosial, dan bisnis akan mudah memahami mengapa sebuah produk,program sosial bisa disambut atau bahkan, ditolak oleh masyakarat atau konsumen.

Diposkan pada keluarga, manajemen, Woman and The Book

Giacinta Rezki Palupi : “Godaannya banyak…”

Saat ditanya, tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

“Tapi bagaimana lagi daripada tidak dipakai? Kita harus tegas!,” katanya lagi mantap.

Ya, apa yang perempuan berbintang Capicorn ini sampaikan ada hubungannnya dengan buku yang telah selesai ia baca.  Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Bermula dari pengalaman hidupnya, si penulis yakni Fumio Sasaki  sebagai seorang pekerja yang  mudah merasa tertekan, mengalami penurunan rasa percaya diri, dan memiliki motivasi yang lemah. Hingga disuatu saat, ia bertekad untuk mengubah kesuntukan hidupnya dengan mulai membuang barang-barang yang selama ini menyesaki apartemennya.

Saat ditanya tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

Manfaat dari aksi “buang” barang-barang itu ternyata berdampak pada kualitas hidupnya.  Ia memang mengosongkan banyak barang, namun sebagai gantinya ia dipenuhi oleh rasa kebebasan.  Ia terbebas dari rasa “tamak” akan barang-barang yang ternyata tidak terlalu penting dibutuhkan oleh Fumio Sasaki.  

Sediktnya barang membawa ia ke dalam produktifitas kerja , dan cara pandang yang lebih positif. Fumio Sasaki tidak perlu menjadi  orang yang harus memiliki banyak barang agar masuk ke dalam status orang yang sukses. Justru, sekarang ini ia menemukan kebahagiaan dengan kondisi minimalis nya sekarang  (bab 4   : 12 hal yang berubah sejak saya berpisah dari barang-barang kepemilikan ).

Kebahagiaan timbul dari waktu yang berkualitas bukan dari barang yang berkualitas (Fumio Sasaki)

Fumio mengurai  dengan runtut tentang mengapa kita hendaknya tidak terikat pada barang. Justru keberadaan barang yang harus menambah kualitas hidup kita, bukan sebaliknya.  Fumio memberi banyak tips bagaimana kita bisa memulai langkah minimalis.Ia juga memberi foto-foto yang menunjukkan suasana maksimal dan minimalis. Walau buku terjemahan, namun hasil terjemahannya cukup lancar. Pilihan kata-katanya mudah dimengerti dan tidak membuat kening berkerut. Ini tentu saja sangat berguna bagi pembaca.

Cinta pun setuju bahwa tips yang dibagikan oleh Fumio Sasaki dalam buku ini bermanfaat. Langkah minimalis memberi  kita referensi  membedakan mana yang sebenarnya merupakan kebutuhan atau keinginan.  Bila kita telah bisa konsisten menjalankan minimalisme, kualitas hidup akan meningkat. Pada akhirnya, rasa kebebasan dan bahagia akan bisa dirasakan.

Hidup berkualitas tidak hanya untuk kenyamanan bersama diri sendiri.
Minimalisme memberi kesempatan kita bertemu lebih banyak orang.
@ghealove
(Giacinta Rezki Palupi)

Saat ditanya apakah Cinta sudah melakukan langkah minimalis, perempuan yang hobi nge-gym dan make up  ini menjelaskan bahwa ia sudah mempraktikannya sebelum membaca buku tulisan Fumio Sasaki.” Belum seperfect  seperti di buku ini,” jelasnya. Diantara kesibukannya, ia hanya memiliki waktu di masa weekend untuk bersih-bersih.

“ Godaannya banyak untuk menyingkirkan barang,” akunya. Cinta punya usul, jika ingin  buang barang yang bermanfaat yakni jual saja  lewat aplikasi jual beli online.” Selamat mencoba!”.(*)

Judul Buku :
Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia

Cetakan Kedua : Januari 2019

Diposkan pada manajemen, Woman and The Book

Astri Wulandari : “Si Bijak Bestari Sebenarnya Ada dimana-mana..”

astri 2

Pernahkah kita bertemu dengan orang yang degan semangat bercerita kepada kita tentang satu ataupun banyak hal? Tak semata bercerita bahkan mereka memberi informasi yang runtut dan memiliki dasar referensi yang bagus? Terakhir, orang tersebut tidak meminta balasan apapun dari kita atas semua informasi  yang  ia sampaikan?

Bagi kelompok  orang khususnya yang dalam pekerjaannya bertemu dengan banyak orang, kemungkinan besar telah bertemu dengan sosok seperti diatas.

Dalam buku ini, The Tipping Point, tulisan Malcolm Gladwell, sosok ini disebut Maven atau Bijak Bestari.  “ Si Bijak Bestari sebenarnya ada di mana-mana walau tidak semua orang menjadi si Bijak Bestari. Mereka orang yang memiliki motivasi untuk memberi informasi kepada orang lain. Mereka bercerita banyak tanpa bermaksud membujuk dan mereka tidak menuntut suatu balas jasa,” kata Astri Wulandari.

Si Bijak Bestari merupakan salah satu kelompok  tokoh dari 2 lainnya yakni Penghubung  (Connectors) dan Penjaja (Salesmen) yang ditulis oleh Gladwell sebagai orang-orang yang mampu membuat sesuatu hal (produk, gagasan, dan perilaku)  menjadi Tipping Point.

Dua kata ini, Tipping Point, secara singkat bisa dijelaskan sebagai sesuatu yang menular yang menjangkiti banyak pihak dimanapun untuk menerima sebuah gagasan, merasakan sebuah produk, dan mengikuti sebuah perilaku. Saat orang lain atau masyarakat menerima hal tersebut maka terjadilah epidemi sosial.

campur2
“ Bukan hal yang mustahil, gagasan kecil, produk yang sepertinya kurang bagus kualitasnya , ataupun perilaku kita akan bisa membawa perubahan yang besar kepada orang lain atau masyarakat setelah mengetahui dan memahami pemikiran Gladwell ini,” ujarnya.

Salah satu contoh yang ada di buku ini adalah apa yang terjadi pada Hush Puupies, sebuah sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dari karet mentah buatan Amerika Serikat tiba-tiba muncul kembali dan disukai oleh banyak orang. Pemesanan sepatu ini melonjak. Produsen sepatu ini pun mengaku kaget bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Oleh karena penelitian, epidemi ini bisa dipahami dan dipelajari.

Astri menyetujui bila  sebuah epidemi sosial memang bisa dibedah untuk disimak mengapa itu bisa terjadi. Epidemi tidaklah kebetulan begitu saja. Ada kaidah-kaidah yang terjadi agar sesuatu  menjadi epidemi. Gladwell menerangkan di buku ini dengan jelas. Terdapat 3 kaidah yang membantu kita memahami mengapa itu terjadi yakni : Hukum tetang yang sedikit,Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks.

“ Bagi orang yang berkecimpung dalam bidang sosial kemasyarakatan, penelitian  sosial, dan bisnis saya pikir  membutuhkan pelajaran dari buku ini untuk membantu pemahamannya ataupun karirnya,”kata  Dosen jurusan Ilmu Komunikasi di sebuah perguruan tinggi. Apalagi, kemunculan –kemunculan suatu tren yang bisa membawa dampak baik dan buruk  saat ini yang menjangkiti masyarakat bisa muncul dan berlalu dengan cepat karena diganti oleh lainnya. “Oleh karena itu, perlu alat bantu untuk menganalis bagaimana itu bisa terjadi,” katanya lagi.

Tulisan Gladwell mudah dipahami isinya  karena banyak menyajikan kasus-kasus yang dikaji dari hasil penelitian.  Bahkan tulisan Galdwell sebenarnya menginspirasi 2 buku lain yang tyakni Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain ( tulisan dari Chip Heath & Dan Heath) dan  Contagious : Mata Uang Sosial, Pemicu,Emosi, Umum, Nilai Praktis dan  Cerita (Jonah Berger) . Semuanya adalah jenis buku Best Seller.

Noviantika Widyayanti :”Membuat Gagasan Kita Melekat Lebih Penting Dari …..”

Maulitina Asepti Budi Rahayu : “ Enam Prinsip Ini Akan Membantu Sebuah Informasi Menjadi Viral..”

“ Bukan hal yang mustahil, gagasan kecil, produk yang sepertinya kurang bagus kualitasnya , ataupun perilaku kita akan bisa membawa perubahan yang besar kepada orang lain atau masyarakat setelah mengetahui setelah memahami pemikiran Gladwell ini,” ujarnya.

IMG20180726141208

Judul Buku                                     : The Tipping Point

                                                         How Little Things Can Make a Big Difference

Penulis                                           : Malcolm Gladwell

Penerbit                                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah                                  : Alex Tri Kantjono Widodo

Hak Cipta Terjemahan Indonesia:  PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman                                           : xxiii+326

Cetakan kesebelas                        : Mei 2018

Diposkan pada manajemen, Woman and The Book

Dian Husna : “Yakin Punya Good Strategy…..?””

 

compress
photo by @dwianggisiregar

Salah satu perusahaan jasa seni grafis menuliskan rangkaian kalimat  yang dilabeli “Strategi Utama Kami” :

STRATEGI UTAMA KAMI
Kami akan menjadi perusahaan jasa seni grafis pilihan
Kami akan memuaskan konsumen dengan solusi unik dan kreatif untuk masalah mereka
Kami akan menambah omset setidaknya 20% setiap tahun
Kami akan menjaga margin keuntungan setidaknya 20%
Kami akan memiliki komitmen.Sasaran perusahaan adalah komitmen yang kami jaga bersama
Kami akan memelihara lingkungan kerja yang jujur dan terbuka
Kami akan bekerja untuk mendukung masyarakat  (halaman 51-52)

 

“Pada awalnya, saya menganggap tulisan tersebut menggambarkan tentang strategi. Namun setelah membaca buku ini, saya tidak berpikir seperti itu lagi. Saya pikir itu adalah ambisi” kata Dian Husna sambil membuka-buka halaman buku yang berjudul Good Strategy/Bad Strategy.

Menurut perempuan manis berjilbab ini, strategi bukanlah kumpulan dari visi dan misi, jargon motivasi atau keinginan besar yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga baik politik, sosial ataupun bisnis. Strategi merupakan respon terhadap sebuah masalah dengan cara menghitung secara teliti bagaimana sebuah lembaga tadi mencapai tujuannya.

Ratih : “Crowdsourcing itu harus smart..”

Saat ditanya tentang isi buku ini, Dian Husna mengatakan bahwa buku ini mengupas tentang Good Strategy dan Bad Strategy. Richard P Rumelt penulis buku ini, menurutnya, telah mengidentifikasi tentang unsur –unsur yang masuk kedalam Good Strategy yakni diagnosis, kebijakan penuntun dan tindakan koheren.

dian husna
Good Strategy Bad Strategy

Rumelt pun mengemukakan bahwa Bad Strategy bisa tumbuh dari kesalahpahaman yang spesifik dan kepemimpinan yang tidak berfungsi. Rumelt mengumpulkan banyak kasus dan kemudian mengidentifikasi tanda-tanda Bad Strategy yakni omong kosong, kegagalan untuk menghadapi tantangan, salah mengartikan tujuan, dan sasaran strategis yang buruk. Kegagalan mengidentifikasi strategi yang buruk, akan menuntun kepada kegagalan pencapaian target ataupun perbaikan kondisi .

“Inilah peran buku ini bagi banyak profesi mulai dari birokrat, militer, pebisnis maupun ilmuwan. Bukan saja menginformasikan bagaimana kita mengidentifikasi Bad Strategy, namun juga memberi tuntunan bagaimana membuat Good Strategy. Ditambah karena buku ini  memuat  banyak kasus  mulai dari yang termasuk Good Strategy maupun Bad Strategy sehingga memperkaya pemahaman,” kata perempuan berzodiak sagittarius ini.

Processed with VSCO with hb1 preset
@dionhusno

 

Judul Buku                  : Good Strategy Bad Strategy
                                         Strategi Baik dan Buruk dalam Bisnis
Penulis                         : Richard P Rumelt
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman                     : XVI + 343
Cetakan                       : Desember 2017

 

 

 

Diposkan pada manajemen, Profesi, Tak Berkategori

Presentasi Itu Butuh Seni  

buku

Buku ini tidaklah tebal. Bila kita memiliki waktu  paling lama 2 jam, pasti isi di dalamnya kan habis terbaca. Walau begitu, manfaat dari isi buku ini melebihi ketebalannya.  Buku ini mengajak kita menengok sebentar tentang kapan dan dimana kita melakukan presentasi. Jangan dibayangkan, Budiman Hakim, si penulis akan mencuplik teori teori modern tentang presentasi. Malah, yang ada adalah cerita mengalir dengan gaya ngobrol kesana kemari tanpa melupakan bobot .  Ini mengasyikan dan tidak membuat bosan.

Saya terkesan dengan salah satu judul dalam buku ini tentang presentasi 60 detik. Saya berimajinasi seakan-akan saya  harus mempersiapkan presentasi itu, tapi masalahnya apa yang harus saya sampaikan dengan durasi sependek itu? Budiman Hakim mengingatkan lewat “obrolannya” bahwa kesuksesan presentasi seperti ini bukan semata terdukung oleh bagus tidaknya materi presentasi, maksimal tidaknya kreatifitas, melainkan juga kepada siapa presentasi ini ditujukan. Di buku ini, ia bercerita tentang kisah nyata presentasi 60 detik yang efektif.

Lain lagi, kisah tentang presentasi ala  bartender dan agen asuransi  menjadi kisah yang membuat kita paling tidak senyum-senyum. Kisah-kisah tersebut merupakan  kisah nyata dari Budiman Hakim. Dalam keseharian seorang bartender  yang bertugas meramu dan menyajikan minuman special, ternyata terdapat  ilmu bagaimana  mendapatkan  informasi apa yang diinginkan konsumen dan bagaimana kita memuaskannya.  Sedang kisah presentasi ala agen asuransi yang ada di kisah tersebut, mengingatkan kita pentingnya menjaga rasa”trust”. Bila kita mendapat “trust” yang bagus, apa yang kita tawarkan kepada orang lain pasti lebih mudah di terima. Sebaliknya, bila kita telah mendapat citra diri yang tidak bagus, sebaiknya segeralah  mencari orang yang kira-kira tidak tahu tentang diri kita.

Budiman Hakim adalah pekerja di  bidang kreatif. Setiap harinya, ia bisa bertemu orang lama dan orang baru untuk menjual gagasan kreatifnya. Pada buku ini, Budiman Hakim menuangkan ilmu-ilmu lewat kisah nyata yang ia dan teman-temannya alami.  Memang bacaan yang ada di buku ini lebih dekat dengan dunia periklanan, namun bagi kita yang berkarier dibidang lain tetap bisa mendapat ilmu seni  presentasi yakni  sentuhan-sentuhan kecil yang memuluskan presentasi layaknya udara yang ada di ban sepeda akan membuat ban tersebut menggelinding dengan lancar walau diatas bebatuan. Bayangkan bila tidak ada udara,  roda akan berputar namun terasa sakit karena selalu bergesekan dengan jalan.

Judul Buku                          : Saya Pengen Jago Presentasi

Penulis                                : Budiman Hakim

Penerbit                              : Galang Pustaka

Cetakan                              : 1 (2015)

Halaman                             : xiv + 178 halaman