Diposkan pada manajemen, Tak Berkategori

Ini 3 buku bagus untuk para marketing, dosen/praktisi komunikasi, politisi , aktifis sosial/politik , content writter dll



Judul : Contagious Rahasia di Balik Produk dan Gagasan Yang Populer
Penulis : Jonah Berge
Penerbit: PT Gramedia Pustaka

Anda ingin program, produk atau kampanye milik anda menjadi “getok tular”? Ini salah satu buku yang pas untuk menjadi referensi unggulan.

Jonah Berger mengetengahkan bahwa proses getok tular bisa disimak dari perbincangan kita dengan teman-teman di kantor, ataupun bersama keluarga di  rumah. Perhatiakan apa ada hal yang membuat anda tertarik dan ingin bercerita dengan lainnnya.

Penulis ini telah meneliti dan  menemukan adanya prinsip bagaimana sesuatu menjadi getok tular. 3 dari 6 hal yang ia sampaikan yakni: mata uang sosial, pemicu dan emosi.

2


Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Judul : Made to Stick  Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain

Penulis: Chip Heath & Dan Heat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Kita setiap saat bisa mendapat gagasan atau ide. Gagasan itu kita olah dan dijadikan konsep yang matang baik untuk program sosial/ bisnis , kampanye , edukasi dll. Setelahnya kita presentasikan kepada orang lain. Namun kadang kala sambutan mereka terasa hambar ataupun minim respon.

Chip Heath& Dan Heath  , melalui serangkain eksperimennya menemukan bahwa gagasan yang bagus kadang kalah oleh gagasan yang buruk. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa hal ini terjadi?

Para penulis ini menemukan bahwa gagasan bisa melekat kepada orang lain. Penyampaian gagasan tidak harus disertai data yang detil. Namun penyampaian gagasan tersebut harus bisa terasa sederhana dalam logika dan perasaan orang yang kita tuju.

3.


Judul : The Tipping Point How Little Things Can Make a Big Difference
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Malcolm Gladwell, dalam buku ini mencermati apa yang terjadi denganHush Puupies. Sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dan karet mentah buatan Amerika Serikat ini tiba-tiba digandrungi banyak orang . Produsennya pun kaget dengan fenomena ini.  Bagi Gladwell kondisi ini sebagai bentuk epidemi sosial.  Berdasar banyak penelitian , Gladwell menemukan bahwa  epidemi sosial  memiliki keterikatan dengan 3 kaidah berikut yakni Hukum tentang yang sedikit, Faktor Kelekatan, dan Kekuatan Konteks

Dengan kaidah ini, para pembaca  yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, penelitian sosial, dan bisnis akan mudah memahami mengapa sebuah produk,program sosial bisa disambut atau bahkan, ditolak oleh masyakarat atau konsumen.

Iklan
Diposkan pada Tak Berkategori

RR Pratiwi Silawati :” ..kalangan atas yang mau berbaur dengan kalangan orang bawah..,”

@rrpratiwisilawati

Buku ini terasa berbeda dari yang pernah ia baca. Bahkan bisa dibilang, ini termasuk buku lawas namun sudah beberapa kali dicetak ulang. Tidak ada romansa percintaan ataupun petengkaran dua insan.  Ternyata, buku yang berjudul Totto-chan’s Children. A goodwill Journey to the Children of the World ini malah menampilkan catatan perjalanan penulisnya di tahun 1984-1997 ke berbagai negara yang dilanda krisis kemanusiaan seperti kelaparan, kemiskinan dan gizi buruk. “ Membaca buku ini membuatku sedih,” kata RR Pratiwi Silawati yang sering dipanggil Tiwi.

Penulis buku ini,  Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris terkenal Jepang  di masa itu, yang mendapat kepercayaan UNICEF untuk mengemban salah satu misi lembaga dunia tersebut. Ia berkeliling ke banyak negara seperti Angola, Vietnam, Bangladesh, Tanzania dll. Negara-negara yang ia kunjungi umumnya memiliki masalah kemanusiaan.

Di negara-negara itu, Tetsuko Kuroyanagi berjumpa dengan banyak anak. Ia terjun langsung bersua dengan mereka. Tetsuko menemukan kondisi anak-anak  tersebut sebagai pihak yang sungguh menderita. Jangankan menatap masa depan, untuk memikirkan hari esok saja terasa berat.” Foto-foto di buku ini  menujukkan kesedihan itu,” kata Tiwi.

Benar apa yang disampaikan Tiwi. Foto-foto di dalam buku ini benar-benar menyentuh. Kesengsaraan itu begitu terasa mulai dari anak yang kehilangan tangannya akibat dipotong tentara gerilya, anak kecil yang mengasuh anak yang lebih kecil, hingga serombongan anak yang minum air sungai karena ketiadaan lagi air besih.

photo by rrpratiwisilawati

Tetsuko Kuroyanagi menuliskan pengalamannya berkeliling dunia bertemu dengan banyak anak di dunia ini, tentunya punya maksud. Ia menggugah nurani siapapun atas kejadian yang mungkin tidak terjadi di sekeliling kita namun membutuhkan kepedulian orang lain. Ia telah membuktikannya. Ia berasal dari kalangan atas yang mau berbaur dengan orang kalangan bawah yang menderita

“ Saya cek di internet, beberapa negara yang disebut di buku ini sudah mulai mengalami perbaikan.Saya bersyukur, “ ungkap Tiwi.  Setelah membaca buku ini, ia berharap bila mengetahui kondisi seperti di buku itu, ia harus bisa berbuat sesuatu walaupun kecil dibanding ia hanya mengucap kata ikut prihatin semata.

Judul Buku :
Totto-chan’s Children. A goodwill Journey to the Children of the World . Penulis : Tetsuko Kuroyanagi Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Diposkan pada pameran buku, tokoh

Selamat ! UGM Press Raih Anugerah Buku ASEAN 2019

Torehan prestasi emas diraih oleh UGM Press. Kali ini , UGM Press menerima trofi penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2019 dalam kategori University/Research Institute,  bertepatan dengan Pesta Buku Antarbangsa Kuala Lumpur yang diadakan di PWTC Kuala Lumpur, Senin (1/4). Lembaga penerbitan ini dianggap produktif menerbitkan buku-buku akademik.

Trofi Anugerah Buku ASEAN 2019 untuk UGM Press langsung diterima oleh Kepala Badan Penerbit dan Publikasi UGM, Widodo, S.P., M.Sc., Ph.D., dan diserahkan oleh Ketua Komite Penyelenggara, Haji Hasan Hamzah.

Menurut Widoso, upaya UGM Press untuk menjadi penerbit yang produktif menerbitkan buku-buku akademik yang berkualitas telah berhasil mendapat apresiasi dari dunia luar. Anugerah Buku ASEAN 2019 yang diterima oleh UGM Press ini merupakan langkah yang sangat strategis. Bahkan hal itu merupakan loncatan cerdas sebuah penerbit universitas dalam rangka membuka cakrawala penerbitan internasional.

Manajer UGM Press, Dr. I Wayan Mustika, mengapresiasi Anugerah Buku ASEAN 2019. Menurutnya, penghargaan ini sangat mendorong UGM Press sebagai academic publisher untuk dapat menghasilkan buku karya yang berkualitas dan menjadi referensi, baik untuk skala nasional maupun internasional. (sumber : rilis UGM Press)

Diposkan pada Tak Berkategori

Tribun Jogja Ulang Tahun ke-8, Selamat!


Hari ini, sebuah koran yang ada di Yogyakarta, Tribun Jogja merayakan ulang tahun nya yang ke-8.  Sejak pagi hari tampak kesibukan di kantor mereka yang berada di jalan Sudirman . Silih berganti, relasi media informasi yang lahir pada tanggal 11 April 2011 ini berdatangan dan mengucapkan selamat.  Pada awalnya, media informasi ini hanyalah koran saja. Namun di tahun selanjutnya, manajemen mulai serius menggarap konten online mereka yakni www.tribunjogja.com.  Disusul dengan penggarapan media sosial mereka.

Ada 1 hal yang menarik  dari ulang tahun koran semacam ini. Koran yang pada umumnya  diprediksi semakin  ditinggal pembaca karena beralih ke  online  ternyata masih eksis.  Ini sepertinya menujukkan bahwa segmen pembaca koran masih ada walau dengan berbagai alasan masing-masing.


Salah satu alasannya, menurut resensibukupilihan.com, yakni koran menampilkan berbagai rubrik yang disukai pembaca dan tidak atau belum bisa digantikan oleh media online, seperti cerpen,cerbung, puisi, citizen journalism dll.  Pembaca bisa mengirimkan karyanya. Namun, biasanya, hanya yang telah terseleksi oleh redaksi yang akan muncul di koran. Ini tentu saja bisa bermakna bahwa yang berkualitas baguslah yang menjadi sajian bagi pembaca koran itu.

Tentu saja masih bisa diketemukan alasan-alasan lain mengapa koran masih eksis.  Apapun itu, selama  koran bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat, pastilah keberadaannya dinanti oleh masyarakat pula.

Diposkan pada pameran buku

UGM Press Ikuti Pesta Buku Bandung 2019

foto: UGM Press

Dilansir dari http://ugmpress.ugm.ac.id , UGM Press akan ikuti Pesta Buku Bandung mulai tanggal 4-10 April 2019 bertempat di Gedung Landmark Jalan Braga no 129 Bandung

Pameran yang bekerjasama dengan Pemprov Jabar dan didukung oleh Pemkot Bandung ini akan berlangsung mulai dari pukul 09.00-12.00 wib. Para pengunjung bisa masuk ke tempat pameran tanpa dikenai biaya masuk alias gratis.

Menurut Manajer UGM Press, Dr. I Wayan Mustika, S.T., M.Eng. hadirnya UGM Press di Bandung kali ini pada event Pesta Buku Bandung yakni memberikan bacaan yang baik dengan buku berkualitas yang terjangkau harganya.

Silakan para penikmat buku di Banding bisa mengnjungi stan UGM Press ( nomor 53–54). Satu-satunya penerbit dari universitas yang berasal dari luar Provinsi Jawa Barat ini memiliki diskon spesial bagi pembeli. 100 pembeli pertama akan mendapatkan suvenir menarik, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku di stan. ayoo! (*)

lebih lengkap lihat :

http://ugmpress.ugm.ac.id/id/agenda/read/ugm-press-kembali-hadir-di-pesta-buku-bandung-april-2019

Diposkan pada pameran buku

Mampir Sebentar ke Pameran Buku KOMPAS Jogja 2019

Setelah membaca sebuah pengumuman adanya pameran buku Kumur Kumur Buku KOMPAS Jogja 2019,tergerak hati untuk berkunjung ke Bentara Budaya. Tempat ini berada di satu lingkungan dengan kantor KOMPAS Jogja.

Hanya memiliki waktu sekitar 30 menit sebelum kembali ke tugas rutin , resensibukupilihan.com segera beredar ke Bentara Budaya. Ternyata memang sudah ada beberapa peminat buku yang berada di sana. Mereka melihat-lihat tumpukan buku yang telah dibedakan berdasar diskon dan harga. Sebatas pengamatan resensibukupilihan.com , buku-buku itu bukan edisi baru.

Terdapat buku seharga Rp. 10.000,-. Tak heran sudah tampak beberapa pengunjung yang menenteng berbagai macam buku untuk dibeli. Seakan mereka sudah memiliki keyakinan bahwa buku-buku yang mereka  beli memiliki nilai yang lebih besar daripada uang yang mereka keluarkan. Adapun buku-buku yang ada di pameran itu mulai dari novel, biografi dll.

Pameran ini hanya berlangsung singkat yakni mulai hari ini 1 April hingga 3 April 2019. Tak ada salahnya, jika memang ingin menambah koleksi dan pengetahuan, segera saja kesana.

Diposkan pada pameran buku

Empat Buku UGM Press dipamerkan di London Book Fair (LBF) 2019

foto : UGM Press


Satu lagi hal yang membanggakan dari UGM Press yakni partispasi mereka dalam pameran buku internasional yakni London Book Fair. Pameran ini berlangsung pada tanggal 12-14 Maret 2019.

Dilansir dari ugmpress.ugm.ac.id,  UGM Press mengirimkan 4 buku ke pameran ini. Menurut Manajer UGM Press, DR I Wayan Mustika (20/3), UGM Press mengirimkan 4 buku ke pameran ini baik yang berbahasa Inggris dan Indonesia. Kedepannya, ia ingin mengirimkan lebih banyak buku lagi.

Adapun buku-buku yang dikirim adalah Ecotourism Destination in Archipelago Countries ( Muhammad Baiquni, Janianton Damanik, dan Erda Rindrasih),  Sustainability and Crisis at The Village: Agroforestry in West Java Indonesia (Kosuke Mizuno dan Siti Sugiah Mugniesyah –Editor) Ekranisasi Awal: Bringing Novels to The Silver Screen in The Dutch East Indies  ( Christopher A. Woodrich); dan 50 Years of Amity and Enmity: The Politics of ASEAN Cooperation karya (Poppy S. Winanti dan Muhammad Rum-Editor)

foto : UGM Press

Wayan menambahkan bahwa kehadiran Indonesia sebagai Market Focus LBF 2019 yang diprakarsai dan didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Komite Buku Nasional, serta Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) ini untuk mempromosikan dan memasarkan buku-buku ke pasar dunia. UGM Press dan AUP Press berkontribusi menghadirkan keempat buku dan katalog buku dari masing-masing penerbit di stan APPTI.

Sementara itu, Kepala Badan Penerbit dan Publikasi UGM, Dr  Widodo, menyampaikan bahwa ini adalah momentum yang sangat baik untuk terus meningkatkan posisi perbukuan dan buku karya UGM Press sebagai academic publisher di kancah dunia. (*)

Sumber :

http://ugmpress.ugm.ac.id/id/agenda/read/buku-ugm-press-di-london-book-fair-2019

Diposkan pada novel, Woman and The Book

Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.”

@ertaardheana

(dok.pri)

Jika cerita pada buku ini yang ditulis oleh Ahmad Tohari berkisar pada cerita kisah hidup Lasi tentang percintaannya, mungkin telah banyak tema seperti itu. Namun jika sudah terkait dengan kehidupan politik termasuk intrik-intriknya, buku yang berjudul “ Bekisar Merah” ini memiliki nilai lebih. Bahkan nilai ini mampu meyedot perhatian pembaca untuk meneruskannya hingga halaman akhir.

“ Jalan ceritanya, tidak romantis-romantis banget..,” komentar Erta Ardheana yang pernah mengulas tentang buku ini saat masih kuliah. Alumni jurusan Sastra Indonesia dari salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di yogyakarta ini meneruskan pendapatnya bahwa ketertarikannya pada buku ini adalah sentilannya pada gaya hidup dan intrik politik oknum-oknum di lingkaran kekuasaan. 

Ahmad Tohari, sastrawan yang lahir di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas , telah merunutkan cerita hidup seorang Lasiyah dari istri seorang penderes kelapa menjadi pihak yang terseret intrik politik.Pesona Lasi yang memiliki keturunan darah Jepang, pelan namun pasti membawanya kepada perangkap bisnis berahi tingkat tinggi bagi oknum-oknum yakni Handarbeni dan Bambung, yang ternyata memiliki akses dan pengaruh besar  kepada para petinggi negara.

Hidupnya bisnis berahi itu tumbuh dan berkembang karena adanya permintaan. Bambung, Handarbeni dan Lanting adalah tokoh-tokoh disini yang menjadikan Lasi adalah “pujaan” mereka. Tarik ulur kepentingan diantara mereka berputar pada jabatan dan uang. Terlebih bagi Bambung dan Handarbeni, Lasi adalah penambah prestise saat mereka bertemu dengan banyak tokoh. Orang-orang seusia Bambung dan Handarbeni ternyata membutuhkan sosok Lasi sebagai pemberi kabar tidak langsung bahwa mereka berdua masih lelaki sejati.

Lasi yang sebelumnya hidup di desa, ternyata menikmati kemewahan yang ia dapatkan. Hanya saja ,batinnya tersiksa saat menyadari bahwa ia tak lain adalah obyek yang bisa dibarterkan. Ia merasa buntu untuk mendapatkan jalan keluar. Bu Lanting benar-benar menjaga obyek tambang duitnya itu sehingga Lasi harus menjauh dalam ketakutan. Lasi semakin lama , semakin paham sebenarnya siapa orang-orang yang selama ini berada disekitarnya.

Perjumpaannya dengan Kanjat disatu sisi membuat Lasi bahagia. Namun pada kenyataannya, Kanjat tak berdaya di hadapkan dengan tembok kekuasaan Bambung dan “menyerahkan” Lasi.  Rumit, politis, dan berliku.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh.

(Erta Ardheana, 2019)

“Itulah kekuatan Ahmad Tohari. Ia berhasil menampilkan tokoh-tokoh yang kuat karakternya yang berlatar kondisi sosial yang terjadi di saat itu,” jelas Erta. Kehidupan para penyadap kelapa di Karangsoga, kondisi sosial ekonomi mereka memperlihatkan kondisi kaum marjinal. Disisi lain, Ahmad Tohari menunjukkan suatu kondisi sosial ekonomi kaum elit yang ternyata mampu mempengaruhi kehidupan orang lainnya. “ Kejadian yang dialami Lasi merepresentasikan hubungan-hubungan tadi,”ujarnya.

Saat ditanya kesan Erta tentang Lasi, Erta berpendapat bahwa Lasi merupakan sosok yang lugu, nekat, gampang terbawa pengaruh. “ Kecantikan yang ia miliki tidak bisa mempertahankan dirinya dari seretan pengaruh Bu Lanting, “ tambah gadis yang menyukai travelling dan makan ini.

Kecantikan bukan semata tentang raut, badan dan fashion. Namun harusnya juga memiliki kualitas  pemikiran dan sikap. Orang-orang seperti Lasi akan mudah termakan pengaruh. “ Lasi adalah  Janda cantik yang  terseret ke  lingkaran kekuasaan.”

Lanjutkan membaca “Erta Ardheana: “ ..janda cantik yang terseret ke lingkaran kekuasaan.””
Diposkan pada tokoh literasi

Dwi Cipta: “Memasak itu passion ku”

Apa ada hubungan antara memasak dan menulis novel?

Beragam dan panjang lebar jawaban yang bisa disampaikan. Namun lebih meyakinkan jika ditanyakan langsung kepada salah satu novelis ini, Dwi Cipta. Lelaki yang dulu kesehariannya menatapi laptop, atau berbincang panjang dengan teman-temannya di warung kopi, kini sibuk meramu menu-menu unggulannya  seperti gulai gurame, gulai kepala ikan, dan asem-asem daging sapi.

@dwicipta1977

Instagramnya @dwicipta1977 pun menginfo hal senada. Dahulu isinya adalah pengumuman workshop menulis, namun sekarang yang terpampang adalah gambar yang menceritakan tentang menu,suasana pelanggan menikmati sajiannya, dan testimoni.

Kemana ceritanya tentang dunia literasi seperti dulu?

“ Memasak itu passion ku,” katanya di suatu waktu dulu di sebuah warung kopi. Ia sudah memiliki sederet rencana untuk menjadikannya kenyataan, sebuah restoran.  “Sementara ini, restorannya berada di rumah ,” katanya saat ditemui resensibukupilihan.com di sebuah kantor di jalan sudirman Yogyakarta.Ia mengantarakan sajian gulai gurami

Para pengunjung juga telah berdatangan ke rumahnya yang  berada di jalan wonosari. Mereka menikmati langsung sajian yang disediakan. Setiap harinya, Cipta membuat menu yang berbeda. Para pelanggan harus cek IG dahulu.

Untuk layanan delivery, Cipta saat ini masih bisa melakukannya. “Namun jangan terlalu jauh ya,” katanya sambil tertawa. Ia pun bercerita , bahwa hal yang merepotkan jika ia harus mengantar ke berbagai tempat  yang berbeda arah dalam suatu waktu misal makan siang. Namun demi pelanggan, ia akan tetap jalani.

Kira-kira apa resepnya yang membuat tertarik banyak pelanggan?

“ Aku punya idealisme rasa disini. Susah dijelaskan, harus dirasakan”  jelasnya.

Lha terus novelnya kapan terbit lagi?

“ Beberapa bulan lagi. Tinggal edit saja. Namun bukan novel. Tapi kumpulan surat  tentang proses pembuatan novel Darah Muda.” ucapanya. Bahkan, sedikit bocoran, Cipta akan menerbitkan novel berjudul Renjana.

Ooo, begitu.

Diposkan pada keluarga, manajemen, Woman and The Book

Giacinta Rezki Palupi : “Godaannya banyak…”

Saat ditanya, tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

“Tapi bagaimana lagi daripada tidak dipakai? Kita harus tegas!,” katanya lagi mantap.

Ya, apa yang perempuan berbintang Capicorn ini sampaikan ada hubungannnya dengan buku yang telah selesai ia baca.  Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Bermula dari pengalaman hidupnya, si penulis yakni Fumio Sasaki  sebagai seorang pekerja yang  mudah merasa tertekan, mengalami penurunan rasa percaya diri, dan memiliki motivasi yang lemah. Hingga disuatu saat, ia bertekad untuk mengubah kesuntukan hidupnya dengan mulai membuang barang-barang yang selama ini menyesaki apartemennya.

Saat ditanya tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

Manfaat dari aksi “buang” barang-barang itu ternyata berdampak pada kualitas hidupnya.  Ia memang mengosongkan banyak barang, namun sebagai gantinya ia dipenuhi oleh rasa kebebasan.  Ia terbebas dari rasa “tamak” akan barang-barang yang ternyata tidak terlalu penting dibutuhkan oleh Fumio Sasaki.  

Sediktnya barang membawa ia ke dalam produktifitas kerja , dan cara pandang yang lebih positif. Fumio Sasaki tidak perlu menjadi  orang yang harus memiliki banyak barang agar masuk ke dalam status orang yang sukses. Justru, sekarang ini ia menemukan kebahagiaan dengan kondisi minimalis nya sekarang  (bab 4   : 12 hal yang berubah sejak saya berpisah dari barang-barang kepemilikan ).

Kebahagiaan timbul dari waktu yang berkualitas bukan dari barang yang berkualitas (Fumio Sasaki)

Fumio mengurai  dengan runtut tentang mengapa kita hendaknya tidak terikat pada barang. Justru keberadaan barang yang harus menambah kualitas hidup kita, bukan sebaliknya.  Fumio memberi banyak tips bagaimana kita bisa memulai langkah minimalis.Ia juga memberi foto-foto yang menunjukkan suasana maksimal dan minimalis. Walau buku terjemahan, namun hasil terjemahannya cukup lancar. Pilihan kata-katanya mudah dimengerti dan tidak membuat kening berkerut. Ini tentu saja sangat berguna bagi pembaca.

Cinta pun setuju bahwa tips yang dibagikan oleh Fumio Sasaki dalam buku ini bermanfaat. Langkah minimalis memberi  kita referensi  membedakan mana yang sebenarnya merupakan kebutuhan atau keinginan.  Bila kita telah bisa konsisten menjalankan minimalisme, kualitas hidup akan meningkat. Pada akhirnya, rasa kebebasan dan bahagia akan bisa dirasakan.

Hidup berkualitas tidak hanya untuk kenyamanan bersama diri sendiri.
Minimalisme memberi kesempatan kita bertemu lebih banyak orang.
@ghealove
(Giacinta Rezki Palupi)

Saat ditanya apakah Cinta sudah melakukan langkah minimalis, perempuan yang hobi nge-gym dan make up  ini menjelaskan bahwa ia sudah mempraktikannya sebelum membaca buku tulisan Fumio Sasaki.” Belum seperfect  seperti di buku ini,” jelasnya. Diantara kesibukannya, ia hanya memiliki waktu di masa weekend untuk bersih-bersih.

“ Godaannya banyak untuk menyingkirkan barang,” akunya. Cinta punya usul, jika ingin  buang barang yang bermanfaat yakni jual saja  lewat aplikasi jual beli online.” Selamat mencoba!”.(*)

Judul Buku :
Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia

Cetakan Kedua : Januari 2019