Ellisabeth Devi Renayan: ”  ..Itu Romantis…”

 

IMG-20180503-WA0004
Ellisabeth Devi Renayan @devirena                                                                 photo by @dionhusno

Membaca sebuah buku yang berisi tentang puisi, tidak semua orang terbiasa. Karena puisi itu urusan hati, maka perlu adanya tarikan yang menyentuh. “ Contohnya ya suasana hati,” kata Ellisabeth Devi Renayan yang akrab disebut Ellisa.

Menurutnya, salah satu bentuk suasana hati yakni  saat sedang galau. Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. “ Puisi itu menjadi aku banget,” tambahnya.

Pipit Tita Adhitya : Memaafkan Dipilih Dari 1000 Alasan Untuk Membenci

Di tangannya ada sebuah buku Antologi Puisi Fotografi  berjudul Di Balik Lensa Kata.Pada buku ini, tertulis syair yang dibuat oleh Novi Indrastuti yang didampingi foto karya Harno Depe. Keduanya adalah dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

“ Ini kreatif. Puisi dan Foto menjadi kombinasi yang bagus.  Seperti dua bentuk yang menjadi satu jiwa,” ungkap perempuan berbintang sagitarius ini sambil membuka-buka lembaran halaman buku itu.

Saat ditanya, puisi dan foto mana yang ia suka, Ellisa menunjuk satu  halaman yakni halaman 10. Pada halaman 10, puisi yang berjudul  Tangga Impian yang didampingi sebuah foto yang menunjukkan sebuah tempat di Denpasar Utara.

IMG-20180503-WA0014
Puisi  bisa menjadi teman yang mewakili suasana hati. (Ellisa,2018)

”… namun aku tetap pantang menyerah 

karena setiap anak tangga adalah makna

setiap jejak adalah dinamika kehidupan

setiap langkah adalah lompatan waktu

yang akan mendorong  dan mengejarku

menuju puncak tangga impan.

Bagi Ellisa, kutipan  pada halaman ini, mewakili pengalaman hidupnya. “ Saya memiliki tujuan, dan untuk mencapainya kita harus mendakinya . Proses untuk setiap naiknya itu ada tantangan yang harus dihadapi. Untuk Tangga yang kita daki rasanya seperti naik kelas,” tuturnya.

Antologi Puisi dan Fotografi pada buku ini  romantis. Makna romantis baginya  tidak selalu berhubungan dengan kisah asmara. Romantis disini, menurut Ellisa, lebih kepada sebuah perhatian  yang mewakili  isi hatinya.

IMG-20180503-WA0007

 

 

 

Judul               : Di Balik Lensa Kata

Penyair           :

Novi Indrastuti

Fotographer  :

Harno Depe

Penerbit         :

Gadjah    Mada University Press

 

Asha Nuria Novitasari : “Yang Sedang Pedekate…”

IMG-20180406-WA0002
@ashannov

Sebuah novel tampak tergenggam di jemarinya.  Bergambar lelaki telanjang dada sambil tangannya sedang mengolah menu. “ Aku coba baca buku genre lain,”kata Asha . Biasanya tema favoritnya adalah perempuan, namun kali ini ia memilih novel roman. Novel ini  berjudul  Too Hot to Touch  yang ditulis oleh Louisa Edwards.

Walau bukan buku baru, menurut Asha, temanya adalah sesuatu yang everlasting.“ Buku ini lebih bisa dirasakan oleh mereka yang sedang pedekate atau jadian awal,” katanya lagi.

Buah Hati Sedang Sakit Apa? Ini Menu Makanannya

Buku ini berkisah tentang kembalinya Max Lunden dari pengembaraannya menimba ilmu tentang kuliner di berbagai negara. Hingga suatu saat, ibunya meminta pulang untuk sebuah Kontes kuliner yakni Raising Star Chef. Kontes ini memiliki arti penting bagi resto orang tuanya , Lunden ‘s Tavern.  Max benar-benar pulang namun ia mengatakan bahwa setelah kompetisi selesai, ia akan pergi lagi.

Max bertemu dengan Jules Cavanaugh. Singkatnya, mereka berkencan sambil terlibat sebagai tim dalam kompetisi Rising Star Chef.  Memang ada kekhawatiran, hubungan mereka akan mengganggu konsentrasi tim.  Bahkan sempat pula orang tua Max meminta Jules untuk menjauhi anak mereka.

IMG-20180410-WA0046
recipe for love

“ Disinilah naik turun emosi pada kisah ini. Apalagi Jules tahu bahwa Max akan pergi  setelah kontes berakhir,” ungkap Asha yang saat ini berprofesi sebagai Project Coordinator pada sebuah perusahaan.

Hal yang terasa lain pada buku ini adalah pernak-pernik menu yang dipilih oleh  tim Lunden’s Tavern. Bahkan pada halaman belakang, tertulis resep-resep  komplit yang memang menjadi bahan cerita novel ini. “ Ini bukti keseriusan  penulisnya,” sergah Asha.

“ Satu lagi yang menarik,ini termasuk hot..!” kata Asha sambil tertawa.

Maksudnya,Sha????

 

too hot to touch 2

Judul                     : Too Hot To Touch

Penulis                 : Louisa  Edwards

Penerbit              : PT Elex Media Computindo

Halaman              : xxii + 422

 

Dian Husna : Layak Menjadi Referensi Para Ahli Teater..

dian V
@dionhusna

Teater bukan tontonan baru baginya.  Walau tidak terbilang rutin, gadis manis ini mengaku terhibur. “ Biasanya nonton di kampus sewaktu masih  kuliah,” cerita  Dian . Pada saat menonton, Dian sering berpikir bagaimana mereka membuat naskah dan memerankannya apalagi jika yang dipentaskan bukan naskah yang konteksnya Indonesia melainkan luar negeri.  “ Sepertinya sutradara dan pemain teater melakukan studi atas naskah itu,” ungkapnya.

Saat ini disela waktunya, Dian sedang membaca sebuah buku  tentang Sosiologi Teater tulisan Nur Sahid yang memang dikenal memiliki concern tentang dunia teater. Nur Sahid menuliskan pemikirannya tentang sumbangan yakni  Sosiologi Teater : Teori dan Penerapannya kepada dunia pengkajian seni.  Sosiologi Teater  masih dianggap sebagai sebuah  disiplin dari sosiologi yang baru. Untuk itu, sumbangan buku ini penting menjadi referensi bagi pengembangan ilmu teater, sosiologi seni , dan dunia seni pertunjukkan.

Linda Lasito : “ Imajinasi Saya Mudah Mengalir Mengikuti Alur Cerita Ini….,”

Buku ini sepertinya ingin mengingatkan bahwa berbicara tentang teater tidak hanya berbicara tentang proses kreatif keaktoran, penyutradaraan, artistik dll. Nur Sahid mengemukakan bahwa ada aspek lain seperti  sosio kultural yang bisa diperbincangkan karena memang  teater terkait dengannya.

“ Terlebih sebagai bangsa Indonesia, sosio kultural  yang dimiliki sebenarnya adalah daya tarik. Perlu kajian bagaimana mengangkat keunikan Indonesia menjadi  sebuah persembahan teater bagi penyadaran masyarakat,” kata Dian sambil membuka-buka buku ini.  Menurut Dian, buku ini memang layak menjadi referensi bagi  para ahli teater, pengkaji dan pemerhati dunia teater, namun masih diperlukan referensi lanjutan agar menjadi  alat kaji yang lebih matang.

dian husna VII

Judul Buku                                           : Sosiologi Teater : Teori dan Penerapannya

Penulis                                                 : Nur Sahid

Penerbit                                              : Gigih Pustaka Mandiri

Halaman                                               : viii+194

Cetakan pertama                             : Maret  2017

 

 

 

Pipit Tita Adhitya : Memaafkan Dipilih Dari 1000 Alasan Untuk Membenci

tita2

 “Bila saat ini kita sedang marah dan membenci seseorang atau sekelompok orang, dan merasa sukar berdamai dengan kemarahan itu, ada baiknya nikmati makanan favorit atau  tidur demi meredakan perasaan itu. Setelahnya, silakan baca buku ini,” kata Tita, panggilan akrab dari Pipit Tita Adhitya.

 

Ditangannya terdapat sebuah buku yang berjudul I Shall Not Hate tulisan dari Izzeldin Abuelaish, seorang dokter  kandungan di salah satu rumah sakit di Israel. Izzeldin menuangkan pengalaman hidupnya mulai saat kecil, dedikasi kepada profesinya, kematian  istrinya, dan tewasnya ketiga putrinya  terkena bom tentara Israel.

Apa lagi yang tersisa bagi seorang laki-laki yang kehilangan anak-anaknya dari  misil orang-orang yang mungkin  keluarga mereka pernah dibantu masalahnya tentang terapi memperoleh keturunan oleh Izzeldin?

“ Amarah dan dendam,” tukas Tita.

Lusi : “Membuatkan menu yang disukai anak itu, menyenangkan!”

Amarah dan dendam memang tampak logis sebagai pelampiasan amarah setelah ia kehilangan anak-anaknya.  Rasanya Izzeldin memang sangat berhak marah. Bukan saja karena apa yang menyebabkan ketiga putrinya tewas, namun karena banyaknya penghinaan, prasangka buruk kepada dirinya sebagai keturunan palestina  yang berlangsung lama oleh pelaksanan tugas dari rezim yang berkuasa.

“ Tapi Izzeldin memilih untuk tidak membenci,” kata @pipititadhiyta lirih.Tita merasa tidak mudah memahami mengapa Izzeldin memilih sikap itu. Ia juga merasa bahwa banyak orang yang juga akan sependapat dengannya.

tita1
@pipititadhyita

Mungkin salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan mengetahui karakter Izzeldin Abuelaish  dan mencari jejak proses yang menuju ke sikapnya yang tidak mau membenci. “Untuk itu harus dibaca buku ini hingga selesai. Ini adalah True Story.” jelas Tita.

Saat ditanya, jika Tita merasakan marah, apa yang ia lakukan. Sarjana Peternakan dari sebuah kampus negeri di Yogyakarta ini memilih untuk fokus pada hal yang positif yakni  mengerjakan bisnis  produksi hijabnya dengan label @dinantihijab .Tita bisa mengurusi mulai dari desain, pemilihan kain, ukuran dan pemasarannya.

“Marah boleh. Tapi jangan lama-lama. Arahkan ke hal yang  lebih positif,” katanya sambil senyum.

 

Judul Buku          : I Shall Not hate

Penulis                 : Izzeldin Abuelaish

Penerbit              : Qanita (PT Mizan Pustaka)

Cetakan ke 1      : 2011

Halaman              : 308

Dian Husna : “Yakin Punya Good Strategy…..?””

 

compress
photo by @dwianggisiregar

Salah satu perusahaan jasa seni grafis menuliskan rangkaian kalimat  yang dilabeli “Strategi Utama Kami” :

STRATEGI UTAMA KAMI
Kami akan menjadi perusahaan jasa seni grafis pilihan
Kami akan memuaskan konsumen dengan solusi unik dan kreatif untuk masalah mereka
Kami akan menambah omset setidaknya 20% setiap tahun
Kami akan menjaga margin keuntungan setidaknya 20%
Kami akan memiliki komitmen.Sasaran perusahaan adalah komitmen yang kami jaga bersama
Kami akan memelihara lingkungan kerja yang jujur dan terbuka
Kami akan bekerja untuk mendukung masyarakat  (halaman 51-52)

 

“Pada awalnya, saya menganggap tulisan tersebut menggambarkan tentang strategi. Namun setelah membaca buku ini, saya tidak berpikir seperti itu lagi. Saya pikir itu adalah ambisi” kata Dian Husna sambil membuka-buka halaman buku yang berjudul Good Strategy/Bad Strategy.

Menurut perempuan manis berjilbab ini, strategi bukanlah kumpulan dari visi dan misi, jargon motivasi atau keinginan besar yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga baik politik, sosial ataupun bisnis. Strategi merupakan respon terhadap sebuah masalah dengan cara menghitung secara teliti bagaimana sebuah lembaga tadi mencapai tujuannya.

Ratih : “Crowdsourcing itu harus smart..”

Saat ditanya tentang isi buku ini, Dian Husna mengatakan bahwa buku ini mengupas tentang Good Strategy dan Bad Strategy. Richard P Rumelt penulis buku ini, menurutnya, telah mengidentifikasi tentang unsur –unsur yang masuk kedalam Good Strategy yakni diagnosis, kebijakan penuntun dan tindakan koheren.

dian husna
Good Strategy Bad Strategy

Rumelt pun mengemukakan bahwa Bad Strategy bisa tumbuh dari kesalahpahaman yang spesifik dan kepemimpinan yang tidak berfungsi. Rumelt mengumpulkan banyak kasus dan kemudian mengidentifikasi tanda-tanda Bad Strategy yakni omong kosong, kegagalan untuk menghadapi tantangan, salah mengartikan tujuan, dan sasaran strategis yang buruk. Kegagalan mengidentifikasi strategi yang buruk, akan menuntun kepada kegagalan pencapaian target ataupun perbaikan kondisi .

“Inilah peran buku ini bagi banyak profesi mulai dari birokrat, militer, pebisnis maupun ilmuwan. Bukan saja menginformasikan bagaimana kita mengidentifikasi Bad Strategy, namun juga memberi tuntunan bagaimana membuat Good Strategy. Ditambah karena buku ini  memuat  banyak kasus  mulai dari yang termasuk Good Strategy maupun Bad Strategy sehingga memperkaya pemahaman,” kata perempuan berzodiak sagittarius ini.

Processed with VSCO with hb1 preset
@dionhusno

 

Judul Buku                  : Good Strategy Bad Strategy
                                         Strategi Baik dan Buruk dalam Bisnis
Penulis                         : Richard P Rumelt
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman                     : XVI + 343
Cetakan                       : Desember 2017

 

 

 

Maulitina Asepti Budi Rahayu : “ Enam Prinsip Ini Akan Membantu Sebuah Informasi Menjadi Viral..”

instagram : @aseptibr
@aseptibr

Chip Heath and Dan Heat telah menuliskan sebuah buku yang menjadi best seller yakni Match to Stick. Mereka mengangkat sebuah penemuan yang berasal dari berbagai penelitian mereka tentang bagaimana membuat gagasan itu melekat di benak orang. Tidak lama, Jonah  Berger mempertajam apa yang telah menjadi temuan Chip Heat dan Dan Heat. “Sebuah informasi yang melekat namun tidak menjadi getok tular atau mewabah (Contagious), tidak akan menjadi informasi yang kuat”, kata Maulitia Asepti Budi Rahayu, lulusan Jurusan Komunikasi sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta ini.

Bagi perempuan berbintang virgo ini, informasi yang kuat akan mampu membuat orang berbincang dan menyebarkan ke orang lainnya baik melalui perbincangan online maupun offlline. Dari penelitian yang dilakukan oleh  Jonah Berger ada kabar baik  bagi semua pihak mulai dari poitisi, penulis naskah, komendian, pebisnis bahwa untuk menjadikan informasi yang mereka sampaikan menjadi mewabah atau viral, itu bisa d i c i p t a k a n .

Jonah Berger dalam bukunya berjudul Contagious merekomendasikan 6 prinsip yakni Mata Uang Sosial, Pemicu,Emosi, Umum, Nilai Praktis dan  Cerita . Dengan bersandar pada 6 prinsip ini, informasi yang disampaikan kemungkinan besar akan mewabah atau viral.

Untuk menyampaikan tentang 6 prinsip ini Jonah Berger mempermudah pembaca buku untuk memahaminya dengan cara menyediakan banyak cerita yang memang telah ditelitinya. “ Saya menyukai cerita dari sebuah perusahaan Blendtec yang memilliki strategi kreatif membuat produk mereka diperbincangkan,” kata Septi.

Singkatnya, manajer pemasaran Bendtec  George Wright berpikir keras bagaimana kehebatan blender produk mereka akan viral. Suatu saat, ia bereksperimen memasukkan kelereng dan bola golf dan lidi ke dalam blender. Kelereng adalah barang pertama yang ia uji coba. Bersama Tom Dickson, pimpinan Blendtec, mereka memasukkan kelereng ke dalam blender, mengaktifkan blender, menunggu beberapa saat setelah blender di non aktifkan, dan menemukan kenyataan bahwa kelereng mereka telah berubah menjadi serbuk.

IMG-20180131-WA0004

“Sebuah informasi yang melekat namun tidak menjadi getok tular atau mewabah (Contagious), tidak akan menjadi informasi yang kuat”.(Septi, 2018)

Noviantika Widyayanti :”Membuat Gagasan Kita Melekat Lebih Penting Dari …..”

Rasa takjub Tom dan George pasca membuka tutup blender  adalah sama dengan jutaan para penonton video uji coba itu di Youtube yang diberi judul Will It Blend?. Takjub.

Kehebatan Blendtec menjadi pembicaraan. Banyak pemirsa yang ikut berpikir bagaimana kalau selain kelereng dan  bola golf yang dimasukkan ke dalam blender itu. Tentu saja ini adalah partisipasi yang bagus bagi pengembangan brand awareness Bendtec dan pada akhirnya mendongkrak penjualan Bendtec. Ini salah satu cerita sukses yang hanya bermodal tak lebih dari 50 dollar.

Septi mengakui bahwa ia menyukai buku yang isinya berdasar dari riset. Baginya, informasi yang ditampilkan akan valid. Ia meyakini bahwa isi buku ini akan membantu siapa saja yang ingin informasinya menjadi viral. “ Siapapun. Politisi hingga pebisnis. Mereka pasti membutuhkan informasi seperti yang Jonah Berger tulis ,” katanya yakin.

“ Oh ya, satu lagi keunggulan buku ini. Terjemahannya juga bagus!”, katanya sambil tertawa.

Judul                    : Contagious

                               Rahasia Di Balik Produk Dan Gagasan Populer

Penulis                 : Jonah Berger

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman             : IX + 297

 

Esterlita Damayanti : “Aku Yang Dulu,Aku Yang Sekarang, dan Aku Yang Akan Datang adalah..”

“Ini adalah novel baru di bulan Januari tahun ini,” tutur  Ester sambil menunjukkan sebuah buku tebal yang sampulnya tergambar seorang pelajar Sekolah Dasar. Disitu ada sebuah tulisan mencolok berwarna merah “ Darah Muda”.

Pada awalnya, Ester  mengira bahwa judulnya itu menggambarkan sosok yang masih muda, labil,mudah marah, dan emosinya sensitif. Ternyata, dugaanya lebih banyak  meleset. Novel karya Dwi Cipta ini, mengisahkan seorang “Aku” sebelum ia lahir, setelah lahir , dilanjutkan dengan masa-masa berikutnya pada perkuliahan.

“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai otobiografi penulis novel  ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang  yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan,” kata gadis penyuka warna ungu ini.

Ester mengingatkan, bahwa para pembaca novel ini jangan berharap menemukan sebuah kasus yang kemudian membawa  ke sebuah fase klimaks penyelesaiannya. Tidak! Disini , kisah-kisah yang terangkum dalam novel ini beralur maju. Pembaca akan menemukan letupan-letupan  kecil  emosi si “Aku” saat menemukan masalah, mencari jalan keluar, tidak mendapat dukungan dll dan semuanya mengalir begitu saja. Si “Aku” berproses terus menerus ke waktu mendatang.

“ Nah, disini kekuatan novel ini,” tegas Ester yang selalu menyukai Pulau Bali untuk menjadi destinasi wisatanya. Menurut Ester, novel ini menuliskan tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya dekat dengan  kehidupan kita, bahkan beberapa kasusnya akan sama dengan kisah hidup pembacanya.

“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai autobiografi penulis novel ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan,
“Aku” menjadi sosok sentral bahkan cenderung mirip sebagai autobiografi penulis novel ini. “ Sejarah kehidupan ditulis dengan mengaitkan berbagai kondisi sosial orang-orang yang terkait dengan si “Aku” mulai dari orang tua, teman dekat, saingan, hingga gebetan. (Ester,2018)

Khususnya bagi para pembaca yang pernah merasakan saat remaja hingga mahasiswa pada tahun 90-an  tidak usah mengerutkan kening untuk memahami apa yang ditulis Dwi Cipta ini. Sedang  bila pembaca usia yang lebih muda, mungkin akan begitu merasa agak “aneh” karena sentuhan teknologi  komunikasi kurang terekspos.

Saat ditanya, kira-kira makna Darah Muda pada judul novel terbitan Literasi Press ini , Ester menuturkan bahwa  “Darah Muda” menggambarkan prosesnya seorang “Aku” mulai dari masa Dulu, Sekarang, dan Akan Datang. Darah Muda selalu bergerak maju  untuk mencari  penggenapan mimpinya.

“ Tapi lebih tepat, kita tanya ke penulisnya  saja.hehe,” usul Ester sambil tertawa manis

dwi cipta
Dwi Cipta

Judul                                     : Darah Muda

Penulis                                 : Dwi Cipta

Jumlah Halaman              : x+386

Cetakan                               : pertama, Januari 2018

Penerbit                              : Litersi Press     

Noviantika Widyayanti :”Membuat Gagasan Kita Melekat Lebih Penting Dari …..”

photo by @pipititadhitya

Saat ditanya mengapa membaca buku ini, Noviantika Widyayanti mengatakan bahwa pada awalanya ia tertarik dengan judulnya. Sepanjang pengalamannya memilih dan membaca  buku, judul ini (Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain) memberikan penawaran pengetahuan yang berguna apapun profesi kita,

Alumnus Jurusan Pariwisata sebuah Perguruan Tinggi Negeri ini, lebih lanjut, mengatakan bahwa  menyatakan sebuah gagasan hampir setiap orang mampu, namun membuat gagasan yang melekat membutuhkan pengetahuan dan praktik yang terus menerus.

novi2
“ Saya menyukai buku yang tulisannya lahir dari sebuah penelitian..” @noviantika_w

“ Disinilah kekuatan buku ini bagi kita,”katanya.

Buku ini muncul dari serangkaian penelitian bertahun-tahun oleh Chip Heath & Dan Heath. Mereka tertarik dengan berbagai gagasan yang beredar di masyarakat. Mereka mengumpulkan berbagai cerita rakyat, naskah pidato, naskah kampanye dll.

Penelitian mereka melibatkan banyak orang sebagai obyek yang digunakan mencari sebuah pengetahuan baru tentang hal apa yang membuat orang-orang tersebut mengingat sebuah gagasan. Usaha keras ini dilakukan  oleh Chip Heat & Dan Heat untuk mengetahui mengapa sebuah gagasan bisa melekat sedangkan gagasan yang lain tidak.

“ Saya menyukai buku yang tulisannya  lahir dari sebuah penelitian, karena umumnya menghasilkan pengetahuan yang bisa diaplikasikan,” kata Novi lagi. Perempuan yang juga penyanyi dangdut di Yogyakarta ini, berpendapat bahwa buku ini sangat dibutuhkan oleh banyak profesi, terlebih yang sering berinteraksi dengan orang banyak.

Lebih lanjut Novi berpendapat bahwa  buku ini mengingatkan kepada orang-orang yang terbiasa presentasi dengan menekankan pada sekumpulan data. Sekumpulan data  yang mereka sampaikan akan terasa sia-sia atau tidak optimal bila mereka tidak bisa menyampaikan sebuah gagasan yang  melekat kepada pembaca.

Trus , apa resepnya agar gagasan kita menjadi melekat?

Menurut Novi, salah satu resep dari buku ini yang ia sukai adalah  adalah “Kesederhanaan”. Sebuah gagasan yang sederhana mampu menyentuh sisi logika dan perasaan para pendengar, penonton ataupun pembaca. “Membuat gagasan yang sederhana tidaklah mudah, namun bila kita mampu membuat gagasan yang sederhana, maka akan memudahkan  kita dalam banyak hal”.

IMG-20171221-WA0016

Judul Buku          :

Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis                 :

Chip Heath & Dan Heath

Penerbit              :

PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman              :

ix + 417

 Lanjutkan membaca “Noviantika Widyayanti :”Membuat Gagasan Kita Melekat Lebih Penting Dari …..””

Ika Sari Rahmawati : Hanyut Dalam Kisah si Black Beauty

ika rev
@ikaaasr

Jika membaca sebuah novel tentang manusia kemudian tersentuh oleh cerita yang dibaca, itu sudah biasa. Namun, jika tokohnya adalah hewan, mungkin tidak semua pembaca novel bakal tersentuh  terkecuali seperti gadis berparas manis dari Kalimantan ini , Ika Sari Rahmawati.

 

Bagi Ika , panggilan akrabnya, buku yang telah ia baca berjudul Black Beauty mengisahkan pengalaman seekor kuda jantan  yang dinamai Black Beauty oleh pemiliknya. Pada awalnya , kehidupannya bahagia  bersama dengan ibunya di Farmer Grey. Hingga kemudian, mulailah kehidupannya yang menyedihkan . Beauty dijual.

“ Saat berdekatan  (Beauty) dengan ibunya, adalah hal yang membahagiakan. Namun kata “dijual” adalah kata yang membuat saya sedih.. Itu memisahkan mereka,” kata Ika .

Kisah Beauty berlanjut. Di tempat barunya, Bertwick Hall, Beauty beruntung bertemu dengan kuda-kuda lainnya yakni Merrylegs, Ginger, dan Sir Oliver.  Mereka berteman baik. Sayangnya, saat keluarga Gordon harus pindah, mereka harus menjual si Beauty ke pemilik Earlshall Park. Disana, Beauty harus bekerja keras  seperti memanggul beban  dll.

Dijual dan dijual lagi menjadi pengalaman Beauty berikutnya. Lama kelamaan, Beauty tidak sanggup menanggung beban kerja yang berat. Ia sakit. Hingga suatu saat, ia dijual ke Blomefields yang letaknya bertetanggaan dengan majikan awalnya yakni keluarga Gordon. Disinilah Beauty mendapat perawatan yang bagus dan mulai pulih.

Saat ditanya, apa kesan lanjut tentang kisah Beauty ini, Ika mengatakan bahwa walalupun tokoh yang diangkat adalah seekor kuda, namun penulis ingin mengangkat arti  warna-warni kehidupan. Suatu saat kita sedang bahagia, namun bisa saja kemudian berubah menjadi susah.. Suatu saat di atas, suatu saat di bawah.

Beauty memang tidak bisa menentang keinginan majikannya untuk dijual apalagi memilih majikan. Beauty hanya seekor kuda yang harus melakukan keinginan majikannya. Namun ternyata Beauty tetap memiliki keinginan kehidupan yang lebih baik. “Beauty punya  harapan,” kata Ika.

IMG-20171201-WA0024
“Beauty punya harapan…!”

Saat ditanya perihal  caption yang dia suka,  gadis yang memiliki akun IG @ikaaasr ini menunjukkannya:

The boy was proud of his charge, and undertook it in all seriousness. There was not a day when he did not pay me a visit, sometimes picking me out amongst the other horses, and giving me a bit of carrot, or something good, or sometimes standing by me whilst I ate my oats. He always came with kind words and caresses, and of course I grew very fond of him. He called me Old Conny, as I used to come to him in the field and follow him about. Sometimes he brought his grandfather, who always looked closely at my legs; (part 4 – chapter 48)

Mengapa?

“In this part Black Beauty really likes his master, Willy, because Willy taking a good care of him. And he tells us that a good master is the one who treat you in the best way,” jawabnya.

 

“Apa enaknya membaca buku novel yang berbahasa Inggris seperti buku ini?”

Ika menyahut,” Lebih terasa soul nya”.

Maklum, dia lulusan Sastra Inggris dari sebuah kampus di Yogyakarta memang aktif terus berbahasa Inggris termasuk di tempat kerjanya sekarang..

 

IMG20171205111950

Judul Buku : Black Beauty

Penulis : Ana Sewell

Penerbit : Penguin Group

Jumlah halaman 213

 

Asha Nuria Novitasari : “Kisah Janda Belia Nujood Tidak berakhir di sini…”

IMG-20171125-WA0016

Buku terbitan beberapa tahun lalu, bukan berarti tidak bisa memberi inspirasi di masa kini. Jelas bagi para pembaca buku sudah memahami bahwa isi dari sebuah buku yang dibaca adalah hal yang terpenting.

Isi buku tak hanya bisa menghantarkan kisah yang informatif  namun juga  bisa menggugah jiwa. “Walaupun terbitan lama, jika menginspirasi biasanya kubaca lagi,” kata Asha Nuria Novitasari sambil menunjukkan sebuah buku yang berjudul Saya Nujood, Usia 10 dan Janda yang ditulis oleh Nujood Ali dan Deplhine Minoui.

Menurut gadis kelahiran November ini, buku  tersebut mewakili minatnya tentang hal-hal perjuangan hak  perempuan. “Kisah Nujood adalah kisah nyata,” tuturnya. Kisah Nujood mengetuk banyak hati orang diseluruh dunia. Berasal dari sebuah desa di Yaman, kehidupannya sebagai seorang perempuan diatur oleh berbagai aturan sosial yang telah berlaku turun-temurun dan diberlakukan lebih ketat dibanding untuk kaum pria.

Pada awalnya, hidup Nujood berjalan seperti anak-anak yang lainnya, seperti menyukai permen,bermain dan  menonton Tom &Jerry. Dalam masa itu juga ia melihat kehidupan kedua kakak perempuannya  Jamila dan Mona, yang tidak jauh terpaut umur mereka namun sudah menikah. Kondisi kehidupan kedua kakak perempuannya tidaklah begitu baik. Hinga saat berikutnya, ayah Nujood telah memutuskan menerima lamaran seorang pria  untuk Nujood yang usianya terpaut tiga kali lipat dari usia Nujood.

“Saya kesulitan mendeskripsikan suasana hati Nujood saat itu tapi bisa merasakannya “ kata Asha.IMG-20171125-WA0013

Nujood adalah anak-anak biasa pada umumnya, tapi pada perjalanan selanjutnya, ia telah berpikir dan bertindak melebihi masa anak-anaknya, pergi ke pengadilan dan bercerai. “Seorang istri yang masih berusia 10 tahun (anak), datang ke pengadilan, meyakinkan hakim  dan mengajukan perceraian, rasanya adalah keinginan yang asli dan tanpa rekayasa,” tutur Asha lagi.

 

 

 

” Aku ingin bermain di luar, seperti anak-anak seusiaku, tapi dia memukuliku dan terus-menerus  memaksaku kembali ke kamar tidur bersamanya untuk…..”

Kata Nujood Ali (hal. 130) kepada seorang reporter

Meski Nujood telah menang di pengadilan, meyandang gelar baru yakni janda (belia) tapi kini  menjalani kehidupan yang lebih menggembirakan. Bagi Asha,kisah tentang Nujood tidaklah berhenti di sini. Justru seharusnya menggugah kita lebih peka, menengok dan membantu anak-anak lain yang kurang lebih bernasib sama dengan Nujood semasa pernikahan.

Saat ditanya, apa pesan dari buku ini ,Asha mengatakan bahwa sebenarnya Nujood adalah gambaran orang yang lemah baik dari fisik, sistem sosial politik daya tarik pribadi. Namun justru karena hal-hal itulah perlawanannya menjadi penggugah jiwa banyak orang untuk terlibat mendukungnya.  Nujood bukanlan sekedar obyek, namun subyek yang bersama-sama dengan orang lain memperjuangkan perbaikan lebih luas  bagi masalah yang mirip menimpa Nujood. Bukan saja kesadaran, namun tindakan.

 

IMG-20171125-WA0014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul                        : Saya Nujood, 10 Tahun dan Janda

Penulis                   : Nujood Ali dan Delphine Minoui

Halaman               : 236 halaman

Hak Cipta              : @Michel  Lafon Publishing 2009

Penerbit                : Pustaka Alvabet

Cetakan                 : ke 2 ( Desember 2010)