“Manifesto” Berbenah ala Gemar Rapi

Kurang lebih 2-3 tahun terakhir ini, tema tentang kerapian, kebersihan, dan penataan menjadi salah satu tema yang populer di kalangan penikmat buku. Termasuk blog ini juga pernah menghadirkan 2 jenis buku dengan tema serupa. Hanya kali ini, pada buku berjudul Gemar Rapi Metode Berbenahnya Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri.

Buku setebal 186 ini, terhitung runtut dalam menginformasikan tentang nilai-nilai Gemar Rapi. Sepertinya, buku ini malah tampak sebagai “manifesto” budaya kerapian  yang diyakini sesuai dengan budaya Indonesia. 

Buku ini ditulis bukan oleh satu orang, melainkan lima penulis.  Mereka menceritakan pengalaman-pengalamannya  hingga terpanggil menjadi pribadi yang gemar rapi. Bukan hal yang terjadi  tiba-tiba pada mereka. Proses demi proses mereka jalani  hingga menyadari bahwa gemar rapi bukan sekedar sebuah tujuan  agar ruangan tampak rapi, tapi mereka menemukan nilai-nilai  sebagai alasan mengapa harus rapi.

Untuk menuju ke arah gaya hidup yang rapi, perlulah dimulai dari perubahan mindset masing-masing pribadi. Tanpa perubahan ini, tujuan rapi ujung-ujungnya  hanyalah akan menjadi sebuah kegiatan bahkan tidak berdampak besar kepada diri sendiri dan lingkungan sosial.

Bibiana Pritarini, salah seorang pembaca buku ini memiliki pendapatnya sendiri. Baginya, kerapian itu lebih kepada tanggungjawab pribadi kita kepada diri sendiri dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa  tanggung jawab pribadi itu adalah buah dari mindset yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan .

Sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir ,gadis penyuka film drama ini bercerita bahwa jenis  barang yang paling ia rapikan adalah buku buku dan kertas serta pakaiannya. Kegiatan ini memberikan energi positif bagi dirinya. “ Jika sudah berbenah untuk rapi, saya merasa lebih nyaman dan terasa sehat. Karena saya lebih suka dirumah jadi lebih nyaman kalau bersih dan rapi,” katanya .

Bibi adalah salah satu contoh pribadi yang suka dengan kerapian. Namun, bisa ditelusuri berdasar apa yang tertulis di buku ini, maka apa yang ia lakukan masih belum berada di jalan yang lurus. Orang yang menyukai kerapian dan rutin berbenah  mungkin saja masih mengalami beberapa masalah seperti  penumpukan barang,

Disinilah salah satu kontribusi dari buku Gemar Rapi ini yakni memberikan peringatan-peringatan secara umum  bahwa berbenah tidaklah dilakukan begitu saja melainkan dibutuhkan  metode-metode berbenah  tertentu seperti yang ditawarkan oleh mereka kepada pembaca.   

Buku ini memang tidak menjabarkan semua secara detil metode-metode berbenah yang mereka usung. Ada baiknya pembaca juga mengikuti kegiatan-kegiatan Gemar Rapi secara langsung  atau bertanya perihal  berbenah ala gemar rapi kepada para penulis melalui medsos-medsos mereka.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, sehingga  apa yang ada pada buku ini akan mudah dimengerti.

Judul     : Gemar Rapi Metode  Berbenahnya Indonesia

Penulis : Khoirun Nikmah, Putriana Indah Lestari,Waniningastuti Mutmainnah,Aang Hudaya, dan    Achmad Bambang Sulistyono

Penerbit : Bentang

Cetakan Pertama, Agustus 2019

“ Kang Sarpin Minta Dikebiri” Lah……..?!

 Iya.

“Kang Sarpin  Minta Dikebiri” adalah salah satu judul pada buku kumpulan cerita pendek tulisan dari Ahmad Tohari. Kang Sarpin pada cerita ini adalah tokoh yang sedang  galau. Ia adalah orang yang bisa digolongkan sebagai cucuk senthe. Golongan ini merupakan lelaki  yang memiliki gairah berahi meledak ledak dan kesulitan mengontrol hasratnya. Kang Sarpin ingin bertobat seiring akan hadiran cucunya. Namun ternyata akhir cerita berujung lain.

Cerita tentang Kang Sarpin adalah salah satu cerita pendek dari buku terbitan Gramedia ini yang   berjudul Mata Yang Enak Dipandang. Judul ini ternyata adalah judul salah satu cerita pendek di buku ini  yang telah dicetak ke III ini pada  tahun 2019.  Buku setebal 216 halaman ini  menuturkan  kisah-kisah sosial lainnya semisal Warung Penajem, Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan, Rusmi Ingin Pulang dll. Masing-masing cerita pendek ini  memiliki keunikan tersendiri.  

Warung Penajem adalah salah satu contohnya.  Kartawi adalah seorang suami yang merasa bahagia karena ia mampu mewujudkan  keinginan Jum istrinya untuk memiliki warung. Semakin hari, semakin ramai warungnya. Hingga suatu saat, ia  mengetahui siapa yang “berandil” atas ramainya warung istrinya.  Apa yang tergambar pada cerita ini, salah satunya,  menunjukkan  suatu hal yang tampak indah mungkin saja mensyaratkan pengorbanan yang tidak semua orang  menyetujuinya.

Kekuatan cerita-cerita pendek Ahmad Tohari ini adalah tema-tema yang dekat dengan realitas sosial, fokus kepada sebuah tema, bahasa  yang mudah dimengerti, dan tidak terjebak pada upaya penghakiman secara tegas kepada para tokoh tokoh yang terlibat. Ahmad Tohari sepertinya sengaja memberi ruang bagi pembaca untuk menikmati cerita itu apa adanya.

Salah satu akibatnya bagi para penikmat buku yang akrab dengan hapy ending story yakni saat mencapai halaman terakhir sebuah cerita pendek ini, akan muncul rasa menggantung berwujud pertanyaan ataupun respon  yang memiliki usulan bahwa sebaiknya ceritanya tersebut harusnya memilikin ending yang lain.  Namun bagi mereka yang kokoh sebagai penikmat murni  sebuah cerita, kisah-kisah pada buku ini akan dinikmati apa adanya.

Membaca cerita pendek tentu saja berbeda dengan membaca satu buku yang membawa sebuah tema yang lebih besar dan alur yang lebih komplek.  Namun tetap saja , cerita pendek yang  dituliskan Ahmad Tohari ini tidak terkurangi  daya tariknya dibanding buku-bukunya  lainnya seperti  Bekisar Merah, Orang-Orang Proyek dll.

Judul Buku          :Mata Yang Enak Dipandang

Penulis                 : Ahmad Tohari

Editor                    : Anastasia Mustika W

Sampul                 : Sukutangan

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan               :  Ketiga ( Januari 2019)

Sedang Tidak Membaca Buku, ..tapi DL (2)

Menyimak lebih lanjut, Djaka Lodang (DL) memiliki keunikan pada salah satu rubriknya yakni Jagading Lelembut. Rubrik ini diisi oleh pengalaman seseorang yang bersifat mistis. Lingkup waktu kisah  yang tertulis disitu bisa waktu yang cukup lampau, ataupun  belum lama. Namun  hal itu tidak mempengaruhi  daya tarik kisah yang diangkat  

Editor DL sepertinya memang telah mengenal karakter pembaca DL . Ia juga mumpuni mengolah kiriman penulis yang kemungkinan besar adalah penggemar DL menjadi tulisan yang memilki daya tarik bagi pembaca agar sampai ke kalimat terakhir.  Ditambah lagi, ilustrasi yang berwarna hitam putih seperti goresan-goresan pensil gambar semakin menguatkan kesan mistis  pada  kisah  yang diangkat.Kombinasi antara cerita yang diangkat dan ilustrasi khas DL menjadikan rubrik ini sepertinya favorit bagi pembaca DL.

Kekuatan lainnya pada rubrik ini dalam memancing pembaca adalah pemilihan judulnya. Seperti pada terbitan terbaru yakni 11 April 2020 yang berjudul Jagading Lelembut Ingon-ingone Bapak. Judul ini memiliki arti kira-kira terjemahan bebasnya adalah piaran milik bapak. Dalam bahasa jawa, kata ingon-ingone  terasa lebih  memiliki penekanan kuat  dibanding saat  diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Bagi pembaca DL, judul ini sudah menghantarkan sebuah gambaran umum tentang cerita tersebut.Secara umum, kisah ini menceritakan tentang  kunjungan sebuah keluarga ke orang tua mereka. Sesampai disana, salah satu anak  dan sang ayah melihat sosok mengerikan . Ternyata itu adalah sosok piarannya sang kakek. Nah, daya  tarik setelah membaca judul yakni keingintahuan pembaca untuk tahu isi yang lebih detil. Ini hanya bisa diketahui setelah rubrik ini ini selesai dibaca.

Salah satu cara melihat apakah rubrik Jagading Lelembut ini merupakan salah satu produk unggulan DL adalah dengan melihat sampul pada majalah ini.  Judul rubrik Jagading Lelembut  yang tayang pada edisi yang terbit dituliskan pada sampul secara jelas namun menggunakan desain huruf yang tampaknya mendukung suasana cerita-cerita mistis.  Kepentingan menuliskan judul tersebut jelas sudah diperhitungkan DL bahwa rubrik ini memiliki basis penggemar dan harapannya bisa memikat penggemar baru saat  melihat majalah ini.

Menggunakan bahasa jawa untuk menikmati kisah horor, jelas sesuatu yang para pengguna bahasa jawa belum semuanya bisa menikmati. Perlu membiasakan diri hingga mereka akan menemukan sensasi . Bahasa jawa yang mereka gunakan sebagai bahasa lisan, akhirnya bisa digunakan untuk menikmati sastra tertulis seperti yang tertuang dalam DL. Ingin merasakan cerita horor dalam bahasa jawa? DL sudah menyediakan bagi pembaca.

Sedang tidak membaca buku, namun DL.. (1)

Salah satu cara mengisi waktu saat Stay at home adalah membaca buku. Kegiatan membaca buku mungkin sudah menjadi kebiasaan rutin banyak orang. Bila terasa jenuh, ada baiknya  kita meletakkan buku dan berpindah ke referensi lainnya seperti majalah. Bacaan jenis ini memiliki karakteristik  sendiri- sendiri. Salah satunya seperti yang ada di gambar di atas.

Djaka Lodang. Ini adalah nama majalah ini.  Djaka Lodang (DL) adalah mingguan yang memakai bahasa jawa dan telah terbit sejak  lama. Tidak tampak informasi mengenai kapan DL terbit pertama kali namun jika menyimak nomor  anggota SPS No. 66/1971/14/B/2002 dan SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) disitu tertera tanggal  22 Maret 1986 tentunya ini memberikan informasi bawa majalah ini  telah memiliki penggemar setianya sehingga masih eksis hingga waktu kini.

Jika ditinjau lebih jauh tentang isi majalah ini, memang unik.  Pada halaman “ Racikan” atau daftar isi, kita akan mendapati sejumlah informasi  artikel yang tayang di halaman selanjutnya  seperti Wawasan Jroning Negara (tentang isu-isu politik kenegaraan), Gagasan (semacam opini),  Tetepungan ( menampilkan dan membahas seorang figur) , Crita Rakyat (cerita rakyat),Crita Cekak (cerita pendek), Wacan Bocah ( bacaan untuk anak) dll.  Mengamati beragamnya artikel yang tersaji, DL sepertinya menyasar segmen keluarga yang masih menggunakan dan menikmati bacaan berbahasa jawa.  

Sebagai majalah berbahasa jawa, salah satu cara merawat  hubungan dengan para pembacanya, DL menerima kiriman tulisan  dan foto dari mereka. Foto dan tulisan yang tayang adalah yang sudah lolos diseleksi redaksi DL.  Jika disimak,tulisan-tulisan dari pembaca ini ada yang memang terasa serius namun ada pula yang  santai.Salah satu rubrik yang tampak santai yakni  Pengalamanku. Tulisan kiriman dari pembaca ini  menceritakan kisah-kisah mereka yang umumnya cukup menggelitik.

Isu-isu yang menjadi perbincangan nasional dan internasional juga  ada dalam  setiap edisinya. Misalnya hal  perpolitikan nasional Malaysia di kisaran awal tahun 2020 juga dipaparkan DL. Jika kita selama ini membaca bacaan bertema politik di dalam bahasa Indonesia, kiranya kita akan merasa sensasi baru saat membaca  ulasan DL. Bahasa jawa yang seringnya tedengar dalam percakapan lisan sehari-hari bagi pemakainya, oleh DL bisa menjadi alat ulasan yang menarik.

Siapapun yang pernah atau sedang merindukan suasana berbahasa jawa, ada baiknya menjadikan  DL sebagai referensi bagus . Jika memang kesulitan membaca versi cetaknya, silakan saja cek di web DL yakni http://www.djakalodang.co.id.

Antara Hesta, US dan Liburan

@vannessamudraaa_

Siapa yang tidak suka liburan?

Umumnya, kita akan mengatakan suka. Bukan hanya suka, melainkan butuh.  Kita membutuhkan liburan untuk mencari penyegaran jiwa, keluar sebentar dari rutinitas, ataupun mencari inspirasi baru yang tidak terkait pekerjaan utama.

Demikian juga dengan keinginan perempuan manis satu ini. Ia adalah Hesta Eka Yulita. Perempuan yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta ini memiliki komentar tersendiri. Ia menyukai liburan disaat hari liburnya.

“Inginnya setelah liburan, jadi fresh. Trus esoknya sudah siap untuk bekerja lagi,” katanya.  Memang begitu idealnya. Liburan membawa energi positif bagi kita. Namun, bagaimana jika liburan itu ternyata direncanakan berujung pada sesuatu yang tidak membahagiakan seperti perceraian?

——–

 “ Kurasa sudah saatnya pernikahan kita berakhir,”ujarnya, “aku ingin berpisah.”

(halaman 24)

Douglas Timoty Petersen tidak menyangka jika suatu ketika istrinya,Connie memintanya untuk berpisah.  Hal ini rencana dilakukannya setelah anak mereka, Albie, melanjutkan pendidikannya untuk kuliah.  Namun sebelum rencana itu terjadi, mereka akan berlibur bersama.

 “ Kita harus membatalkan perjalanan akbar kita,”

(halaman 28)

Inilah ungkapan kegalauan Douglas  yang  bisa kita simak dari buku yang berjudul US.  Ia tak bisa menerima begitu saja apa yang menjadi keinginan Connie, dan titik akhir keluarga yang selama ini ia jaga, perpisahan. Kegalauan Douglas mudah teridentifikasi dalam  seluruh cerita.  Ia tidak menikmati perjalanan akbar tersebut.   Bahkan saat ia bertemu dengan seorang perempuan yang bersimpati dengannya, Douglas lebih memilih untuk meneruskan perjalanan.  Rangkaian perjalanan yang membuatnya berjumpa dengan pengalaman-pengalaman baru seperti mengunjungi destinasi wisata, saling berpisah  diantara mereka, pencarian Albie dll.

David Nicholls, sang penulis, kiranya berhasil melarutkan pembaca untuk terus  mengikuti alur cerita ini. Disamping tetap fokus kepada kisah Douglas dan keluarganya saat   bepergian ke berbagai negara, Nicholls mampu mengulik keindahan lokasi-lokasi yang dikunjungi . Seperti Paris, pembaca diajak bertemu dengan  Botticelli, Ucello dll. Di halaman berikutnya bisa kita jumpai sentuhan-sentuhan kecil  tentang Venesia misal tentang  The Legend of Saint Ursula dll.

Selain sisi cerita,buku terbitan Esensi (Erlangga Group)ini bukanlah buku cerita yang susah dimengerti. Walau buku ini setebal 478 halaman, namun karena kualitas terjemahannya yang baik kiranya pembaca akan tetap bisa membaca mengalir ke halaman-halaman berikutnya hingga selesai.

====

Saat ditanya komentarnya  tentang  buku ini  yang bercerita tentang liburan   sebuah keluarga yang direncanakan untuk berpisah di akhirnya, Hesta tidak menjawab tegas perasaannya.  Ia lebih tertarik mengaitkan dengan kehidupan yang nyata.  Baginya, pasti ada masalah yang sudah susah diatasi jika ada satu pihak yang meminta berpisah.

Tidaklah salah apa yang Hesta sampaikan ini. Persis dengan apa yang tersaji pada buku ini. Walau ini hanyalah sebuah  cerita karangan penulis, setidaknya buku ini mengajak pembacanya untuk mengalihkan perhatian sejenak dan berpikir seandainya mereka berada pada situasi Douglas, Connie, dan Albie.

Buku ini memang cocok untuk mereka yang belum atau telah berkeluarga.

Judul Buku  : US

Penulis : David Nicholls

Penerbit : esensi (Erlangga Group)

Saat si introver bercerita tentang mereka

Anda pemalu?

Sering merasa kurang nyaman berada di kerumunan orang?

Tidak suka berbasa- basi ?

Ini adalah sebagian ciri-ciri dari introver. Mereka bisa ditemukan dimana saja baik sekolah, tempat kerja , atau ruang sosial lainnya.  Interaksi  di ruang-ruang sosial tersebut terkadang sikap-sikap orang introver susah dipahami oleh pribadi ekstrover, atau  malah oleh pribadi introver yang berpikir dan bertindak seperti ekstrover. Ujung-ujungnya, kondisi semacam ini bisa menurunkan kualitas hidup pribadi introver.

Sangat disayangkan bila hal tersebut terjadi terus menerus. Padahal setiap orang introver juga memiliki kemampuan yang  bisa dikembangkan dan dibagikan kepada berbagai pihak.  Sudah banyak contoh pribadi-pribadi introver yang dianggap sukses  seperti  Warren Buffet  (investor ), Albert Einstein (ilmuwan) dll. Apa yang telah mereka lakukan membuktikan bahwa pribadi introver bisa berkarya dan dikagumi banyak orang.

Mudah untuk meyakini bahwa pribadi-pribadi introver yang dianggap sukses tersebut tidak melalui jalan hidup yang mulus. Mereka pastinya melalui perjuangan menghadapi syak prasangka orang lain. Hanya keteguhan hati mereka untuk terus maju telah membuatkan bukti bahwa  siapapun bisa meraih sukses.

Sylvia Loehken, si penulis buku ini, adalah seorang introver. Ia mengalami bagaimana susah senangnya menjadi pribadi introver. Berdasar pengalamannya dalam buku ini ia merekomendasikan bahwa orang-orang introver harus memahami dirinya sendiri . Mereka harus bisa mengidentifikasi tentang kekuatan dan hambatan mereka sendiri.  Saat mereka memahami hal itu, mereka berada di jalur yang tepat.

Pada tahap upaya memahami diri inilah posisi Sylvia Loehken bermaksud membantu mereka yang merasa introver. Pada bab-bab yang ada pada buku ini, ia memberikan sejumlah nasehat penting.  Ia memperingatkan pentingnya orang-orang introver memahami kekuatannya dan tidak terjebak ke dalam hambatan-hambatan yang mereka ciptakan sendiri.

Tulisan Sylvia Loehken cukup runtut.Setelah ia memberikan pengantar yang mencerahkan tentang  maksud pribadi pendiam, ia melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan pengukur. Harapannya, pembaca akan terlibat untuk mengukur kecenderungan  dirinya berada di area introver, ekstrover atau tengah-tengah. Jelas, salah satu tujuan buku ini ditulis yakni bukan saja untuk pribadi introver tapi siapa saja.  

Selanjutnya,  penulis memberikan rekomendasi serangkaian skenario apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan diri dalam banyak situasi baik di ruang kerja, sosial, atau pribadi.Skenario yang ia tawarkan melalui tulisannya terkesan cukup taktis dan memudahkan pribadi introver memiliki strategi saat ia menemukan masalah, bekerja sama dengan orang lain, dan bagaimana mereka mengumpulkan energinya  kembali.  Hal ini sangat penting, karena pada bentuk-bentuk relasi sosial  tersebut pribadi-pribadi introver mendapatkan tantangan, apakah ia akan berada pada kualitas introver yang bagus atau tidak.

Kebahagiaan diri. Ini yang sebenarnya tujuan akhir buku ini. Jika pribadi introver mampu mengenali dirinya, maka kemungkinan besar ia akan paham bagaimana ia merasa bahagia. Demikian pula, buku ini juga baik bagi pribadi ekstrover. Mereka akan tambah memahami rekan kerja, teman-teman, dan pasangan yang termasuk pribadi ekstrover.  2 pribadi ini bisa saling bekerja sama selama mereka saling memahami dan tahu bagaimana berinteraksi.

Secara umum, tips-tips yang tertulis disini, cukup mudah dipahami dan bagai kita sedang mengikuti pelatihan pengembangan diri. Buku ini jelas berasal dari buku berbahasa Inggris. Beruntungnya, kualitas terjemahan yang bagus pada buku ini kiranya sangat membantu pembaca memahami pesan penulis.  

https://resensibukupilihan.com/2019/08/25/membaca-buku-berbahasa-asing-pemula/

Judul Buku          : Quiet Impact

                                 Tak Masalah Jadi Orang Introver

Penulis                 : Sylvia Loehken

Alih Bahasa         : Alex Tri Kantjono Widodo

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan               : Ketiga , November 2019

Stella Corine Haryadi : “..sisi humanisnya tetap melekat”

Membaca buku karya Andrea Hirata kemungkinan mudah  membuat pembaca hanyut. Bukan sekedar masuk kepada kisahnya, namun juga bisa membawa pembacanya kepada kenyataan kisah hidupnya.  Demikian pula dengan Stella Corine Haryadi yang jadi gelisah saat membaca di bab-bab awal, Perempuan berambut sebahu ini teringat pada rumahnya dan  khususnya ayahnya. ” Buku ini membawa saya bernostalgia ke kisah hidup saya sendiri,” kata Stella, panggilan akrabnya.

Padang Bulan,judul novel ini ,adalah novel pertama dari dwilogi Padang Bulan. Novel ini unik. Ikal, Enong, detektif M Nur adalah tokoh-tokoh yang membuat alur cerita yang menyedihkan, dan membuat tertawa. Kisah-kisah yang ditulis pada novel ini ringan namun sisi humanisnya tetap melekat. Misal, obsesi Enong pada kamus dan belajar bahasa Inggris, obsesi Ikal untuk menambah tinggi badan, atau si detektif M Nur yang tidak bisa jauh dari ibunya sewaktu bermaksud ke Jawa.  

Tidak setiap pembacanya memiliki kisah hidup yang dekat dengan kisah yang Andrea Hirata tulis pada novel ini. Juga, tidak semua pembaca mengerti kondisi Belitong. Namun Andrea Hirata memang terampil membuat tulisan yang mudah dimengerti pembaca seperti saat ia menerangkan suasana sebuah tempat, ataupun suasana hati tokoh-tokohnya. “Alurnya di bab-bab awal maju mundur, namun karena penulisannya bagus, saya tetap bisa mengikuti,” katanya lagi.  

Salah satu pengalaman saat membaca buku ini adalah tidak membosankan. Malah ingin segera menyelesaikannya. Menurut Stella, setiap bab pada novel ini memberikan keunikannya sendiri-sendiri. Diperkuat dengan kehadiran tokoh-tokoh lainnya seperti Zinar,”Jose Rizal”, Aling dll, kisah ini tetap fokus pada kisah Ikal sebagai tokoh utama,dan tokoh-tokoh penyegar nan penting yakni detektif M Nur dan Enong.    Saat kisah-kisah di novel ini terkesan sederhana, namun jika disimak lebih lanjut terdapat nilai kehidupan yang tinggi. “Tidak rugi baca buku ini,” kata Stella.

Judul : Padang Bulan , Novel pertama dari dwilogi Padang Bulan

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang


Ingin membangun sebuah lembaga PAUD? Simak informasi dari praktisi ini.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah salah satu jenjang yang cukup populer di waktu ini. Jenjang sebelum Sekolah Dasar ini menjamur di berbagai belahan daerah di Indonesia. Dengan berbagai kekhasan masing-masing, perkembangan PAUD menarik minat banyak orang tua untuk memasukkan buah hati mereka ke lembaga ini.

Kemunculan minat tentang PAUD bukan saja datang dari orang tua. Dari orang-orang yang memandangnya sebagai sebuah peluang bisnis muncul  juga banyak.  Mereka membangun PAUD  sebagai bisnis yang berdasar dari kebutuhan pendidikan. Dunia kampus dan pemerintah juga merespon perkembangan PAUD dengan kontribusi masing-masing.

Bagi yang ingin mendirikan PAUD, perlu menyadari bahwa mengelola PAUD bukan saja bersandar kepada kecintaan pada pendidikan anak usia dini. Hal ini  harus diikuti  manajemen yang tertata baik dan fleksibel.  Sebab bila tidak, akan muncul  ragam masalah yang membelit.  Untuk mengurangi resiko tersebut,  ada baiknya mengumpulkan pendapat dari para praktisi yang  bergerak  dalam perkembangan dunia PAUD.

Buku ini  berjudul Bijak Mengelola PAUD.  Jika disimak lebih lanjut,  penulis buku ini yakni Heriyanto S.Pd.,M.Si memaparkan tentang manajemen pengembangan disertai dengan kasus-kasus dan penanganannya. Pemaparan  lugas dan tidak berbelit-belit,mempermudah pembaca memahami  buku ini. Bahkan, pembaca yang baru mengenal PAUD ataupun para pemerhati dan praktisi dunia PAUD sepertinya tidak akan  menemui kesulitan pemahaman yang berarti.

Penulis sebagai seorang praktisi telah berpengalaman mengelola lembaga PAUD. Pengalamannya ia bagi dalam 5 bab yakni Pelayanan Prima, Sumber Daya Manuasi Prima, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Prima, Sarana dan Prasarana Prima, dan Lulusan Prima.  Hadirnya 5 hal ini setidaknya memberikan informasi penting bagaimana  sebuah PAUD  bisa berkembang.  Melihat pentingnya informasi yang ada, bukan hal yang tidak mungkin jika setelah membaca buku ini, para pembaca yang baru tentang PAUD akan termotivasi aktif dalam dunia pendidikan PAUD dan  pengembangannya.

Buku yang  diterbitkan oleh ESENSI (divisi dari penerbit Erlangga) ini tidaklah tebal secara fisik, namun berbobot secara  isi karena penulisnya adalah praktisi pendidikan dan manajemen PAUD yang telah mendapatkan beberapa penghargaan. (*)

Menilik Suasana Orde Baru Melalui Novel Karya Ahmad Tohari

Pada blog ini, 2 karya Ahmad Tohari yakni  Bekisar Merah dan Orang Orang Proyek telah diulas. Pada Bekisar Merah, cerita tentang Lasi yang bermula istri seorang penderes tidak diduga masuk ke kehidupan para “orang kuat” di negeri ini. Sedang pada Orang Orang Proyek, cerita Kabul yang mantan aktifis kampus harus memilih mundur dari pos basah demi idealisme yang ia miliki. Dari kedua buku ini, sama-sama memiliki keterikatan kuat kepada masalah sosial politik.

https://resensibukupilihan.com/2019/08/27/yedisihna-claire-memperjuangkan-kejujuran-hati/

https://resensibukupilihan.com/2019/03/14/erta-ardheana-janda-cantik-yang-terseret-ke-lingkaran-kekuasaan/

Saat membaca karya Ahmad Tohari ini, mudah diketahui bahwa suasana orde baru menjadi latar belakang cerita . Saat orde baru diteropong , didapati sebuah titik berupa kasus-kasus sosial politik. Mungkin, titik ini tidak bisa menggambarkan keseluruhan orde baru namun dari titik ini bisa dimulai memahami sebuah situasi sosial politik masyarakat di suatu masa itu.

Membaca buku-buku berlatar belakang sejarah ini memang unik. Sebenarnya kita hanya terfokus kepada beberapa tokoh dan kasus-kasusnya, namun seolah-olah kasus-kasus itu bisa kita tangkap memiliki keterikatan dengan hal-hal lainnya yang secara samar membelitnya. Sebagai contoh, cerita Lasi yang menjadi rebutan Handarbeni dan Bambung.  2 tokoh terakhir diceritakan adalah orang-orang yang memiliki pengaruh di tingkat pusat.  Tarik ulur terhadap  “kepemilikan” Lasi adalah gambaran bargaining power  antara Handarbeni dan Bambung baik sebagai “orang kuat” dan “lelaki ingin tampak kuat”. Hubungan Handarbeni dan Bambung menampakkan bagaimana status dan kedudukan berdasar atas kolusi.

Sedang pada Orang-Orang Proyek, rasa frustasi Kabul terhadap “setoran-setoran” kepada orang partai yang berpengaruh kepada kualitas garapan proyeknya, tergambar jelas aroma politiknya. Kabul menjadi representasi umum siapa saja yang merasa berat hidupnya  sebagai seseorang yang memiliki idealisme.Rasa idealisme harus berbenturan dengan hal-hal yang sangat dekat dengan kebutuhan manusia sendiri seperti kenyamanan, kesejahteraan  bahkan sikap acuh dll.

Bagi penyuka hal-hal sosial politik, buku-buku Ahmad Tohari jelas bisa menghadirkan sebuah kisah yang membumi. Pembaca tidak harus disuguhi rangkaian data sejarah yang detil ataupun kisah yang heroik. Namun, cukup sebuah kisah dengan kalimat-kalimat sederhana yang bisa membuat pembaca yang pernah merasakan suasana orde baru untuk bernostalgia, sedang untuk pembaca yang hidup dimasa setelahnya juga dapat menilik balik sebuah suasana di masa orde baru.

Buku Buku “Unik” di Kampung Buku Jogja #5

Bagi para pecinta buku khususnya di Yogyakarta, mungkin sudah berkunjung ke pameran ini yakni Kampung Buku Jogja #5. Bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi  Hardjasoemantri  (PKKH) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pameran ini digelar dari tanggal 1 – 5 September 2019. Tidak susah untuk mencari lokasi ini. PKKH berada di sisi selatan Grha Sabha Pramana.

Di suatu lorongnya, pengunjung sudah diperlihatkan media cetak semacam koran atau buletin dimasa lalu. Ejaan-ejaan lama terpampang jelas pada koran atau buletin tersebut berbahasa Indonesia, Inggris dan  mungkin Belanda. Tidak begitu  susah untuk memahaminya khususnya berbahasa Indonesia.  Hal yang mungkin membuat “merinding” adalah isinya. Pengunjung seperti disuguhkan dengan sebuah sejarah bahwa media tersebut pernah ada dan menjadi bagian sejarah masa lalu bangsa kita. Bagi pengunjung yang tertarik dengan media-media lama tersebut, mungkin akan berhenti dan memperhatikan dengan lebih seksama. Bagi resensibukupilihan.com , ini salah satu spot menarik di pameran  ini.

Masuk ke dalam, berjajar “lapak” yang dipenuhi buku-buku “ unik”. Mengapa unik?  Buku-buku itu umumnya buku-buku lawas.  Namun bagi para pembaca buku khususnya peminat sejarah dan sosial politik, buku-buku itu pastilah menarik.  Secara fisik memang lawas, namun secara ide belum tentu ketinggalan zaman dan masih bisa dinikmati saat ini melalui perbincangan ringan ataupun diskusi formal.

Saat resensibukupilihan.com berkunjung, saat itu sedang ada diskusi. Walau tidak mengikuti dari awal, resensibukupilihan.com  menangkap isi diskusi itu kira-kira bertema tentang pers.  Suasana diskusi terkesan interaktif saat pemateri dan peserta diskusi terlibat aktif berkomentar.  Ini menandakan diskusi tersebut memiliki daya tarik  dan hidup.

Jika disimak dari jadwal acaranya, Kampung Buku Jogja #5 memang bukan sekedar pameran buku. Terdapat serangkaian acara yang sudah tersusun seperti mimbar bebas puisi, pertunjukan lagu dll. Ini seperti sengaja memberikan kesenangan bukan saja pada penggemar buku, namun kepada peminat-peminat diskusi dan seni. Lengkap dan menarik.

Harapannya, kegiatan serupa bisa diadakan lagi dan lebih menarik karena peminat buku di Yogyakarta ini sudah terkenal antusiasnya .. Semoga.