Diposkan pada novel, Woman and The Book

Yedisihna Claire : “..memperjuangkan kejujuran hati..”

Salah satu yang menarik hati Yedishna Claire untuk membaca buku ini adalah tema sosial yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai penulis.  Bercerita tentang Kabul, seorang insinyur, yang mendapat tugas sebagai pelaksana sebuah proyek. Kabul adalah seorang aktifis semasa ia kuliah. Pengalaman keaktifisannya ini rupanya membekas dalam hatinya dan membuatnya menderita.  Pada pelaksanaan proyek yang ia pimpin di lapangan, ternyata ia tidak saja bersua dengan para pekerja dan masalah teknisnya.  Kabul harus menjumpai kenyataan bahwa partai politik dan politisi melirik proyeknya sebagai lumbung uang.

“ Kabul merasa bersalah karena ia tahu banyak kecurangan yang terjadi  namun merasa tak bisa membuat keadaan lebih baik,” kata Rere, panggilan akrab Yedishna Claire. Sesama aktifis saat kuliah yang menjadi kepala desa di wilayah proyeknya pun tak kuasa lepas dari ikatan partai politik. Lebih lagi,  Kabul harus berdiskusi alot dengan atasannya untuk memperhatikan kualitas bahan-bahan proyek yang terpaksa dipangkas mutunya .Namun jawaban yang ia dapat masih saja terkait dengan kepentingan orang-orang politik.

Saat tahu bahwa masyarakat sekitar ada yang terlibat kecurangan dengan orang-orang proyek, Kabul makin “mengerti” bahwa masyarakat telah menganggap kecurangan adalah hal biasa di proyek.  “ Mereka belajar dari para pejabat proyek,” kata gadis yang memiliki hobi renang dan nyanyi ini.

memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat
@yediisihnaclaire tentang Novel Orang Orang Proyek

Di puncak   rasa frustasinya, Kabul memilih untuk mundur dari pekerjaannya. Ia meninggalkan sebuah jabatan yang bagi banyak orang dianggap sebagai tempat “ basah” dan harapan bagus untuk kehidupan waktu mendatang. Menurut Rere, Kabul memperjuangkan kejujuran hatinya.

Pesan dari buku ini yakni memperjuangkan kebenaran itu bukan sesuatu hal yang memalukan walau pada kenyataannya mendapat banyak tantangan termasuk tantangan dari orang-orang terdekat. Bagi Rere, konflik batin ini malah menjadi menjadi salah satu bagian yang menarik dari cerita ini. “Perjuangan sebagai  manusia yang idealis ternyata cukup berliku dan melelahkan,” ujarnya.

Bagi yang tertarik kisah-kisah bertema sosial, tulisan Ahmad Tohari patut dibaca.

Judul Buku          :Orang Orang Proyek

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama  

Cetakan               :Ke 4, Januari 2019

Halaman              : 256 halaman

Diposkan pada manajemen, Woman and The Book

Ersyana Candra Dewi : “ Saya biasa melakukannya minimal 1 menit.”

@ersyanacandra

Rutinitas kehidupan sehari-hari yang meliputi dunia pekerjaan dan relasi sosial lainnya, secara sadar ataupun tidak bisa menenggelamkan mimpi, hasrat dan kekreatifitasan kita. Kondisi seperti ini bisa menuntun kepada “rasa lelah” dan meningkatnya rasa stress yang pada akhirnya kualitas hidup kita menurun. “ Sesekali, perlulah kita menarik diri dari rutinitas,” kata Ersya.

Perempuan yang berasal dari salah satu kota di Jawa Timur ini mengamini bahwa menarik diri dari rutinitas membuat  ia memiliki peluang menyegarkan diri baik secara fisik maupun mental. Menarik diri dari rutinitas dan  memasuki keheningan.

Darimana ia terinspirasi melakukan “keheningan” ini?

Menurut Ersya, setelah membaca buku Sejenak Hening, ia mendapatkan inspirasi-inspirasi baru tentang bagaimana ia menjalani waktu-waktunya. Buku tulisan Adjie Santosoputro ini merekomendasikan konsep keheningan yang dibangun dari kesadaran realitas sehari-hari. Adji dalam bab-bab yang ia tulis memberikan cerita-cerita yang memudahkan pembacanya memahami. Salah satu contoh yang disukai Ersya adalah bab tentang Terapi Kelereng.

Pada bab ini, melalui percakapan seorang tua dan anak muda yang sepertinya memiliki karir bagus, kita diingatkan bahwa ada hal lain selain pencapaian prestasi kerja yang ternyata sangat penting bagi hidup kita yakni keluarga. Waktu terus berjalan dan tidak bisa kembali. Ada baiknya, kita tidak melupakan kebersamaan dengan keluarga.

Selain cerita inspirasi,Ersya juga mendapat tips bagaimana membuat keheningan. Terdapat gambar yang memudahkan ia mengikuti tips tersebut.  “  Saya biasa melakukannya minimal 1 menit,” katanya lagi.

Buku ini ditulis oleh Adjie Santosoputro dengan pemilihan kata-kata yang sederhana. Tidak berbelit-belit.Dengan demikian memudahkan pembaca memahaminya.  

Judul buku : Sejenak Hening

Penulis : Adjie Santosoputro

Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai,2018

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.”

@ertaardheana

(dok.pri)

Jika cerita pada buku ini yang ditulis oleh Ahmad Tohari berkisar pada cerita kisah hidup Lasi tentang percintaannya, mungkin telah banyak tema seperti itu. Namun jika sudah terkait dengan kehidupan politik termasuk intrik-intriknya, buku yang berjudul “ Bekisar Merah” ini memiliki nilai lebih. Bahkan nilai ini mampu meyedot perhatian pembaca untuk meneruskannya hingga halaman akhir.

“ Jalan ceritanya, tidak romantis-romantis banget..,” komentar Erta Ardheana yang pernah mengulas tentang buku ini saat masih kuliah. Alumni jurusan Sastra Indonesia dari salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di yogyakarta ini meneruskan pendapatnya bahwa ketertarikannya pada buku ini adalah sentilannya pada gaya hidup dan intrik politik oknum-oknum di lingkaran kekuasaan. 

Ahmad Tohari, sastrawan yang lahir di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas , telah merunutkan cerita hidup seorang Lasiyah dari istri seorang penderes kelapa menjadi pihak yang terseret intrik politik.Pesona Lasi yang memiliki keturunan darah Jepang, pelan namun pasti membawanya kepada perangkap bisnis berahi tingkat tinggi bagi oknum-oknum yakni Handarbeni dan Bambung, yang ternyata memiliki akses dan pengaruh besar  kepada para petinggi negara.

Hidupnya bisnis berahi itu tumbuh dan berkembang karena adanya permintaan. Bambung, Handarbeni dan Lanting adalah tokoh-tokoh disini yang menjadikan Lasi adalah “pujaan” mereka. Tarik ulur kepentingan diantara mereka berputar pada jabatan dan uang. Terlebih bagi Bambung dan Handarbeni, Lasi adalah penambah prestise saat mereka bertemu dengan banyak tokoh. Orang-orang seusia Bambung dan Handarbeni ternyata membutuhkan sosok Lasi sebagai pemberi kabar tidak langsung bahwa mereka berdua masih lelaki sejati.

Lasi yang sebelumnya hidup di desa, ternyata menikmati kemewahan yang ia dapatkan. Hanya saja ,batinnya tersiksa saat menyadari bahwa ia tak lain adalah obyek yang bisa dibarterkan. Ia merasa buntu untuk mendapatkan jalan keluar. Bu Lanting benar-benar menjaga obyek tambang duitnya itu sehingga Lasi harus menjauh dalam ketakutan. Lasi semakin lama , semakin paham sebenarnya siapa orang-orang yang selama ini berada disekitarnya.

Perjumpaannya dengan Kanjat disatu sisi membuat Lasi bahagia. Namun pada kenyataannya, Kanjat tak berdaya di hadapkan dengan tembok kekuasaan Bambung dan “menyerahkan” Lasi.  Rumit, politis, dan berliku.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh.

(Erta Ardheana, 2019)

“Itulah kekuatan Ahmad Tohari. Ia berhasil menampilkan tokoh-tokoh yang kuat karakternya yang berlatar kondisi sosial yang terjadi di saat itu,” jelas Erta. Kehidupan para penyadap kelapa di Karangsoga, kondisi sosial ekonomi mereka memperlihatkan kondisi kaum marjinal. Disisi lain, Ahmad Tohari menunjukkan suatu kondisi sosial ekonomi kaum elit yang ternyata mampu mempengaruhi kehidupan orang lainnya. “ Kejadian yang dialami Lasi merepresentasikan hubungan-hubungan tadi,”ujarnya.

Saat ditanya kesan Erta tentang Lasi, Erta berpendapat bahwa Lasi merupakan sosok yang lugu, nekat, gampang terbawa pengaruh. “ Kecantikan yang ia miliki tidak bisa mempertahankan dirinya dari seretan pengaruh Bu Lanting, “ tambah gadis yang menyukai travelling dan makan ini.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh. “ Lasi adalah  Janda cantik yang  terseret ke  lingkaran kekuasaan.”

Lanjutkan membaca “Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.””
Diposkan pada keluarga, manajemen, Woman and The Book

Giacinta Rezki Palupi : “Godaannya banyak…”

Saat ditanya, tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

“Tapi bagaimana lagi daripada tidak dipakai? Kita harus tegas!,” katanya lagi mantap.

Ya, apa yang perempuan berbintang Capicorn ini sampaikan ada hubungannnya dengan buku yang telah selesai ia baca.  Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Bermula dari pengalaman hidupnya, si penulis yakni Fumio Sasaki  sebagai seorang pekerja yang  mudah merasa tertekan, mengalami penurunan rasa percaya diri, dan memiliki motivasi yang lemah. Hingga disuatu saat, ia bertekad untuk mengubah kesuntukan hidupnya dengan mulai membuang barang-barang yang selama ini menyesaki apartemennya.

Saat ditanya tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

Manfaat dari aksi “buang” barang-barang itu ternyata berdampak pada kualitas hidupnya.  Ia memang mengosongkan banyak barang, namun sebagai gantinya ia dipenuhi oleh rasa kebebasan.  Ia terbebas dari rasa “tamak” akan barang-barang yang ternyata tidak terlalu penting dibutuhkan oleh Fumio Sasaki.  

Sediktnya barang membawa ia ke dalam produktifitas kerja , dan cara pandang yang lebih positif. Fumio Sasaki tidak perlu menjadi  orang yang harus memiliki banyak barang agar masuk ke dalam status orang yang sukses. Justru, sekarang ini ia menemukan kebahagiaan dengan kondisi minimalis nya sekarang  (bab 4   : 12 hal yang berubah sejak saya berpisah dari barang-barang kepemilikan ).

Kebahagiaan timbul dari waktu yang berkualitas bukan dari barang yang berkualitas (Fumio Sasaki)

Fumio mengurai  dengan runtut tentang mengapa kita hendaknya tidak terikat pada barang. Justru keberadaan barang yang harus menambah kualitas hidup kita, bukan sebaliknya.  Fumio memberi banyak tips bagaimana kita bisa memulai langkah minimalis.Ia juga memberi foto-foto yang menunjukkan suasana maksimal dan minimalis. Walau buku terjemahan, namun hasil terjemahannya cukup lancar. Pilihan kata-katanya mudah dimengerti dan tidak membuat kening berkerut. Ini tentu saja sangat berguna bagi pembaca.

Cinta pun setuju bahwa tips yang dibagikan oleh Fumio Sasaki dalam buku ini bermanfaat. Langkah minimalis memberi  kita referensi  membedakan mana yang sebenarnya merupakan kebutuhan atau keinginan.  Bila kita telah bisa konsisten menjalankan minimalisme, kualitas hidup akan meningkat. Pada akhirnya, rasa kebebasan dan bahagia akan bisa dirasakan.

Hidup berkualitas tidak hanya untuk kenyamanan bersama diri sendiri.
Minimalisme memberi kesempatan kita bertemu lebih banyak orang.
@ghealove
(Giacinta Rezki Palupi)

Saat ditanya apakah Cinta sudah melakukan langkah minimalis, perempuan yang hobi nge-gym dan make up  ini menjelaskan bahwa ia sudah mempraktikannya sebelum membaca buku tulisan Fumio Sasaki.” Belum seperfect  seperti di buku ini,” jelasnya. Diantara kesibukannya, ia hanya memiliki waktu di masa weekend untuk bersih-bersih.

“ Godaannya banyak untuk menyingkirkan barang,” akunya. Cinta punya usul, jika ingin  buang barang yang bermanfaat yakni jual saja  lewat aplikasi jual beli online.” Selamat mencoba!”.(*)

Judul Buku :
Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia

Cetakan Kedua : Januari 2019

Diposkan pada hukum,ekonomi, Woman and The Book

Patricia Kalis Jati : “ Jangan berharap kita mendapat cara memberantas korupsi….”

Sebuah buku tebal (664 halaman lebih) terlentang di depan seorang perempuan berambut panjang. Nama perempuan itu Patricia Kalis Jati. Buku itu termasuk terbitan baru dari sebuah penerbit terkenal. Sekilas terpampang judul itu yakni Korupsi  Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Bagi sebagian orang, judul itu terasa berat. “ Iya , memang berat bacaannya sih. ..,” katanya.

Patricia mengakui bahwa ia belum selesai membaca buku tulisan             B Herry Priyono ini. Diantara kesibukannya sebagai mahasiswi semester akhir dan  asisten dosen jurusan akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Yogyakarta ini, ia memerlukan waktu senggang untuk membaca halaman per halamannya.

Ia memang tertarik  dengan topik korupsi karena pada kesehariannya di kampus, ia juga membahas tentang korupsi, misal pada kuliah tentang sistem informasi akuntansi. Ia mempelajari tindakan-tindakan orang yang terindikasi koruptif melalui triangle fraud.Saya hanya mencoba menambah  pengetahuan baru tentang korupsi,” kata Patricia sambil tersenyum.

Menurut Patricia,lahirnya buku ini tergugah dari pengalaman penulis saat mendapati pertanyaan “Apa itu korupsi?. Ternyata susah untuk memberi jawaban. Singkatnya,pada akhirnya si penulis merasa bahwa ada referensi konseptual  yang masih kosong mengenai definisi tentang korupsi. Untuk itulah, ia tergerak mencari dan menyusun literatur agar menjadidasar pendekatan menjawab pertanyaan tadi.

Jika dilihat dari daftar isinya, memang penulis  fokus pada hal definisi. Ia melacak banyak pemikiran mulai dari zaman sebelum modernitas hingga zaman kontemporer. Banyak nama pemikir populer disebut pada halaman tersebut seperti Thomas Hobbes, Adam Smith, Max Weber dll. Ini menunjukkan bahwa penulis  merasa pentingnya menelusuri pemikiran masa lalu sebagai jejak-jejak yang harus diurut.  Bukan saja pemikiran tokoh, namun juga harus ditelusuri konteks zaman saat pemikir tersebut hidup. “ Ini berarti studi korupsi tidak hanya berkutat pada sisi filsafat saja namun   harus melibatkan studi-studi lainnya seperti sosial politik,” ujar Patricia.

Memang benar yang disampaikan Patricia. Pada bab ke 6, B Herry Priyono menuliskan tentang keragaman pendekatan dalam ilmu sosial dalam studi korupsi seperti ekonomi, antropologi,krimonologi, teori sistem( sosilogi) dll. Pendekatan-pendekatan ini memang memperkaya informasi. Namun pada buku ini , keragaman pendekatan ini tetaplah konsisten dalam bingkai untuk melacak pertanyaan besar tadi yakni “Apa itu korupsi?”. “ Jangan berharap kita mendapat cara memberantas korupsi dari buku ini,” jelas Patricia.

Patricia mengagumi banyaknya literatur yang mendukung buku ini. Selain itu, ia juga menyoroti tata bahasa yang mudah dimengerti. Ia yakin, akan mempermudah pembaca menghabiskan halaman-demi halaman. Saat ditanya, apakah ia berkeinginan membuat buku seperti ini yang berbasis penelitian, Patricia menjawab ada impian itu namun bukan waktu dekat ini. “ Saya sedang penelitian untuk menyelesaikan skripsi !”, sahutnya.

Wish you luck,Patricia !

Judul Buku : Korupsi Melacak Arti, Menyimak Implikasi

Penulis           : B Herry Priyono 

Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama, 2018

Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Sularsih Condro Rini: “..Belajar matematika bareng anak itu memang enaknya sambil bermain ..”

@rorocondrokirono

Mendengar kata matematika kita akan teringat  berbagai respon dari orang per orang. Ada yang merasa takut, seram, biasa saja, atau bahkan senang.   Senang?

 Bagi sebagian orang akan mempertanyakan kata “senang” ini. “Bagaimana mungkin akan merasa senang, melihat itung-itungannya saja sudah pusing”, kalimat ini  bisa jadi mewakili pertanyaan mereka. Jika bidang matematika adalah ilmu yang netral,maka apa yang salah dengan matematika?

 Bisa jadi, salah satu penyebabnya yakni pengajarannya yang tidak menarik. Pelajaran matematika sebenarnya bukan saja dipelajari  saat di  sekolah. Saat dirumah pun bisa, dan orang tua lah yang menjadi guru bagi sang anak. Jadi, orang tua memiliki waktu yang berkualitas dengan sang anak, merawat kedekatan sekaligus menambah pengetahuan sang anak.

“Untuk bisa melakukan itu (mengajarkan matematika), orang tua membutuhkan referensi agar apa yang ia ajarkan memiliki tujuan jelas”
( Sularsih Condro Rini, 2018)

 “Untuk bisa melakukan itu, orang tua membutuhkan referensi agar apa yang ia ajarkan memiliki tujuan jelas,” kata Sularsih Condro Rini, mahasiswi Psikologi disebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Menurut Condro, referensi adalah hal yang penting karena bisa memberi petunjuk tentang kiat-kiat dan batas-batas yang bisa orang tua ajarkan sesuai umur

Salah satu referensi bagus yang layak kita baca yakni Montessori  di Rumah: 55 Kegiatan Matematika. Buku yang ditulis oleh Elvin Lim Kusumo (Founder of IndonesiaMontessori.com) ini,  berisi kiat-kiat orang tua mendampingi sang anak berusia 3-8 tahun saat  mempelajari tentang matematika dengan menggunakan peralatan yang relatif  mudah didapat setiap harinya. “ Buku ini sangat aplikatif. Setiap kiat diberi gambar-gambar berwarna, jadi mempermudah kita memahaminya,”tambah perempuan berambut panjang ini.

Elvin Lim Kusumo  juga memberi gambaran kepada orang tua tentang tahap-tahap fase anak mulai dari usia di bawah 3 tahun, enam periode sensitif dan tabel perkembangan anak usia 6-7 tahun. Pada setiap halaman yang berisi kiat, Elvin Lim Kusumo menuliskan tip dan note yang memberi tuntunan bagaimana memaksimalkan kiat tadi saat dikerjakan.

Buku yang diterbitkan oleh Esensi (Erlangga Group) ini adalah lanjutan dari kesuksesan buku pertama yakni Montessori di Rumah: 55 Kegiatan Ketrampilan Hidup. Elvin Lim Kusumo menuliskan karyanya ini berdasar pengalaman yang ia miiki,kemudian ia kombinasikan dengan metode Montessori. Ia berharap bahwa buku ini memberi sumbangan informasi yang mempermudah pembaca untuk menyiapkan  dan menjelaskan konsep matematika kepada anak di sekolah dan rumah.

Saat ditanya kiat mana yang paling ia sukai, Condro menunjuk halaman 116. Pada halaman itu tertulis Mengenal Dasar Pecahan Menggunakan Pisang.  Tujuan langsung dari kegiatan ini adalah mengenalkan konsep dasar pecahan. Orang tua mendorong sang anak untuk merasakan sendiri menemukan bilangan pecahan. Tampak seperti bermain, namun bisa membekas dalam memori anak. “ Saya pikir ini kreatif”,tukas Condro.

“Disini kekuatan buku ini. Belajar matematika bareng anak itu memang enaknya sambil bermain. Lebih mudah diingat dan menarik perhatian anak” kata Condro lagi.

Buku ini selain menjadi referensi orang tua, bisa juga direkomendasikan bagi siapa saja khususnya orang-orang yang profesinya berkaitan dengan pendidikan anak.

Judul Buku          : Montessori di Rumah : 55 Kegiatan Matematika

Penulis                 : Elvina Lim Kusumo

Penerbit              : Esensi (divisi Penerbit Erlangga)

Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Silvia Rina Primasari : “ Suatu hari,bunga yang cantik pasti mekar.”

@silviarinap

Itu sebuah kutipan indah yang dipilih oleh Silvia Rina Primasari. Perempuan yang akrab dipanggil Silvi ini mendapati kutipan  tadi  dari kisah Hans Christian  Andersen, seorang penulis dongeng kenamaan (2 April 1805-4 Agutus 1875). Hans Christian Andersen memiliki seorang ibu yang bernama Anne Marie. Sang Ibu adalah sosok yang selalu mempercayai bahwa Andersen kecil adalah  anak yang istimewa.

Andersen adalah anak yang suka berimajinasi kemudian menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Saat ia menunjukkan hasil tulisannya kepada para ahli, mereka memberikan pendapat yang meruntuhkan moral Andersen. Saat-saat seperti itulah Anne Marie tetap membuktikan keyakinannya  bahwa Andersen adalah anak yang istimewa dan membangun rasa percaya diri anaknya.

“ Ini hanya satu cerita saja di buku ini,” kata Silvi. Ia menujukkan buku yang sampulnya didominasi warna putih.  Buku yang berjudul It’s Okay, You’re Just Different ini ditulis oleh  Kim Doo Eung. Silvi menambahkan bahwa buku ini menyanjung peran ibu yang memang memiliki peran besar dalam kesuksesan orang-orang hebat seperti Albert Einstein, Bill Gates, Nelson Mandela, Nehru dll. “Biasanya,orang-orang besar ini yang lebih sering kita ketahui prestasinya. Namun sangat sedikit kita tahu tentang peran ibu mereka,” jelas Silvi.

“Ibu adalah sosok yang hebat karena dari merekalah orang-orang akan menjadi hebat,” (Silvi,2018)

https://resensibukupilihan.com/2016/12/19/anak-terlambat-bicara-jangan-diratapi-melainkan-dampingi/

Suatu saat iamengajak Andersen yang sedang galau ke sebuah kebun bunganya. Ia menuturkanbahwa Andersen layaknya tumbuhan kecil yang belum kelihatan indahnya. Namunoleh proses waktu, bunga tersebut akan mekar dan menujukkan kecantikannya.Kata-kata seperti inilah yang menyemangati Andersen hingga di kemudian hari iamampu membuat cerita  yang dikenal duniaseperti  Putri Duyung dan Ratu Salju.

Dalam buku ini, kisah masing-masing ibu walaupun tidak sama persis kisahnya namun memiliki persamaan bahwa seorang ibu adalah orang yang paling memahami anaknya. Mereka  tetap teguh pendirian tentang anaknya saat mendapat cemoohan dan ketidakpercayaan dari  orang lainnya. Tutur kata dan sikapnya sangat membantu rasa tenang sang anak yang merasa mendapat sandaran.

“ Saya sudah baca . Buku ini terasa ringan  dibaca. Gaya bahasanya tidaklah rumit. Walau isi buku ini adalah terjemahan, namun terasa sederhana dan dekat di hati. Sehingga bukan saja inspirasi yang didapat, namun juga  menyegarkan kembali rasa hormat kepada ibu kita.” Kata Silvi lagi.

Judul Buku          : It’s Okay, You’re Just Different

Penulis                 : Kim Doo Eung

Penerjemah       : Amelia Burhan

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama, 2018

Diposkan pada Woman and The Book

Antonia Meme : “ Tahun politik wajarlah terdengar berisik..,”

meme1
@niamemee

Tahun 2018 dan 2019 jelaslah menjadi tahun politik. Bukan saja pemilihan anggota DPR mulai dari tingkat kabupaten/kota  hingga pusat, pemilihan presiden juga bersamaan dilangsungkan.  Sebagian konsentrasi negara ini terisi oleh agenda pemilu tersebut.

“Banyak hal akan mudah dikaitkan dengan politik,” kata Antonia Meme.  Mahasiswi S2 jurusan Komunikasi di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Yogyakarta ini berpendapat bahwa keriuhan bernuansa politis baik di media cetak dan online  pasti terjadi.  Isu-isu dan gerakan-gerakan politik dari masing-masing pendukung berusaha mempertahankan “kebenaran” versi mereka dan menyalahkan” kebenaran” yang disuarakan lawan politiknya unuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Bukan saja oleh para politisi, masing-masing pendukung di tingkat terbawah juga bisa tergiring menyuarakan masing-masing klaim “kebenaran” tadi.  Khusus di media online, sebuah isu yang diangkat biasanya mendapatkan respon yang riuh dan berpotensi  terus membesar hingga  sampai ke tingkat berisik. “ Tahun politik wajarlah terdengar berisik..,” jelas Meme.

Secara pribadi, Meme  memiliki kekhawatiran terhadap  keberisikan itu. “ Isu dan gerakan yang  terjadi sedikit sekali mengajak kita berpikir kritis. Kita terjebak hanya isu-isu yang mungkin hanya sepotong-sepotong kita pahami seperti  #2019 ganti presiden, buzer,black campaign, politik kebohongan, hoax dll,” jelasnya.

Untuk itu, menurut Meme, perlulah kita undur sejenak dari hiruk pikuk saling berbalas antar pendukung. “ Kita harus luangkan waktu mencari informasi yang lebih mendalam. Salah satunya yakni melalui buku seperti ini,” katanya sambil menujukkan sebuah buku.

Padanya ada sebuah buku berjudul New Media & Komunikasi Politik (Teori Konstelasi Politik  dalam Ruang New Media) terbitan Mbidge press. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para penulis yang telah berkecimpung di dunia komunikasi politik.

IMG-20181014-WA0003Ada banyak tema menarik yang diangkat pada buku itu dan sesuai dengan waktu kini, seperti Buzzer di Media Sosial : Antara Marketing Politik dan Black Campaign dalam Pilkada (Christiany Juditha), Membaca Isu Pencalonan Presiden Menjelang Pilpres 2019 Melalui Meme Politik di Media Sosial (Rosalia Prismarini Nurdiarti), Diantara Belenggu Billik Gema, Bias Media&”Maha Benar” Netizen dengan Segala Postingannya (Arif Kusumawardhani) dan #Tagar, Ruang Publik&Identitas Kultural (Astri Wulandari).

Menurut Meme, buku ini bisa memberikan informasi yang mendalam bagi siapa saja yang tertarik dengan dunia komunikasi politik.  Buku ini merupakan hasil dari sebuah penelitian. Tentunya apa yang ditulis disini berdasar apa yang terjadi di lapangan dan dianalisa dengan teori yang pas sehingga menjadi informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

IMG20181110185154

Judul buku :

New Media & Komunikasi Politik (Telaah Konstestasi Politik dalm Ruang New Media)

Penulis :

Christiany Juditha,dkk

Editor :

Didik Haryadi Santoso

Penerbit:

Mbridge Press

Diposkan pada seni, Woman and The Book

Nurmalita Rosiana Fatharani : “Traveling dan Foto itu….Wajib banget!”

 

Perempuan yang akrab dipanggil Rani ini memang senang traveling khususnya ke tempat-tempat yang nuansa alamnya kuat seperti pantai, pegunungan dll . Baginya , saat berada di tempat itu ia berasa lepas  sejenak dari banyak masalah. “ Bukan menolak menghadapi masalah lho…hanya  ingin rileks. I feel free!” katanya.

Rani merasa alam bisa memberikan  kekuatan. Saat menemui suasana pegunungan, Rani suka  desiran angin, kicauan burung, keheningan  dan kesegaran udaranya. Sedang saat di pantai, ia menyukai bau khas pantai, pasir, dan sunset. “ Kangen kalau sudah lama tidak merasakannya..”, sahutnya.

Terlalu sayang jika keindahan alam begitu saja dinikmati. “ Aku ingin menjadi bagian yang indah,” tuturnya.

Emm maksudnya?

“Ya main foto disitulah. Terus masukin IG,”

Owww

Memang benar saat disimak, IG nya yakni @rosianarani ,foto-fotonya sebagian bertema alam. “ Traveling dan foto itu..wajib banget!”

rani three

Saat tidak memiliki kesempatan traveling, Rani biasanya searching tentang wisata alam di medsos atau lihat-lihat buku bertema alam seperti yang ia pegang sekarang. Buku yang berjudul Kepundan Kasih Menyadap Ilham Dari Alam  ini  cukup unik karena memadukan antara foto dan puisi.  Tentang foto-foto di buku ini karya   Harno Depe, seorang profesor pada Departemen Kimia  Fakultas MIPA   UGM Yogyakarta.  Setiap foto  di buku itu, seolah bisa hidup dan bercerita.

“Foto dan puisi yang berdampingan di buku ini tampaknya memang saling terkait. IMG-20181015-WA0003Namun kita bisa menikmatinya sesuai dengan selera kita. Seperti ini…”, kata Rani sambil menunjukkan salah satu halaman yang menggambarkan suasana sunset  (halaman 136). “ Ini foto favoritku. Suasana sunset sepertinya mengingatkan kita bahwa  ada waktunya  dalam hidup  untuk beristirahat. Besok dengan tenaga baru, bisa berkarya lagi.” lanjutnya.

Tentang Puisi, Rani menunjuk sebuah halaman yang tertulis puisi berjudul Indah yang  Tak Kekal (halaman 16). Pusi ini karya Novi Indrastuti, seorang doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Isi puisi  tersebut mengajak kita mengingat bahwa  fisik di dunia ini memang tidak ada kekal.  Menurut Rani, kita harus memanfaatkan benar selagi kita masih kuat untuk berkarya yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

Rani setuju jika ada yang berpendapat  bahwa  banyak inspirasi di halaman-halaman lainnya. Melalui karya foto oleh  Harno Depe dan  puisi oleh Novi Indrastuti  memberi  warna yang berbeda dalam dunia literasi.” Saya sudah habis membaca buku ini dan saya suka,” katanya sambil tersenyum.

Judul buku :

Kepundan Kasih Menyadap Ilham Dari Alam

Fotografer :

Harno DepeIMG_20181013_162142.jpg

Penyair :

Novi Indrastuti

Penerbit

Gadjah Mada University Press

Halaman:

172

Cetakan Pertama:

Juli 2018

 

Diposkan pada Woman and The Book

RR Sari Nastiti :  “ Ingin bahagia? Coba…”

IMG-20180819-WA0012
RR Sari Nastiti @rrsarinastiti

Bila kita mendengar ada orang yang mengucapkan  “ Sing Waras Ngalah..” kemungkinan besar  orang tersebut sedang mengalami sebuah konflik dengan pihak lainnya.  Ucapan itu juga menunjukkan jalan yang dipilih oleh orang tersebut dengan menarik diri dari konflik karena menganggap tidak ada guna lagi terus berada di dalam konflik. Biasanya, salah satu bentuk ekspresi  yang diperbuat oleh orang tersebut yakni diam.

Saat seseorang memposisikan kita waras dan orang lain tidak waras, ada baiknya kita bermenung sebentar.  Mengingat berbagai macam peristiwa yang pernah kita lalui. Bisa pula mengingat pengalaman orang lain untuk menelusuri sikap kewarasan itu seperti apa dan bagaimana.

Maria Rostanti :” Yang Tak Terlupakan adalah..”

” Sepertinya buku ini yang mencoba memberikan contoh permenungan tentang kewarasan,” kata RR Sari Nastiti. Padanya, tergenggam sebuah buku berjudul Yakin Waras? Potret Ironi Kehidupan Manusia tulisan dari Mona Sugianto.

Mona memberi serentetan pertanyaan di awal halaman buku ini untuk membuka pintu pikiran pembaca, diantaranya  :

  • Apakah kita sedang dalam kondisi waras kalau kita dipenuhi oleh aneka pikiran buruk dan kebencian kita terhadap diri sendiri dan orang lain?
  • Apakah waras kalau kita memberikan begitu banyak cap kepada diri kita dan orang lain?
  • Apakah kita waras kalau kita berusaha menutupi satu  kebohongan dengan kebohongan  yang lain untuk menutupi pengalaman memalukan kita  di masa lalu?

Mona membawa kita ke alur untuk mempertanyakan kita sendiri sejauh mana kita waras. Berbekal pengalaman profesinya sebagai psikolog klinis, Mona menuliskan setiap bab nya diawali dengan sebuah kasus yang dekat dengan kita. Bahkan, sangat mungkin sedang kita alami.

IMG-20180722-WA0003
“ Inilah enaknya buku yang ditulis praktisi, selalu ada kasus,…” (RR Sari Nastiti (2018)

“ Inilah enaknya buku yang ditulis praktisi, selalu ada kasus, penulisannya sederhana dan tidak membuat kening berkerut,”kata perempuan yang berprofesi sebagai akunting di sebuah hotel terkenal di Yogyakarta ini.

Mona menyingkap sedikit demi sedikit tentang sulitnya kita sebagai orang masa kini menerima sebuah nilai kewarasan dan bagaimana kita berperilaku sebagai orang waras.  Orang menjalani hidup  menggunakan topeng dalam hidupnya.  Perilaku dan pemikirannya mudah masuk kedalam lobang ironi yakni  tidak sejalan. Seseorang bisa mencela atau menghakimi orang lain, namun bila ditelusuri lebih jauh, orang tersebut juga berbuat yang isinya sama dalam bentuk perilaku lainnya. Tak salah jika muncul pernyataan bahwa   kita tidak bisa lagi membedakan secara tegas  mana bentuk yang waras, mana yang tidak.

Jika kita sudah merasa bertindak sebagai orang waras, namun hasil yang diterima dari tindakan kita berakibat buruk pada diri kita sendiri dan orang lain sehingga mempengaruhi kualitas kebahagiaan, ada baiknya merenungkan dulu apa yang terjadi.

“Buku ini bisa jadi teman untuk menengok perilaku kita. Teman yang memberi peringatan kepada kita bahwa perjalanan hidup kita sebaiknya mengarah kepada kebahagiaan melalui perilaku dan pikiran di setiap harinya,” ujar Sari sambil senyum manis.

“Ingin bahagia?Coba baca ini” katanya.

IMG_20180908_200712

 

 Judul      : 

Yakin Waras?  Potret    Ironi  Hidup Manusia

Penulis :

Mona Sugianto

Penerbit :

Penerbit Kanisius

Cetakan :

I (2018)