Diposkan pada Anak, keluarga

Ingin membangun sebuah lembaga PAUD? Simak informasi dari praktisi ini.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah salah satu jenjang yang cukup populer di waktu ini. Jenjang sebelum Sekolah Dasar ini menjamur di berbagai belahan daerah di Indonesia. Dengan berbagai kekhasan masing-masing, perkembangan PAUD menarik minat banyak orang tua untuk memasukkan buah hati mereka ke lembaga ini.

Kemunculan minat tentang PAUD bukan saja datang dari orang tua. Dari orang-orang yang memandangnya sebagai sebuah peluang bisnis muncul  juga banyak.  Mereka membangun PAUD  sebagai bisnis yang berdasar dari kebutuhan pendidikan. Dunia kampus dan pemerintah juga merespon perkembangan PAUD dengan kontribusi masing-masing.

Bagi yang ingin mendirikan PAUD, perlu menyadari bahwa mengelola PAUD bukan saja bersandar kepada kecintaan pada pendidikan anak usia dini. Hal ini  harus diikuti  manajemen yang tertata baik dan fleksibel.  Sebab bila tidak, akan muncul  ragam masalah yang membelit.  Untuk mengurangi resiko tersebut,  ada baiknya mengumpulkan pendapat dari para praktisi yang  bergerak  dalam perkembangan dunia PAUD.

Buku ini  berjudul Bijak Mengelola PAUD.  Jika disimak lebih lanjut,  penulis buku ini yakni Heriyanto S.Pd.,M.Si memaparkan tentang manajemen pengembangan disertai dengan kasus-kasus dan penanganannya. Pemaparan  lugas dan tidak berbelit-belit,mempermudah pembaca memahami  buku ini. Bahkan, pembaca yang baru mengenal PAUD ataupun para pemerhati dan praktisi dunia PAUD sepertinya tidak akan  menemui kesulitan pemahaman yang berarti.

Penulis sebagai seorang praktisi telah berpengalaman mengelola lembaga PAUD. Pengalamannya ia bagi dalam 5 bab yakni Pelayanan Prima, Sumber Daya Manuasi Prima, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Prima, Sarana dan Prasarana Prima, dan Lulusan Prima.  Hadirnya 5 hal ini setidaknya memberikan informasi penting bagaimana  sebuah PAUD  bisa berkembang.  Melihat pentingnya informasi yang ada, bukan hal yang tidak mungkin jika setelah membaca buku ini, para pembaca yang baru tentang PAUD akan termotivasi aktif dalam dunia pendidikan PAUD dan  pengembangannya.

Buku yang  diterbitkan oleh ESENSI (divisi dari penerbit Erlangga) ini tidaklah tebal secara fisik, namun berbobot secara  isi karena penulisnya adalah praktisi pendidikan dan manajemen PAUD yang telah mendapatkan beberapa penghargaan. (*)

Iklan
Diposkan pada keluarga, Tak Berkategori

Teringat kepada “SARINAH” saat hari Kartini..

(Mumpung masih dekat hari perayaan paskah, resensibukupilihan.com mengucapkan selamat paskah bagi pembaca yang merayakan….)

Selain hari paskah ,di tahun ini,pada tanggal 21 April bersamaan dengan peringatan hari Kartini. Setiap tahunnya, Hari Kartini adalah salah satu hari libur nasional. Pada tanggal dan bulan kelahiran Kartini  itu, kita diajak untuk mengenang jasa RA Kartini.  Pahlawan ini telah berjuang bagi kaumnya di masanya. Kartini terpesona dengan kondisi perempuan eropa yang memiliki kesempatan belajar sehingga majulah pemikiran mereka.   Ia membuat sekolah bagi perempuan  dan mengajarkan berbagai ketrampilan mulai membaca, menulis dan lain-lainnya. Ia ingin membantu mengangkat derajat kaumnya.

Pada perayaan kartini tahun ini, kami teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh Sukarno,Presiden pertama Indonesia. Diantara kisah perjuangan dan pribadinya, melalui bukunya berjudul Sarinah, Sukarno menancapkan pemikirannya bahwa  laki-laki dan perempuan harus duduk bersama memecahkan permasalahan tentang perempuan dalam ruang Republik Indonesia.

“……Sekali lagi soal perempuan s  e l u r u h n y a,- dan bukan hanya mitsalnya soal tabir atau lain-lain soal yang ketjil saja!Soal perempuan s e l u r u h n y a, posisi perempuan s e l u r u h n y a di dalam masyarakat,- itu;ah yan  harus mendapat perhatian sentral,  itulah yang harus kita fikirkan dan pecahkan, agar supaja posisi perempuan didalam Republik Indonesia bisa kita susun sesempurna-sempurnanja.”

(Sarinah, hal 13-14)

Salah satu kekaguman kami  pada buku ini yakni referensi kuat yang dimiliki oleh Sukarno.  Ia mampu mencuplik dan mengulas berbagai referensi yang menyoroti tentang  perempuan dan gerakan-gerakan yang mengusung isu perempuan. Sukarno juga membangun argumennya mengapa ia menolak ataupun menyetujui sebuah pendapat.  Hal ini bisa kita simak dari bab  I (Soal-Perempuan)  ,II (Laki – Laki dan Perempuan), III (Dari Goa Kekota), IV ( Matriarchat dan Patriarchat), V (Wanita Bergerak),  VI (Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia).

Buku yang judulnya diambil dari pengasuh Sukarno ini, jelas bukan sembarang buku. Selain menyentuh sisi sejarah , ilmiah, buku ini kira-kira menggambarkan “pedoman” bagaimana para perempuan bisa bekerjasama dengan laki-laki menuju sebuah keadaan masyarakat  yang diinginkan oleh Sukarno.   

Apa yang dilakukan oleh Kartini dan apa yang telah ditulis oleh  Sukarno, setidaknya menggambarkan titik-tiitk perhatian dan perjuangan kepada perempuan. Apa yang telah mereka perjuangkan bisa menjadi salah satu refleksi tentang perempuan di masa kini.  

Judul Buku : Sarinah

                        Kewajiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia

Penulis : Dr Ir Sukarno

Halaman : 329

Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno 1963

Cetakan  : ketiga

Diposkan pada keluarga, manajemen, Woman and The Book

Giacinta Rezki Palupi : “Godaannya banyak…”

Saat ditanya, tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

“Tapi bagaimana lagi daripada tidak dipakai? Kita harus tegas!,” katanya lagi mantap.

Ya, apa yang perempuan berbintang Capicorn ini sampaikan ada hubungannnya dengan buku yang telah selesai ia baca.  Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Bermula dari pengalaman hidupnya, si penulis yakni Fumio Sasaki  sebagai seorang pekerja yang  mudah merasa tertekan, mengalami penurunan rasa percaya diri, dan memiliki motivasi yang lemah. Hingga disuatu saat, ia bertekad untuk mengubah kesuntukan hidupnya dengan mulai membuang barang-barang yang selama ini menyesaki apartemennya.

Saat ditanya tentang apa susahnya menyeleksi barang –barang yang ia miliki di rumah, Giacinta Rezki Palupi menjawab pendek, “Kenangannya,”.

Manfaat dari aksi “buang” barang-barang itu ternyata berdampak pada kualitas hidupnya.  Ia memang mengosongkan banyak barang, namun sebagai gantinya ia dipenuhi oleh rasa kebebasan.  Ia terbebas dari rasa “tamak” akan barang-barang yang ternyata tidak terlalu penting dibutuhkan oleh Fumio Sasaki.  

Sediktnya barang membawa ia ke dalam produktifitas kerja , dan cara pandang yang lebih positif. Fumio Sasaki tidak perlu menjadi  orang yang harus memiliki banyak barang agar masuk ke dalam status orang yang sukses. Justru, sekarang ini ia menemukan kebahagiaan dengan kondisi minimalis nya sekarang  (bab 4   : 12 hal yang berubah sejak saya berpisah dari barang-barang kepemilikan ).

Kebahagiaan timbul dari waktu yang berkualitas bukan dari barang yang berkualitas (Fumio Sasaki)

Fumio mengurai  dengan runtut tentang mengapa kita hendaknya tidak terikat pada barang. Justru keberadaan barang yang harus menambah kualitas hidup kita, bukan sebaliknya.  Fumio memberi banyak tips bagaimana kita bisa memulai langkah minimalis.Ia juga memberi foto-foto yang menunjukkan suasana maksimal dan minimalis. Walau buku terjemahan, namun hasil terjemahannya cukup lancar. Pilihan kata-katanya mudah dimengerti dan tidak membuat kening berkerut. Ini tentu saja sangat berguna bagi pembaca.

Cinta pun setuju bahwa tips yang dibagikan oleh Fumio Sasaki dalam buku ini bermanfaat. Langkah minimalis memberi  kita referensi  membedakan mana yang sebenarnya merupakan kebutuhan atau keinginan.  Bila kita telah bisa konsisten menjalankan minimalisme, kualitas hidup akan meningkat. Pada akhirnya, rasa kebebasan dan bahagia akan bisa dirasakan.

Hidup berkualitas tidak hanya untuk kenyamanan bersama diri sendiri.
Minimalisme memberi kesempatan kita bertemu lebih banyak orang.
@ghealove
(Giacinta Rezki Palupi)

Saat ditanya apakah Cinta sudah melakukan langkah minimalis, perempuan yang hobi nge-gym dan make up  ini menjelaskan bahwa ia sudah mempraktikannya sebelum membaca buku tulisan Fumio Sasaki.” Belum seperfect  seperti di buku ini,” jelasnya. Diantara kesibukannya, ia hanya memiliki waktu di masa weekend untuk bersih-bersih.

“ Godaannya banyak untuk menyingkirkan barang,” akunya. Cinta punya usul, jika ingin  buang barang yang bermanfaat yakni jual saja  lewat aplikasi jual beli online.” Selamat mencoba!”.(*)

Judul Buku :
Goodbye Things. Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia

Cetakan Kedua : Januari 2019

Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Sularsih Condro Rini: “..Belajar matematika bareng anak itu memang enaknya sambil bermain ..”

@rorocondrokirono

Mendengar kata matematika kita akan teringat  berbagai respon dari orang per orang. Ada yang merasa takut, seram, biasa saja, atau bahkan senang.   Senang?

 Bagi sebagian orang akan mempertanyakan kata “senang” ini. “Bagaimana mungkin akan merasa senang, melihat itung-itungannya saja sudah pusing”, kalimat ini  bisa jadi mewakili pertanyaan mereka. Jika bidang matematika adalah ilmu yang netral,maka apa yang salah dengan matematika?

 Bisa jadi, salah satu penyebabnya yakni pengajarannya yang tidak menarik. Pelajaran matematika sebenarnya bukan saja dipelajari  saat di  sekolah. Saat dirumah pun bisa, dan orang tua lah yang menjadi guru bagi sang anak. Jadi, orang tua memiliki waktu yang berkualitas dengan sang anak, merawat kedekatan sekaligus menambah pengetahuan sang anak.

“Untuk bisa melakukan itu (mengajarkan matematika), orang tua membutuhkan referensi agar apa yang ia ajarkan memiliki tujuan jelas”
( Sularsih Condro Rini, 2018)

 “Untuk bisa melakukan itu, orang tua membutuhkan referensi agar apa yang ia ajarkan memiliki tujuan jelas,” kata Sularsih Condro Rini, mahasiswi Psikologi disebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Menurut Condro, referensi adalah hal yang penting karena bisa memberi petunjuk tentang kiat-kiat dan batas-batas yang bisa orang tua ajarkan sesuai umur

Salah satu referensi bagus yang layak kita baca yakni Montessori  di Rumah: 55 Kegiatan Matematika. Buku yang ditulis oleh Elvin Lim Kusumo (Founder of IndonesiaMontessori.com) ini,  berisi kiat-kiat orang tua mendampingi sang anak berusia 3-8 tahun saat  mempelajari tentang matematika dengan menggunakan peralatan yang relatif  mudah didapat setiap harinya. “ Buku ini sangat aplikatif. Setiap kiat diberi gambar-gambar berwarna, jadi mempermudah kita memahaminya,”tambah perempuan berambut panjang ini.

Elvin Lim Kusumo  juga memberi gambaran kepada orang tua tentang tahap-tahap fase anak mulai dari usia di bawah 3 tahun, enam periode sensitif dan tabel perkembangan anak usia 6-7 tahun. Pada setiap halaman yang berisi kiat, Elvin Lim Kusumo menuliskan tip dan note yang memberi tuntunan bagaimana memaksimalkan kiat tadi saat dikerjakan.

Buku yang diterbitkan oleh Esensi (Erlangga Group) ini adalah lanjutan dari kesuksesan buku pertama yakni Montessori di Rumah: 55 Kegiatan Ketrampilan Hidup. Elvin Lim Kusumo menuliskan karyanya ini berdasar pengalaman yang ia miiki,kemudian ia kombinasikan dengan metode Montessori. Ia berharap bahwa buku ini memberi sumbangan informasi yang mempermudah pembaca untuk menyiapkan  dan menjelaskan konsep matematika kepada anak di sekolah dan rumah.

Saat ditanya kiat mana yang paling ia sukai, Condro menunjuk halaman 116. Pada halaman itu tertulis Mengenal Dasar Pecahan Menggunakan Pisang.  Tujuan langsung dari kegiatan ini adalah mengenalkan konsep dasar pecahan. Orang tua mendorong sang anak untuk merasakan sendiri menemukan bilangan pecahan. Tampak seperti bermain, namun bisa membekas dalam memori anak. “ Saya pikir ini kreatif”,tukas Condro.

“Disini kekuatan buku ini. Belajar matematika bareng anak itu memang enaknya sambil bermain. Lebih mudah diingat dan menarik perhatian anak” kata Condro lagi.

Buku ini selain menjadi referensi orang tua, bisa juga direkomendasikan bagi siapa saja khususnya orang-orang yang profesinya berkaitan dengan pendidikan anak.

Judul Buku          : Montessori di Rumah : 55 Kegiatan Matematika

Penulis                 : Elvina Lim Kusumo

Penerbit              : Esensi (divisi Penerbit Erlangga)

Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Silvia Rina Primasari : “ Suatu hari,bunga yang cantik pasti mekar.”

@silviarinap

Itu sebuah kutipan indah yang dipilih oleh Silvia Rina Primasari. Perempuan yang akrab dipanggil Silvi ini mendapati kutipan  tadi  dari kisah Hans Christian  Andersen, seorang penulis dongeng kenamaan (2 April 1805-4 Agutus 1875). Hans Christian Andersen memiliki seorang ibu yang bernama Anne Marie. Sang Ibu adalah sosok yang selalu mempercayai bahwa Andersen kecil adalah  anak yang istimewa.

Andersen adalah anak yang suka berimajinasi kemudian menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Saat ia menunjukkan hasil tulisannya kepada para ahli, mereka memberikan pendapat yang meruntuhkan moral Andersen. Saat-saat seperti itulah Anne Marie tetap membuktikan keyakinannya  bahwa Andersen adalah anak yang istimewa dan membangun rasa percaya diri anaknya.

“ Ini hanya satu cerita saja di buku ini,” kata Silvi. Ia menujukkan buku yang sampulnya didominasi warna putih.  Buku yang berjudul It’s Okay, You’re Just Different ini ditulis oleh  Kim Doo Eung. Silvi menambahkan bahwa buku ini menyanjung peran ibu yang memang memiliki peran besar dalam kesuksesan orang-orang hebat seperti Albert Einstein, Bill Gates, Nelson Mandela, Nehru dll. “Biasanya,orang-orang besar ini yang lebih sering kita ketahui prestasinya. Namun sangat sedikit kita tahu tentang peran ibu mereka,” jelas Silvi.

“Ibu adalah sosok yang hebat karena dari merekalah orang-orang akan menjadi hebat,” (Silvi,2018)

https://resensibukupilihan.com/2016/12/19/anak-terlambat-bicara-jangan-diratapi-melainkan-dampingi/

Suatu saat iamengajak Andersen yang sedang galau ke sebuah kebun bunganya. Ia menuturkanbahwa Andersen layaknya tumbuhan kecil yang belum kelihatan indahnya. Namunoleh proses waktu, bunga tersebut akan mekar dan menujukkan kecantikannya.Kata-kata seperti inilah yang menyemangati Andersen hingga di kemudian hari iamampu membuat cerita  yang dikenal duniaseperti  Putri Duyung dan Ratu Salju.

Dalam buku ini, kisah masing-masing ibu walaupun tidak sama persis kisahnya namun memiliki persamaan bahwa seorang ibu adalah orang yang paling memahami anaknya. Mereka  tetap teguh pendirian tentang anaknya saat mendapat cemoohan dan ketidakpercayaan dari  orang lainnya. Tutur kata dan sikapnya sangat membantu rasa tenang sang anak yang merasa mendapat sandaran.

“ Saya sudah baca . Buku ini terasa ringan  dibaca. Gaya bahasanya tidaklah rumit. Walau isi buku ini adalah terjemahan, namun terasa sederhana dan dekat di hati. Sehingga bukan saja inspirasi yang didapat, namun juga  menyegarkan kembali rasa hormat kepada ibu kita.” Kata Silvi lagi.

Judul Buku          : It’s Okay, You’re Just Different

Penulis                 : Kim Doo Eung

Penerjemah       : Amelia Burhan

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama, 2018

Diposkan pada Anak, keluarga, Woman and The Book

Lusi : “Membuatkan menu yang disukai anak itu, menyenangkan!”

img-20170220-wa0012Ditemui saat bersantai di tempat kerjanya, Lusi Sariningtyas sedang menyimak sebuah buku yang  tampaknya menarik minatnya. Saat didekati, ternyata buku yang dibacanya  tentang 50 resep sajian enak isi buah. “ Anakku kurang suka buah yang polos,” ceritanya. Ia kebingungan bagaimana membuat sang buah hati mau mengkonsumsi banyak buah karena ia tahu bahwa buah sangat dibutuhkan tubuh. Buah memiliki kandungan  vitamin dan mineral yang baik, serta antioksidan yang mampu menghindarkan dari  berbagai penyakit

Perempuan berbintang Leo ini mengatakan bahwa anaknya akan mau  makan buah bila sudah dicampur dengan bahan yang lain,sehingga Lusi butuh referensi tambahan untuk menyajikan menu berbahan dasar buah.

“ Buku ini memberi referensi yang banyak,” katanya lagi sambil membuka-buka halaman buku yang berjudul Anak Sehat Gemar Makan Buah, tulisan dari Tuti Soenardi. Menurut Lusi, gambar primg-20170220-wa0006oduk yang jelas memudahkan ia mendapat gambaran apakah bentuk hasil jadinya akan disukai anaknya atau tidak.”Selain rasa, tekstur nya juga harus bagus sehingga anakku akan suka,” jelasnya.

Saat sampai pada halaman 94, tangannya berhenti membuka halaman. Ia mengamati gambar pada halaman itu. “ Sepertinya ini bisa nih, buat di weekend” katanya lagi dengan ceria. Ternyata yang ia tuju adalah menu pudding cokelat cocktail buah. Tekstur pudding cokelat tampaknya menarik dan ia yakin anaknya akan menyukainya. Sambil tersenyum, ia berkata ,” Membuatkan menu yang disukai anak itu,menyenangkan!”

Owww, ibu yang baik.

 

img-20170220-wa0015

Judul Buku                          : 50 Resep Ssajian Enak Isi Buah

                                                  Anak Sehat Gemar Makan Buah

Penulis                                 : Tuti Soenardi

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Diposkan pada keluarga, Woman and The Book

Astri: “Selalu Muncul Rasa Sayang , Jadi Gak Rela Jika Dibuang”

3

Salah satu hal yang paling melelahkan bagi perempuan cantik ini adalah beres-beres rumah alias merapikan, menyeleksi, dan membuang barang-barang yang sudah rusak ataupun tidak diperlukan lagi. Namun tak berapa lama, pastilah ditemukan barang yang tergeletak bukan pada tempatnya. Begitulah seterusnya hingga nanti ia memiliki waktu untuk beres-beres lagi. Hal ini secara sadar atau tidak, sudah menjadi pola yang terbiasa. “Sering merasa lelah jika sebentar-sebentar harus merapikan lagi. Makanya kalau senggang baru bisa nyicil beres-beres” katanya.

Di awal  membaca karya Marie Kondo, Astri menemukan beberapa hal yang baru tentang seni  beres-beres. Salah satu hal yang menarik adalah ungkapan ini “Mending Merapikan Sekaligus Daripada Sedikit-Sedikit” (hal 4).  Ini yang membuatnya ingin meneruskan membaca buku hingga habis. Di halaman berikutnya, Marie Kondo,seorang konsultan terkenal di Jepang untuk urusan menyulap rumah yang berantakan menjadi tempat tinggal yang nyaman, menuliskan beberapa kebiasaan umum lainnya yang menurutnya bisa menghambat tujuan  beres-beres rumah yakni bisa memperbaiki kualitas hidup kita.

2

Saat ditanya, hal apa yang paling susah waktu beres-beres, perempuan yang fasih berbahasa inggris ini mengatakan bahwa ia susah sekali membuang barang, terlebih yang masih tampak  bagus.” Selalu muncul rasa sayang , jadi gak rela jika dibuang”,katanya lagi.

Menurut Marie Kondo,terpengaruh oleh rasa sayang  saat menyeleksi barang, bisa membuat  usaha kita beres-beres terancam gagal. Marie Kondo punya pendapat unik yang  bisa membantu  yakni  jangan memulai dari barang-barang kenangan jika tidak mau gagal.(hal 37).

Ketika ditanya lagi mengenai komentarnya tentang buku ini, lulusan S2 Komunikasi konsentrasi Media and Communication Studies  ini tersenyum manis sambil berujar, “ Tulisan pada buku ini sangat mudah dimengerti. Bahasanya sederhana. Tapi ilmunya sangat besar bagi kita semua”.

 

Judul Buku          : The Life-Changing Magic of Tidying Up

Penulis                  : Marie Kondo

Penerbit               : Penerbit Bentang,2016

Halaman               : xviii + 206